Sejarah Disyariatkannya Ibadah Kurban

Sejarah Disyariatkannya Ibadah Kurban

Suaramuslim.net – Umat Islam dalam waktu dekat akan menyambut hari raya kurban. Tiap tahun dalam tanggal 10 Dzulhijjah dengan diikuti ibadah seperti puasa dan larangan memotong kuku dan rambut. Namun, sejarahnya seperti apa?

Berawal dari keinginan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. Padahal anak tersebut merupakan anak yang sangat didamba bahkan Nabi Ibrahim sampai berdoa, ”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” Doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Di tengah hampir putus asanya untuk mendapat anak mengingat sudah berumur 86 tahun.

Kebahagiaan punya keturunan kemudian diuji untuk meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang tandus. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sumber air pun tidak ada. Tak mengherankan jika Hajar, istrinya berkata, ”Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun?” pertanyaan itu diucapkan berkali-kali namun Ibrahim tidak menoleh sama sekali. Hingga Hajar bertanya lebih dalam, ”Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”

Nabi Ibrahim menjawab singkat, ”Ya.”

“Kalau begitu kami tidak akan disia-siakan,” kata Hajar.

Sesampai Nabi Ibrahim di Tsamiyah, beliau menghadapkan di mana Hajar ditinggalkan, ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Tempat sekedar lalu lintas dan tidak ada air sama sekali. Sehingga Hajar berlari-lari untuk mencari air. Dan atas kemurahan dari Allah ternyata dari tendangan kaki Ismail ke sebuah batu muncul air.

Ismail tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan saleh. Dia yang membantu ibunya dalam keperluan sehari-hari. Berita tentang sumber air tersebut menarik perhatian dari musafir dan pejalan untuk singgah ke tempat tersebut. Sehingga menjadi ramai.

Ismail juga belajar Bahasa Arab kepada Bani Jurhum. Hingga pada suatu hari Nabi Ibrahim datang menjumpainya untuk niat sesuatu. Sebagaimana diceritakan dalam QS Ash Shafaat ayat 102.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.”

Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Putra yang lama tidak ditemuinya dan sangat diharapkan. Sehingga Nabi Ibrahim sempat risau. Iblis pun mendatangi untuk membuatnya ragu, hingga dilempar dengan batu.

Ismail pun menjawab di ayat yang sama, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Nabi Ismail meminta ayahnya jangan ragu-ragu dengan perintah Allah tersebut. Ibrahim pun menjadi tidak ragu lagi dan mempersiapkan penyembelihan.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyata kesabaran keduanya).” (QS Ash Shafaat: 103)

Di ayat yang lain Allah memberikan ijazah kelulusan atas kesabaran dan keimanan Ibrahim di ayat ke 107, ”Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Ujian Nabi Ibrahim tersebut menjadi syariat umat Islam untuk berkurban tiap tahunnya. Dibarengkan dengan ibadah haji. Kesabaran dan keimanan itu yang dinilai oleh Allah. Daging dan isinya semua kembali kepada manusia. Sebagaimana Nabi Ismail tetap kembali kepada Nabi Ibrahim sebagai anak dan buah hatinya.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment