Sejarah Hadits Maudhu’

0
Beginilah Sejarah Hadits Maudhu' | Suaramuslim.net

Suaramuslim.net – “Barangsiapa berbuat dusta terhadap diriku (mengatakan apa yang aku tidak mengatakannya), maka ia menempati tempat duduknya di dalam neraka jahanam” (HR. Bukhari-Muslim). Hadits ini berisi peringatan keras bagi siapa pun yang berani menyampaikan riwayat palsu alias hadits maudhu’.

Dalam Kamus Ilmu Hadits (bumi aksara, 2002), hadits maudhu’ adalah hadits yang dibuat-buat dan yang cacatnya disebabkan kedustaan perawi. Hadits maudhu’ bisa kita jumpai saat khutbah jumat, tausiah pada perayaan hari-hari besar umat Islam dan orasi ilmiah di perguruan tinggi. Satu diantaranya,”Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Tidak jelas siapa perawinya. Apakah masuk akal ketika Rasulullah SAW masih hidup, beliau menyeru kepada sahabat agar mencari ilmu ke Cina? Padahal ketika itu Rasulullah adalah tempat bertanya dan mencurahkan berbagai masalah kehidupan.

Sejarah beredarnya hadits-hadits palsu muncul pada tahun 40 H. Kala itu timbul fitnah yang membuat umat islam terpecah menjadi tiga kelompok. Syi’ah, Khawarij (anti kepada Khalifah Ali dan Muawiyyah) dan Jumhur.

Karena kepentingan golongan, mereka mendatangkan hujjah untuk mendukung keberadaan mereka. Maka mereka berupaya membuat hadits-hadits palsu dan menyebarkan ke masyarakat.”, tulis Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqiey dalam Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits (Pustaka Rizki putra, 2009).

Masih menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqiey, kota yang mula-mula mengembangkan hadits-hadits palsu adalah Baghdad (Irak). Tempat kaum Syi’ah berpusat. Pemalsuan hadits juga tetap terjadi pada abad ke 2 H. Kala itu muncul propaganda-propaganda politik untuk menumbangkan bani Umayyah. Agar mudah mempengaruhi rakyat, dibuatlah hadits-hadits palsu. Dengan bermodal hadits-hadits ini, akan menarik minat rakyat kepada lawan politik Bani Umayyah. Pihak bani Umayyah juga melakukan aksi yang sama.

Jika pada masa lampau propaganda politik memakai hadits-hadits palsu, maka yang sekarang terjadi di Indonesia adalah memakai ribuan berita hoax di dunia maya. Bukan hanya berita palsu, polling atau survei abal-abal pun disebar demi mempengaruhi opini orang awam. Jika berani memalsu hadits atas nama Rasulullah SAW pasti masuk neraka, maka menyebar berita palsu pasti diganjar UU ITE.

Kembali ke hadits palsu, menurut Rabiatul Aslamiah dalam Hadits Maudhu dan Akibatnya (Jurnal Al Hiwar, edisi Januari-Juni, 2016), beredarnya hadits palsu di tengah masyarakat membawa empat dampak negatif. Satu, mempertajam perpecahan. Dua, mencemarkan pribadi Rasulullah SAW. Tiga, mengaburkan pemahaman terhadap Islam. Empat, melemahkan jiwa dan semangat keislaman.

Terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, agar bisa mengetahui mana hadits palsu dan mana yang shahih, menurut Munzier suparta M.A dalam buku Ilmu Hadits (Rajawali press, 2006), perlu melakukan beberapa hal berikut ini. Satu, memeriksa sanad. Cirinya hadits palsu ada pengakuan para pembuatnya, ada qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongannya dan haditsnya diriwayatkan satu rawi tanpa ditemukan dalam riwayat lainnya.

Dua, matan (redaksi hadits). Hadits palsu biasanya buruk redaksinya dan isinya berlawanan dengan fakta sejarah dan ayat Al Quran. Contoh sebuah hadits yang menyatakan umur dunia 7000 tahun. Hadits ini berlawanan dengan surah al-A’raf ayat 187, bahwa umur dunia hanya Allah SWT yang tahu. Tiga, hadits-hadits yang melebihkan salah satu sahabat. Contoh keutamaan Ali bin Abi Thalib dibanding sahabat lainnya. Wallahu’allam.

Kontributor:  Fadh Ahmad Arifan
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here