Ilustrasi kotak amal yang sudah kosong, foto: Dok. Istimewa

Suaramuslim.net – Kemarin pagi, saat makan soto di warung yang tidak jauh dari masjid, pedagangnya curhat, ia mengaku omsetnya turun drastis, setelah merebaknya pagebluk corona (Covid-19), hanya satu-dua yang mampir di warungnya. Ia pun hanya pasrah.

Tidak hanya pedagang soto, pedagang-pedagang sebelahnya pun mengalami nasib serupa. Semakin hari kian sepi pembeli. Jarang yang lalu lalang seperti biasanya.

Curhat pedagang soto ini tidak jauh berbeda dengan curhat seorang ibu penjual Semanggi beberapa waktu lalu. Kebetulan ia menjajakan Semanggi pengkolannya di depan rumah. Setelah membeli dan bertanya tentang kondisi jualannya setelah wabah, jawabannya, “Ya sebenarnya takut dengan Covid-19, namun bagaimana lagi, kalau tidak bekerja ya tidak makan,” ujarnya.

Sembari pamit ia melanjutkan menggendong Semanggi pengkolannya. Dengan nada suara melengking, ia menawarkan Semangginya sampai di depan mushalla, berharap satu-dua orang akan keluar dan membeli Semanggi.

Dua kejadian tersebut besar kemungkinan hanyalah fenomea gunung es. Masih banyak kisah yang lebih memilukan dari para pedagang dan pekerja kelas bawah yang merugi secara ekonomi pasca Covid-19.

Nasib kelas bawah ke depan

Kita tentu berdoa agar wabah ini segera berakhir. Kalau bisa sebelum Ramadan. Namun melihat grafik yang dirilis BNPB, atau para pengamat menilai, sepertinya hingga habisnya bulan April-Mei, wabahnya belum akan hilang, pun jumlah penderitanya: terus akan naik.

Bagi para pedagang maupun pekerja kelas bawah, pilihan satu-satunya harus tetap bekerja menjajakan barang dagangannya ke luar rumah. Atau pilihannya tidak bisa menyantap sesuap nasi. Kesehatan diupayakan, namun menjadi nomor dua. Nomor satunya tetap mencari nafkah.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi pedagang kecil, supir ojol, dan buruh dalam waktu beberapa hari ke depan. Setelah pembeli yang kian hari kian menurun. Bisa jadi mereka akan selalu menahan lapar.

Menunggu pemerintah sebagai lembaga tertinggi, atau mengandalkan daerah yang akan memberi bantuan, sepertinya terlalu lamban. Sebelumnya bisa dilihat sedari awal saat mereka menangani wabah ini hingga kini. Sering kali lamban juga tak jarang sering miskomunikasi.

Tanpa mengesampingkan pemerintah dan daerah, di sini perlunya gotong royong antar elemen bangsa. Terlebih mengharapkan bantuan masyarakat itu sendiri. Lembaga kemanusiaan, yang punya kekayaan lebih, dan masjid-masjid, sangat memungkinkan untuk membantu para pedagang kecil, driver ojol, dan buruh tadi.

Gerakan mengosongkan (kas) masjid

Tadi pagi, saya mendapatkan imbauan dari salah satu masjid di Jakarta. Terdiri dari beberapa pasal, salah satunya agar kas masjid dikeluarkan, untuk diberikan kepada tetangga yang butuh bantuan selama menghadapi wabah corona ini.

Menerima hal demikian, saya langsung meneruskannya dan bertanya kepada sekretaris Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur, adakah hal serupa akan diimbaukan kepada masjid-masjid di Jawa Timur.

Jawabannya masih menunggu rapat beberapa hari ke depan. Dengan segala harap, semoga tulisan ini juga dibaca pengurus masjid dan ikut serta dalam andil untuk membantu yang lagi kesusahan akibat Covid-19.

Seperti masjid Jogokariyan yang melakukan gerakan luar biasa, mereka membagikan bantuan dan membagikan 1.000 hand sanitizer untuk warga yang membutuhkan. Selain itu, masjid Jogokariyan, sebagaimana biasanya yang dilakukan, juga membantu hal-hal lain bagi warga sekitar.

Di Surabaya, ada masjid Al-Irsyad yang menggalang donasi dari para jemaahnya untuk diberikan kepada para guru sekolah di yayasan bersangkutan. Tentu ada masjid lain yang melakukan hal senada dengan cara mereka masing-masing.

Gerakan yang sangat penting untuk ditiru di masjid-masjid lainnya. Terlebih saat ini, mungkin, banyak pedagang dan buruh yang tidak bisa bekerja sementara waktu. Sehingga mereka butuh bantuan.

Bantuan tersebut kemungkinan lebih mudah diberikan, sebab, saat ini masjid-masjid banyak yang sudah menutup diri. Lock down. Tentu dana-dana yang biasanya dipergunakan untuk kajian, untuk kebersihan, tidak lagi dikeluarkan dan tersimpan rapi dalam kas bendahara.

Mungkinkah dana-dana tersebut bisa dialokasikan dan diberikan, entah berbentuk sembako atau uang tunai? Sesungguhnya bukan pilihan yang sulit.

Sebagaimana di antara fungsi masjid: menjadi tempat berteduh secara spiritual, dan menjadi tempat bersandar untuk mereka yang membutuhkan bantuan.

*Surabaya, 2 April 2020
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.