Saat Bos Kecil Belajar Mandiri
Ilustrasi anak-anak (Ils: Cami/Dribbble)

Suaramuslim.net – Kemandirian anak tidak muncul dengan sendirinya, namun perlu sentuhan dari orang tua. Tujuannya tentu agar si anak mengerti apa yang bermanfaat bagi dirinya dan tidak menyusahkan  lingkungan sekitarnya.

Setiap orang tua tentu ingin anaknya menjadi dewasa dan dapat hidup mandiri, namun sayangnya hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi di zaman serba canggih ini kita selalu dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang dapat membuat kita terlena. Selain itu tidak sedikit orang tua karena ingin membuat anaknya “bahagia” selalu melayani anak mereka bak pangeran atau puteri raja.

Hal-hal sepele seperti menyiapkan kebutuhan sendiri seperti makan, minum, dan memakai pakaian, terkadang masih perlu bantuan orang tua atau asisten rumah tangga. Semua itu tidak salah, namun hal ini sebenarnya tidak selalu baik dalam proses mendidik tanggung jawab dan kemandirian mereka.

Berikut ini 4 langkah yang dapat orang tua lakukan dalam mengajari bos kecil (baca: anak) untuk belajar mandiri:

1. Membuat aturan jelas

Bila selalu memanjakan anak-anak, tentunya bos kecil ini akan kerap rewel dan selalu ingin dituruti keinginannya. Selain itu, mereka cenderung menangis atau melawan bila kita tidak menyanggupi apa yang mereka ingini. Kita sebagai orang tua perlu memberitahu pada anak, apa hak dan kewajiban mereka di dalam atau di luar rumah. Buatlah aturan agar anak mematuhi dan buat hukuman bila mereka melanggar.

Baca Juga :  Kenali Kompetensi Anak

Ayah dan ibu harus pandai-pandai bekerjasama. Bila anak melanggar, ibu bisa saja memarahi dan ayah yang memberi pengertian bahwa yang dilakukan anak itu salah, atau sebaliknya. Jangan satu di antara orang tua malah membela atau berbeda pendapat bila anak melakukan kesalahan, karena ini akan membingungkan mereka.

Contohnya bila anak tak mau belajar, ibu boleh saja memarahi dan ayah juga memberi nasihat pada anak bahwa yang dilakukannya itu tidak benar.

2. Memberi teladan

Mendidik anak itu sebenarnya gampang-gampang susah. Kuncinya  konsisten memberi didikan yang baik pada anak dan di mulai dari diri kita sendiri. Setiap hari tentunya orang tua selalu bertemu dengan anak, karena dalam keadaan apapun, anak pasti melihat contoh yang baik, maupun yang buruk dari orang tua.

Contohnya saja bila di rumah, ayah bisa membantu ibu untuk mengerjakan sebagian pekerjaan rumah seperti menyapu atau mengepel, membersihkan kamar mandi dan sebagainya.

Jangan ajari anak harus rajin sikat gigi, kalau kita sendiri malas menyikat gigi. Selalu mencuci piring sehabis makan, jangan meminta istri kita mengambil minuman, bila kita sendiri mudah mengambilnya, atau hal buruk lain yang dapat dicontoh anak. Intinya tak perlu yang susah-susah dengan berbagai peraturan, namun kita bisa menunjukkan sikap kemandirian dalam keseharian kita.

Baca Juga :  Mendidik Anak itu Tuntunan bukan Tuntutan

3. Hukuman yang tepat

Setiap kesalahan pasti akan mendapat hukuman. Hal ini diajarkan pada anak agar mereka paham dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun bila kita berhadapan dengan anak yang membantah dan cenderung melawan, hukuman fisik boleh juga diterapkan, asal masih dalam batasan wajar.

Sebenarnya kami tidak menyarankan hukuman fisik menjadi solusi, namun kalau sudah tidak dapat dikendalikan, biasanya hukuman ini cukup manjur. Kita boleh saja memukul, tapi di bagian tangan atau kakinya dan itu pun tetap dengan batasan untuk membuatnya jera, bukan ingin melukai atau bahkan membuat anak cedera. Intinya dalam hal ini orang tua dituntut untuk tetap tegas, bukan karena emosi atau sekadar memukul anak tanpa alasan yang tepat.

4. Memberinya hadiah

Untuk memotivasi anak bisa mandiri, sekali-kali orang tua juga perlu mengeluarkan uang untuk membelikan anak hadiah. Ya, hadiah bukan sekadar pujian. Kita juga bisa membelikan mainan kesukaan anak atau memberi hadiah yang bermanfaat bagi mereka seperti sepatu, baju atau mengajaknya jalan-jalan ke tempat wisata.

Baca Juga :  Visi Tidak Mengenal Usia

Metode hadiah dan hukuman ini memang banyak disarankan para ahli dan psikolog anak, namun dalam penerapannya agak sedikit sulit dilakukan para orang tua. Pemberian hadiah dan hukuman berguna agar anak-anak paham, apa yang baik dan benar, apa yang buruk dan tidak boleh dilakukan. Selain itu hadiah juga dapat memotivasi anak untuk menurut apa yang kita ajarkan pada mereka.

Lakukan tugas berikut ini agar terbentuk karakter mandiri:

  1. Bangun Pagi. Biasakan anak merapikan sendiri tempat tidurnya. Contohkan anak untuk membereskan seprai dan merapihkan bantal.
  2. Membersihkan rumah, dengan cara memberi anak sapu dan mengajarinya menyapu. Boleh juga ditambah membantu mencuci piring atau merapihkan mainan sesudah selesai bermain.
  3. Biasakan anak disiplin merapikan keperluan sekolah di malam hari dan bila ada PR tidak lupa dikerjakan.
  4. Selalu meletakkan barang pada tempatnya. Biasanya anak sering lupa atau tidak disiplin saat memakai barang. Contohnya saja, lupa mengembalikan gunting di tempat semula bila menggunakannya.
  5. Meletakkan pakaian kotor pada tempatnya. Ajari anak meletakkan pakaian kotor pada keranjang yang telah disediakan. Ini gunanya agar tidak merepotkan orang yang mencuci baju.

Selamat mencoba, semoga kita dianugerahi anak yang salih/salihah, tanggung jawab dan mandiri.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.