Amal Jariyah Yang Tidak Terputus: Kaderisasi Umat

Suaramuslim.net – Dalam beberapa kesempatan, Saya selalu mendorong para pengurus masjid untuk membangun rumah tahfiz di sekitaran masjid. Tidak perlu membangun dari lahan kosong, tidak perlu membangun dari awal, cukup menggunakan rumah kontrakan warga. Maka masjid akan memiliki Rumah Tahfiz Satelit.

Mari berhitung sederhana.

Di sebuah komplek terdapat sebuah masjid besar. Di komplek tersebut, terdapat banyak rumah dikontrakkan. Untuk rumah dengan 3 kamar + 1 kamar asisten rumah tangga rata-rata 25 juta rupiah per tahun. Cukup untuk 12 santri penghafal Al Quran. Dalam 1 kamar bisa muat 4 santri, 2 kasur tingkat.

Maka hitungan anggaran per tahunnya menjadi mudah:

– Kontrak rumah = 25 juta
– 12 anak x 3 makan x 365 x 10.000 = 43,8 juta
– 1 pembina asrama x 12 x 2,5 juta = 30 juta
– 1 tagihan bulanan x 12 x 2 juta = 24 juta
– 1 ustaz pembimbing x 12 x 3,5 juta = 42 juta
– 12 beasiswa x 250rb x 12 bulan = 36 juta

Total anggaran yang dibutuhkan adalah Rp 200,8 juta per tahun. Bulatkan saja 200 juta. Hanya dengan 200 juta setahun, sebuah rumah tahfiz dengan 12 anak penghafal Al Quran dapat memiliki fasilitas belajar gratis, tempat tinggal, hingga makan selama 1 tahun.

200 juta ekuivalen dengan 1 juta x 200 jemaah. Maka 200 jemaah yang masing-masing berinfak 1 juta per tahun, dapat mencetak 12 penghafal Al Quran selama 3 tahun masa pembinaan. Sangat moderat.

Bayangkan jika setiap masjid menggerakkan rumah-rumah kosong di sekitarnya? Bayangkan jika setiap masjid dapat menggerakkan kepedulian jemaah akan pendidikan? Bayangkan hanya dengan 1 juta per tahun saja, 1 rumah tahfiz bisa berdiri tegak.

Baca Juga :  Dimana Adabmu Pada Gurumu?

Ini belum dihitung jika pemilik rumah mewakafkan fungsi rumah, lalu warga menopang bahan makanan untuk santri, belum lagi jika banyak jemaah yang mewakafkan waktunya untuk mengajar, tentu kebutuhan untuk membangun program rumah tahfiz per 1 tahunnya sangat murah.

Namun setidaknya kita memiliki gambaran sederhana:

– 1 rumah tahfidz
– 12 santri
– 1 kakak asrama + 1 pembina
– 10 juz per santri per 1 tahun
– 3x makan + beasiswa

Cukup 200 juta per tahun.

Wacana di atas bukanlah wacana sederhana. Mari kita bayangkan, jumlah masjid di Indonesia hampir mencapai 1 juta titik lebih. Anggaplah 20% nya memiliki lingkungan jemaah yang sehat dan mendukung, berarti ada 200.000 masjid sehat berdaya.

200.000 masjid, masing-masingnya membangun program 1 tumah tahfiz per tahun, berarti akan lahir 200.000 rumah tahfz satelit per tahun.

Jika 1 Rumah Tahfiz memiliki usia pembinaan 3 tahun, dan setiap tahunnya sebuah masjid meniatkan membuka angkatan santri, maka 1 masjid cukup membangun 3 titik rumah tahfiz yang dibuka bertahap dalam 3 tahun.

Lalu akan ada 3 Rumah Tahfiz untuk setiap 200.000 masjid. Berarti 600.000 Rumah Tahfiz Satelit aktif per tahun.

600.000 rumah tahfiz aktif, jika masing-masing mengelola 12 santri, maka akan terkelola 7,2 juta generasi Quran.

