Sadar Disruption, Agar Tidak Jatuh Karena Kesombongan

53
Sadar Disruption, Agar Tidak Jatuh Karena Kesombongan

Suaramuslim.net – Apa yang terjadi ketika suatu hari nanti, profesi atau tempat bekerja kita hilang dan tidak beroperasi lagi karena ada orang atau organisasi lain yang sudah menggantikan bahkan melakukan dengan lebih baik apa yang kita kerjakan? Ya, Anda boleh menyangkal bahwa hal itu tidak akan terjadi. Sama seperti Nokia, Kodak dan juga Blackberry yang menyangkal akan adanya lawan yang tak terlihat di luar mereka. Dan akhirnya kita sama-sama tahu nasib mereka hari ini.

Membaca buku “Disruption” karya pakar manajemen perubahan, Rhenald Kasali, bagi saya seperti belajar untuk menerima bahwa kemungkinan kisah di atas adalah pasti terjadi. Kabar baiknya, penulis bukan saja menyajikan kemungkinan terburuk sebagai akibat disruption, tetapi juga membekali dengan berbagai jurus ampuh agar kita justru menjadi pemenang dari fenomena tak terelakkan ini.

Buku ke-32 penulis yang mendirikan institusi Rumah Perubahan ini terbilang segar karena baru diterbitkan Januari tahun 2017. Dengan tebal hampil 1 rim (496 halaman) buku ini mengupas tuntas segala hal yang berhubungan dengan disruption. Buat yang awan tentang disruption sekalipun, buku ini bisa menyulap Anda seakan menjadi pakar disruption jika Anda bersedia untuk membedah dan mengeksplorasinya dalam-dalam.

Tersusun atas 16 bab dengan 5 pembagian utama. Jika diumpamakan sebuah film bioskop, kira kira alurnya seperti ini. Pada bagian pembuka (bab 1 s.d 3) penulis memberikan shock therapy kepada pembaca tentang hadirnya setingan baru dunia kita hari ini. Ada lawan-lawan yang tak terlihat yang membuat pasar digital (digital marketplace) baru serta penjelasan fenomena disruption yang bahkan sudah terjadi sejak lama sebelum teori ini ditemukan.
Pada bagian kedua (bab 4 s.d.7), keluarlah keahlian mengajar penulis di dalam kelas, karena beliau seakan mengajar di dalam kelas untuk 1 mata kuliah berjudul “Disruption”. Mulai dari kisah pada saat Clayton M. Christensen melahirkan bayi teori disruption pada tahun 1997, kritik yang muncul atas teori tersebut, sampai pertarungan teori tersebut dengan teori-teori lainnya sampai hari ini, 20 tahun usianya. Menariknya, penulis menyajikan dengan gaya bercerita (story telling) yang menarik, sehingga kuliah dalam kelas berubah seperti membaca sebuah novel perjuangan heroik.

Lanjut ke bagian ketiga (bab 8 s.d 9) giliran kita belajar jurus ampuh menghadapi serangan disruption. Tag line-nya “disrupting or disrupted” (bukan lagi “change or die”). Strategi pertama adalah self disruption atau melakukan disruption pada diri kita sendiri. Hal yang terdengar agak aneh karena sebaik apa pun keadaan kita hari ini, kita dipaksa untuk mengakui bahwa masih ada banyak kekurangan yang menuntut segera diubah. Kelak kita akan menyadari bahwa memang justru itu yang harus dilakukan. Strategi berikutnya yaitu “reshape” dan atau “create” sesuatu yang baru pada organisasi atau perusahaan kita demi melawan gelombang disruption tersebut.

Pada bagian keempat (bab 11 s.d 13) alur konflik dalam “film” disruption pada buku ini mulai menurun. Saya membayangkan jika pada bagian sebelumnya otak kita panas, tegang, dan kacau balau membaca fakta, data dan analisis dan prediksi tentang disruption, maka pada bagian ini semuanya ditata kembali sehingga menjadi disruptive mindset yang tertanam kuat. Membantu kita memiliki cara pandang baru tentang disruption yang sedang terjadi di sekitar kita dan bahkan di masa mendatang.
Bagian ke lima (bab 14 s.d 16) adalah penutup dari “pentas lakon” disruption. Sedikit antiklimaks sepertinya. Tetapi isinya sangat Indonesianis. Bercerita tentang individu atau organisasi pemerintah dan swasta di Indonesia yang sudah berhasil melawan gelombang disruption. Dan semuanya ditutup dengan fenomena perubahan yang mengarah pada trend break atau akhir zaman yang berkembang di dunia saat ini dengan ciri 3S (Speed, Surprise dan Sudden shift). .

Penyajian buku ini memiliki gaya yang khas yaitu kaya dengan data dan fakta yang relevan dan tepat di setiap analisisnya. Diselingi dengan beberapa artikel penulis yang terbit di berbagai media nasional sebelumnya atau kutipan dari buku-buku yang pernah ditulisnya. Namun yang tidak kalah penting adalah kemampuan penulis mengambil dan menempatkan konteks ke-Indonesia-an dari fenomena besar yang terjadi di dunia.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja pengambil kebijakan di berbagai organisasi pemerintah, swasta dan non profit di Indonesia. Baik itu “pemain besar” agar tidak mudah limbung karena kesombongan yang sudah ditampilkan banyak contoh sebelumnya. Atau juga para “pemain baru” yang akan memasuki dunia persaingan sehingga tidak berkecil hati melihat raksasa-raksasa besar kompetitornya hari ini.

Dalam perspektif sempit saya, mindset “Sadar Disruption” ini penting kita miliki sebagai individu. Karena sejatinya fenomena ini bukan hanya berlaku untuk organisasi atau perusahaan saja. Terlebih lagi adalah bagi kita manusia yang hidup di zaman baru ini. Agar kita tidak kehilangan eksistensi atau bahkan mati. “Pernah lihat orang mati? Ya, orang mati kaku dan dingin. Kalau Anda masih hidup tapi “kaku” dan “dingin”, sebenarnya Anda sudah mati” (Rhenald Kasali, hal. 193).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here