Ilustrasi seorang nelayan. Foto: YDSF

Suaramuslim.net – 15 Berat ringannya persoalan yang dihadapi sangat tergantung pada bagaimana masing-masing kita menyikapinya. Dan hal itu semua bermula dalam pikiran kita masing-masing.

Pikiran adalah wujud bahwa manusia sebagai makhluk yang berakal. Akal yang baik adalah apabila akal tersebut dibangun di atas cara pemahaman yang benar tentang kehidupan.

Akal adalah pembeda antara makhluk ciptaan Allah yang bernama manusia dengan binatang. Akal inilah yang kemudian melahirkan budi, nilai-nilai yang mendasari sikap perbuatan menjadi bermakna dan dapat diterima oleh kemanusiaan, inilah yang kita sebut dengan akal budi.

Kata akal, berasal dari kata bahasa Arab, ‘aql. Saya mencoba mencari makna ‘aql ini pada beberapa kamus bahasa Arab, salah satunya saya temukan pada Kamus Al Mu’jamul Wasith karya Dr. Muhammad Anis, mengartikan bahwa ‘aql sama dengan qalb (hati, kalbu) begitu sebaliknya. Artinya manusia yang berakal adalah manusia yang mampu menggunakan hatinya dalam proses berpikir, memilih dan memilah sesuatu.

Seorang yang cerdas dalam menghadapi masalah adalah seorang yang mampu melihat masalah dengan menggunakan suara hatinya yang fitrah. Sehingga berhasil tidaknya kita dalam menghadapi masalah sangat tergantung pada bagaimana kita menata hati dalam menyikapi setiap permasalahan yang dihadapi.

Semakin kita menjadikan hati bersedia menerima setiap persoalan dengan penuh kepasrahan dan keleluasaan maka masalah yang dihadapi akan terasa ringan dan mudah, demikian pula sebaiknya.

Dalam sebuah kisah diceritakan, hidup seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tidak berbahagia. Tanpa membuang waktu orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak itu hanya mendengarkan dengan seksama.

Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamu itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Pahit.. Pahit sekali rasanya…” Jawab tamu itu sambil meludah ke samping.

Pak Tua sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di dalam hutan di dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang-gelombang dari adukan-adukan itu yang menciptakan riak-riak air.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah,” perintah Pak Tua.

Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak Tua kembali bertanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar,” sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya Pak Tua lagi.

“Tidak,” jawab si anak muda.

Dengan kebapakan Pak Tua menepuk-nepuk punggung anak muda itu. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan itu layaknya segenggam garam, tidak lebih dan tidak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sama. Dan memang akan tetap selalu sama.”

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali memberi nasihat, “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas. Buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, ‘sang orang bijak’ kembali menyimpan ‘segenggam garam’ untuk anak muda lain yang sering datang kepadanya membawa keresahan jiwa.

Demikian apabila hati kita dibuat seluas samudera maka siapa pun boleh berenang di dalamnya, siapa pun dapat merasakan keindahan dan kenikmatan bertamasya di samudera itu, siapa pun juga bisa mengambil kemanfaatan di dalamnya.

Jika hati seluas samudera maka persoalan yang dihadapi akan terasa kecil dan mudah untuk diselesaikan. Masalah terasa indah, tidak mudah mendramatisir masalah yang ada namun dilalui dengan penuh keleluasaan, keikhlasan dan penerimaan sehingga hati menjadi lebih tenang dan tentram.

Namun jika hati kita dibuat sempit, sesempit selokan, maka ia akan dijadikan tempat pembuangan sisa kotoran, lebih lagi jika selokan itu buntu, maka dia akan menjadi masalah bagi munculnya musibah yang lain, banjir dan merebak bau kotoran.

Demikianlah hati kita jika dibuat terlalu sempit maka ia tidak akan mampu menampung beban berat persoalan hidup yang dihadapi sehingga menjadikan diri kita lebih menderita atas setiap permasalahan yang ada.

Hati adalah tempat untuk memilih dan memilah. Hati sejatinya adalah tempat bersemayamnya kebijaksanaan diri kita. Namun pilihan hati bisa berubah sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita hidup dan di mana kita hidup.

Apabila hati hidup di lingkungan yang jelek maka dia akan cenderung pada kejelekan sebaliknya hati yang selalu dipoles dengan cahaya tentu akan bercahaya pula. Inilah karakter hati. Dia dinamakan hati karena sifatnya yang berubah-ubah atau bolak balik.

Hati dalam bahasa Arab adalah qolbu. Dalam sebuah ungkapan disebutkan sumiyal qalbu li taqollubihi (dinamakan hati karena mudahnya berbolak-balik). Istilah qalbu dan taqallub berasal dari akar kata yang sama. Oleh karena itu berhati-hatilah. Luaskan hati seluas samudera, berlayarlah di dalamnya dengan bahagia!

25 Juli 2020
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.