Salah Kaprah Soal Mencari Ilmu | Suaramuslim.net

Suaramuslim.net – Ilmu dalam pandangan Islam memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan ibadah. Dalam wahyu pertama, Allah subhanahu wa ta’ala menyerukan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam untuk membaca Iqra’. Sayangnya, di masyarakat kita terjadi pemahaman salah kaprah soal mencari ilmu. Pemahaman itu kemudian diwariskan secara turun temurun sehingga seolah menjadi sebuah kebenaran.

Salah kaprah pertama bahwa yang dimaksud dengan perintah menuntut ilmu adalah pergi ke sekolah. Bahkan, masih saja ada yang memandang bahwa orang yang tidak bersekolah itu dianggap tidak berpendidikan alias tidak berilmu. Anggapan ini tentu tidak dibenarkan sepenuhnya. Kisah pengusaha kaya raya, Bob Sadino, menjadi salah satu bukti bahwa meski dirinya tidak tamat sekolah, namun mampu menjadi bagian dari orang sukses di Indonesia. Lagipula, Allah subhanahu wa ta’ala hanya memerintahkan manusia untuk mencari ilmu, bukan bersekolah.

Sekolah hanyalah cara agar kita mendapatkan ilmu pengetahuan. Itu berarti masih tersedia cara lain untuk kita memperoleh ilmu pengetahuan. Misalnya dengan membaca buku-buku, majalah atau mengikuti perkembangan berita dunia, mengikuti kursus atau semacam sekolah singkat, hadir di acara kajian atau seminar, mendengarkan acara bincang interaktif atau kajian dari media elektronik, berdiskusi dengan ahli, mengamati lingkungan sekitar, dan sebagainya.

Baca Juga :  Antara Ilmu dan Penghasilan

Pada masa Rasul dan para sahabat, pembinaan pendidikan Islam dilaksanakan di dalam masjid dengan pendekatan dialog, ceramah, diskusi dan praktik. Namun seiring dengan jumlah murid yang semakin bertambah dari negara-negara lain, maka sistem pendidikan dibuat dalam bentuk kelas yang kemudian diadopsi menjadi lembaga pendidikan.

Di Indonesia, kita mengenal pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal adalah sistem pendidikan yang diatur oleh lembaga pendidikan berwenang, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga ke jenjang Perguruan Tinggi. Sementara pendidikan informal bentuknya seperti kursus, sekolah agama (Diniyah), Taman Pendidikan Al Quran, Lembaga Bimbingan Belajar dan sebagainya. Sehingga bagi mereka yang terlanjur tidak menempuh pendidikan formal, bisa tetap belajar melalui sumber lain. Karena pada dasarnya ilmu Allah subhanahu wa ta’ala terbentang di seluruh penjuru muka bumi, asal manusia mau berpikir atau tadabbur.

Salah kaprah lain yang sudah berkembang di masyarakat bahwa mencari ilmu dianggap telah selesai jika dinyatakan lulus dari sekolah. Orang menganggap belajar itu hanya ketika kita masih berstatus pelajar atau mahasiswa. Ini seperti keluhan seorang anak kecil yang bertanya, “Kapan aku berhenti belajar!” atau ocehan lain “Aku mau cepat lulus sekolah biar gak belajar”.

Baca Juga :  Membangun Pendidikan Yang Melayani

Islam menjelaskan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban yang dimulai sejak dari kandungan ibu hingga masuk ke liang lahat. Itu berarti selama raga masih bernyawa, manusia diperintahkan untuk terus mencari ilmu. Tentu saja kembali pada penjelasan sebelumnya bahwa yang dimaksud mencari ilmu bukan hanya bersekolah. Intinya kita harus meningkatkan (upgrade) pengetahuan dan skill, utamanya berkaitan dengan ilmu agama. Dengan sering hadir di majelis taklim, pemahaman agama kita bertambah, baik dalam hal akidah, fiqih, hukum, tata bahasa Arab, dan lainnya.

Terakhir, anggapan salah kaprah bahwa pendidikan tinggi jadi jaminan kemapanan. Penulis beberapa kali mendengar orang tua memberi nasihat kepada anaknya bahwa dia harus sekolah sampai tinggi agar dapat pekerjaan dengan gaji besar dan kehidupannya mapan. Nasihat orang tua terkadang ada benarnya, karena faktanya sistem penerimaan kerja di Indonesia yang hingga saat ini masih mengandalkan ijazah sekolah.

Meski demikian, di masyarakat kita juga ditemukan fakta banyaknya angka pengangguran di kalangan alumni perguruan tinggi. Ini kemudian menjadi bumerang bagi mereka yang menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Ada yang berkomentar percuma sekolah tinggi kalau nyari pekerjaan susah, tapi kelompok lain berkeyakinan bahwa strata tinggi menjadikannya mapan.

Baca Juga :  Menghadapi Realitas

Di dalam Al Quran, Allah memberikan jaminan derajat tinggi pada orang yang berilmu, bukan pendidikan tinggi. Itu berarti meski pendidikannya tinggi, namun dia tak memiliki derajat. Bisa saja selama sekolah dia malas-malasan atau bahkan sering bolos dan menyontek hasil karya orang. Akibatnya mereka tidak menguasai ilmu yang didapatkannya di sekolah. Faktanya, seorang konsultan atau tenaga ahli bidang tertentu akan dibayar ‘mahal’ karena ilmu yang dimilikinya. Sementara bagi mereka yang ala kadarnya, tidak bersungguh-sungguh mencari ilmu dan hanya berpatok pada satu disiplin ilmu di kelas saja tentu akan kalah dengan mereka yang tiap harinya belajar dari berbagai media. Wallahu ‘alam

Kontributor: Siti Aisah
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.