Mari kita bayangkan bersama, 7,2 juta santri penghafal Al Quran terkelola per tahun. Maka hal ini akan memberikan dampak positif pada banyak hal di negeri ini.

Baca Juga :  Kitab Kuning di Pesantren

1. Teringankannya beban keluarga dhuafa

Hari ini kita sering menjumpai, satu keluarga dengan ayah-ibu dan 4 anak, tinggal dalam sebuah rumah petak: 1 ruang serba guna, 1 kamar tidur. Kamu bisa membayangkan bagaimana tata kelola privasi antar anggota keluarga.

Dengan adanya rumah tahfiz, maka akan banyak generasi anak muslim yang bisa dikelola dengan baik. Salah satu beban dari keluarga dhuafa adalah beratnya biaya hidup dan pengelolaan anak, jika banyak lahir program Rumah Tahfiz Satelit, akan sangat banyak keluarga dhuafa yang bisa terbantu. Rantai kemiskinan dan kebodohan bisa diputus.

2. Solusi atas beban pendidikan generasi

Selain menyediakan infrastruktur bagi anak-anak para keluarga dhuafa, Rumah Tahfiz Satelit juga berfungsi sebagai wahana pendidikan generasi anak negeri.

Kita sama-sama mengetahui jumlah gedung sekolah yang tidak kompatibel dengan angkatan belajar. Dan kita juga sama-sama mengetahui tentang beratnya beban biaya sekolah lanjutan, apalagi perkuliahan.

Rumah Tahfiz Satelit bisa menjawab itu semua. 1 rumah tahfiz bertanggung jawab atas pendidikan 12 santri. Sekolahnya, kuliahnya, makannya, tempat tinggalnya dan lain-lain. Roda pendidikan generasi bisa selamat.

3. Semangat pembangunan bangsa dari arus bawah

Ketika kita berbicara tentang pengelolaan masyarakat, kita selalu bicara anggaran negara, kita selalu bicara APBN, kita selalu bicara APBD. Padahal kita sama-sama sadar bahwa anggaran negara terbatas, dan kita juga sama-sama paham bagaimana anggaran itu bekerja selama 73 tahun kita merdeka.

Ketika berbicara tentang jutaan angkatan sekolah yang tertinggal, mengapa kita berbicara anggaran negara? Padahal satu sama lain di antara kita bisa membantu menyekolahkan.

Baca Juga :  Pesantren dan Indonesia

Ketika berbicara tentang infrastruktur gedung sekolah, mengapa lagi kita harus berbicara tentang uang negara. Coba lihat berapa banyak rumah kosong yang dikontrakkan, berapa banyak titik masjid yang hanya digunakan shalat 5x sehari.

Dari 1 juta masjid, sangat mungkin 200 ribu masjid serius membangun program rumah tahfiz, sangat mungkin terbangun 600.000 rumah tahfiz, sangat mungkin 7,2 juta santri terkelola. Ini adalah kekuatan arus bawah yang semoga bisa terealisasi.

Dari umat, dikelola oleh masjid, dikembalikan dalam bentuk layanan kepada umat.

Tulisan di atas hanyalah sebuah gagasan, tapi inilah yang dibutuhkan negeri kita hari ini, kita adalah sekelompok anak bangsa yang kekurangan gagasan menghadapi segala masalah sosial yang ada.

Masjid-masjid kita hari ini memiliki saldo ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah. Apa yang menyebabkan saldo kas ini tidak bergerak? Rasanya bukan karena ketidakmauan para DKM untuk membelanjakan kas di jalan pelayanan, namun banyak masjid yang kehilangan gagasan program.

Rumah Tahfiz Satelit. Mari kita membangun pondokan santri di sekitaran masjid, di dalam area komplek perumahan kita hari ini. Bismillah.**

Risalah Masjid Cahaya
Sabtu, 12 Januari 2019

Penulis: Rendy Saputra*

*Ketua Jejaring Masjid Titik Cahaya
**Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.