Saqifah Bani Sa'idah
Saqifah Bani Sa'idah. (Foto: hajjumrahplanner.com)

Suaramuslim.net – Banyak kisah sejarah yang belum diķetahui oleh umat Islam, salah satunya adalah Saqifah (aula) Bani Sa’idah. Untuk itu, kesempatan ini kami ingin menyampaikan kisah sejarah yang kami ambil dari buku yang berjudul Al-Madinah Al-Munawwarah Research & Studies Center (2013), King Fahd National Library, Cataloging in Publication Data.

Di kota Madinah tepatnya di sisi barat laut masjid Nabawi, di perkampungan Bani Sa’idah dari kabilah Khazraj yang merupakan kaum Anshar sekaligus kabilah dari seorang sahabat Nabi yang bernama Sa’ad Bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu.

Dahulu bangunan tersebut berbentuk persegi panjang beratap, mempunyai dinding di tiga sisinya, sedang sisi ke empat terbuka.

Tempat ini (Saqifah Bani Sa’idah) terkenal dikarenakan para sahabat Nabi berkumpul di sana setelah meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melantik Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah. Dan setelah itu aula tersebut beralih menjadi sebuah bangunan dan bentuknya berubah-ubah seiring dengan berlalunya zaman.

Saat ini, Saqifah dialihkan menjadi kebun yang berbatasan dengan pagar bagian barat masjid Nabawi pada perluasan yang terakhir.

Baca Juga :  Inilah yang Membuat Kota Madinah Menjadi Istimewa

Juruf

Juruf merupakan sebuah tempat yang terletak di bagian barat laut kota Madinah Al-Munawwarah yang berjarak sekitar 7 Km dari masjid Nabawi dan dilintasi oleh lembah Aqiq.

Sekarang ia (juruf) merupakan salah satu perkampungan di Madinah. Terdapat beberapa hadis dan atsar yang menyebutkan Juruf di dalamnya.

Di Juruf, Usamah Bin Zaid radhiyallahu anhu bersama pasukannya berkumpul ketika Rasulullah memerintahkannya ke negeri Syam untuk berperang melawan pasukan Romawi.

Di rawa Juruf, dajjal mendirikan kemahnya ketika malaikat mencegahnya masuk ke kota Madinah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya.

ثُمَّ يَأْتِي الْمَدِينَةَ، فَيَجِدُ بِكُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكًا مُصْلِتًا، فَيَأْتِي سَبْخَةَ الْجَرْفِ فَيَضْرِبُ رُوَاقَهُ، ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلَاثَ رَجَفَاتٍ، فَلَا يَبْقَى مُنَافِقٌ وَلَا مُنَافِقَةٌ، وَلَا فَاسِقٌ وَلَا فَاسِقَةٌ، إِلَّا خَرَجَ إِلَيْهِ

“Ad-Dajjal akan medatangi Madinah dan mendapati malaikat penjaga di setiap pintunya kemudian ia mendatangi sebuah tempat dekat Madinah (Aljuruf) dan mendirikan kemah, kemudian Madinah akan berguncang tiga kali, dan tidaklah tersisa setiap orang munafik dan fasik melainkan akan keluar (dari Madinah) menuju ke arahnya.”

Hamra’ul Asad

Merupakan sebuah tempat yang berlokasi di sebelah barat daya kota Madinah, berjarak 16 Km dari masjid Nabawi dan terletak di ujung Gunung “Aiir, antara keduanya dipisahkan oleh lembah Aqiq.

Baca Juga :  Menjelang Kloter Terakhir, Sudah 52 Jemaah Haji Yang Wafat

Hamra’ul Asad terkenal di beberapa peristiwa peperangan Uhud. Salah satunya ketika Rasulullah berjalan keluar di belakang orang-orang musyrik dan beliau berkemah selama 3 hari di sana.

Ghabah (Hutan)

Merupakan daratan rendah di bagian utara Madinah. Kaya akan air yang bermuara dari mata air dan lembah. Ghabah meliputi daerah ‘Uyun, Kholil dan daerah daratan rendah sekitarnya.
Dinamakan Ghabah karena terdapat banyak pepohonan dan merupakan daerah tua.

Di tempat inilah hewan ternak milik Rasulullah dirampas ketika tempat tersebut diserang oleh Uyaynah Bin Hisn Al-Fazari dengan menggunakan kuda dari daerah Ghatafan pada tahun ke-6 Hijjriah. Namun mereka dapat dikejar oleh pasukan muslimin yang mampu merebut kembali ternak tersebut dari Uyaynah.

Peperangan tersebut dinamakan perang Ghabah atau perang Dzi Qarad.

Demikian kisah sejarah Saqifah Bani Sa’idah. Semoga dapat menginspirasi kita untuk terus belajar dan membaca kisah-kisah sejarah lainnya guna menambah wawasan dan mencerahkan diri untuk menjadi lebih bijak dalam melihat sesuatu yang itu tergambar dari aktifitas dan keputusan yang kita ambil.

Baca Juga :  Teladan dari Hijrah Rasulullah yang Fenomenal

Hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita berserah diri dan semoga istiqamah dalam menuntut ilmu untuk mencerahkan umat.*

Washil Bahalwan
Penulis adalah ketua LAZIS YAMAS Surabaya

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.