Tahukah Kamu Tentang Puasanya Para Nabi
Ilustrasi bangunan penduduk di daerah gurun.

Suaramuslim.net – Pada umumnya, Allah mengutus satu nabi untuk satu komunitas. Kalau pun ada perlawanan terhadap risalah yang dibawa nabi, merupakan suatu hal yang biasa.

Tugas Nabi hanyalah memberi peringatan kepada satu komunitas agar mau mengikuti dan menaati perintah Allah. Namun Allah mengabadikan adanya satu komunitas yang memiliki karakter dan watak pembangkang yang luar biasa. Karena sangat keras dalam pembangkangannya terhadap utusan-Nya, hingga Allah mengirim tiga utusan dalam satu waktu.

Pembangkangan dan kemaksiatan

Allah biasanya mengutus seorang nabi di suatu tempat kecil dan terbatas. Tugas seorang nabi hanyalah mengingatkan kaumnya agar mengikuti apa yang diajarkan. Bahkan tugas nabi agar kaumnya meninggalkan perbuatan yang salah dan meninggalkannya sejauh mungkin.

Berikut ini paparan Al-Qur’an yang menjelaskan adanya komunitas yang membangkang terhadap risalah yang disampaikan oleh para nabi secara berturut-turut.

Tiga nabi itu menegaskan visi dan misinya tunggal. Bukannya percaya, masyarakat itu justru mendustakannya. Allah menggambarkan hal itu sebagai berikut:

إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ فَقَالُوٓاْ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ

“(Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (QS. Yasin: 14).

Penyimpangan yang dilakukan oleh komunitas dijelaskan gamblang terutama tentang perbuatan penyembahan kepada selain Allah. Mereka menyembah berhala dan sulit melepaskan dari tradisi yang sudah mengakar kuat. Bukan hanya itu, perbuatan-perbuatan maksiat juga mereka lakukan secara terang-terang hingga mendatangkan musibah dan bencana.

Bukannya berterima kasih dan sadar atas kelalaiannya dalam perbuatan menyimpang, mereka justru melakukan perlawanan terhadap utusan Allah itu.

Allah mengabadikan sikap keras kepala mereka. Bahkan mereka secara kompak mengatakan bahwa kemalangan dan malapetaka itu muncul setelah adanya peringatan untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala itu.

Para nabi telah menjelaskan berbagai kenikmatan yang telah diperoleh oleh komunitas itu, di antaranya kesuburan tanah, yang sebelumnya tandus, hingga bisa menumbuhkan biji-bijian dan tanaman yang bisa memenuhi hajat dan keberlangsungan hidup mereka.

Para nabi juga menunjukkan nikmat Allah yang menumbuh-suburkan kebun-kebun mereka dengan memancarnya beberapa mata air. Hasil dari kebun-kebun itu berupa tanaman dan buah-buahan hinga mereka hidup berkecukupan.

Bahkan perputaran matahari dan bulan yang demikian teratur, membuat kehidupan mereka menjadi terjamin dan penuh ketenangan. Mereka semakin berbahagia dengan adanya kendaraan, baik di daratan maupun lautan. Kenikmatan yang demikian banyak ini, tidak lain karena karunia Allah.

Namun sebagian besar mereka menganggap karunia besar ini bukan berasal dari Allah, tetapi dari kekuasaan benda-benda yang mereka anggap keramat. Benda-benda yang dianggap keramat itu kemudian dijadikan sebagai benda agung yang harus disembah.

Mereka bukan hanya melakukan penyembahan terhadap berhala, namun mereka melakukan kemaksiatan sebagaimana dilakukan oleh penduduk yang sedang mengalami kemakmuran, yakni penghamburan uang. Mereka berjudi, berzina, minum-minuman keras dan lain-lain.

Di saat seperti ini, datang seorang nabi untuk memberi peringatan kepada mereka tentang kekuasaan Allah dan pentingnya penyembahan kepada-Nya.

Bukannya berterima kasih dan mengikuti saran yang disampaikan tetapi mereka semakin menentang dan mengadakan perlawanan. Karena penolakan yang demikian besar, maka Allah mengutus seorang nabi untuk membenarkan dan menegaskan bahwa dirinya sejalan dengan nabi sebelumnya.

Bukannya menerima keterangan utusan kedua, komunitas itu bertambah ragu dan menolak apa yang dikatakannya. Allah masih bijaksana hingga mengirim kembali utusan ketiga agar komunitas itu luluh hatinya dan mau menerima keterangannya.

Alih-alih menerima dengan lapang dada, mereka justru  mengancam para nabi itu dengan ancaman rajam dan siksaan yang pedih bila terus melakukan pelarangan terhadap penyembahan berhala itu. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah:

قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ

“Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” (QS. Yasin: 18).

Mereka tak menyadari bahwa berbagai bencana dan musibah disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan. Namun bencana dan musibah itu justru dituduhkan kepada para nabi yang melarang mereka melakukan praktik penyembahan dan pelarangan terhadap perbuatan maksiat.

Dengan kata lain, praktik beragama sebagaimana yang disampaikan oleh para nabilah yang membuat bencana dan musibah ini datang.

Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menghentikan bencana dan musibah harus menghentikan dakwah, yakni dengan cara membunuh atau minimal menyiksa nabi-nabi itu agar jera dan tak lagi menyampaikan praktek hidup yang dipandu agama.

Yang menjadi pemikiran kita adalah masih adakah kelompok-kelompok masyarakat saat ini yang menyembah berhala dan sibuk dengan perbuatan maksiat?

Dan ketika datang peringatan untuk menghentikan praktik penyimpangan itu, tiba-tiba ingin menyingkirkan para juru dakwah itu?

Surabaya, 20 Mei 2020
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.