Selenggarakan Oase Bangsa, Radio Suara Muslim Ajak Umat Peduli Pemilu
KH Salahuddin Wahid dalam Oase Bangsa di Kuno Kini Cafe & Resto 20/02/2019. (Foto: Suaramuslim.net)

SURABAYA – Radio Suara Muslim Surabaya 93.8 FM kembali menggelar talkshow Oase Bangsa (Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan), Rabu (20/02). Oase Bangsa yang digelar di Kuno Kini Café & Resto Jln Prapen 62 Surabaya ini mengambil tema “Muslim Peduli Pemilu”.

Pemred Suaramuslim.net sekaligus host Oase Bangsa, Muhammad Nashir menyebutkan progam ini adalah perwujudan fungsi media yang selain memberikan hiburan juga memberi informasi dan mengedukasi masyarakat. Khususnya edukasi terkait pemilu yang mencerahkan dan tidak memecah belah anak bangsa.

-Advertisement-

“Narasumber muslim yang kami hadirkan dalam Oase Bangsa insya Allah mewakili elemen-elemen umat yang ada di Indonesia. Dari NU ada K.H. Salahuddin Wahid. Kemudian Muhammadiyah diwakili Ustaz Najib Hamid. Sementara urban muslim yang sekarang disebut sebagai kalangan menengah muslim diwakili oleh Ustaz Misbahul Huda dan Suparto Wijoyo dari akademisi,” jelas Nashir saat membuka Oase Bangsa.

K.H. Salahuddin Wahid: NU Jangan Berpolitik Praktis

Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, K.H. Salahuddin Wahid yang menjadi salah satu narasumber Oase Bangsa menyebutkan bahwa dalam menyikapi pilpres dan pileg serentak tahun ini NU tidak boleh berpolitik praktis.

“NU tidak boleh politik praktis. Kalau warga NU memilih Kiai Ma’ruf Amin ya silahkan. Kalau ndukung Prabowo ya silahkan, tidak ada larangan sama sekali. Tapi pengurus NU jangan membawa warganya untuk memilih paslon tertentu,” ujar adik kandung Gus Dur yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Baca Juga :  Rocky Gerung: Jika Benar Prabowo Terlibat Pelanggaran HAM, Apa Jokowi Tahu?

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut karena ia melihat hari ini banyak pimpinan NU yang berpolitik praktis dan meninggalkan politik kebangsaan Indonesia.

Dia mencontohkan di jajaran PBNU, yakni Kiai Said Aqil Siraj yang pernah dengan terang-terangan mengajak untuk memenangkan salah satu calon. Kemudian di kesempatan lain, omongannya berubah, bahwa NU harus mempunyai politik kebangsaan.

“Ini tidak boleh, NU jangan sampai terlibat dalam politik praktis. Apalagi ucapan seorang Ketua PBNU berubah-ubah, tidak konsisten,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, kiai yang akrab disapa Gus Sholah ini menyebut bahwa pemilu tahun 1955 adalah pemilu terbaik dan terbersih yang pernah dilaksanakan di republik ini. Padahal, lanjutnya, waktu itu partai yang ada bersaing dengan menjual ideologi. Seperti ideologi nasionalis, Islam dan komunis.

“Namun meskipun saat itu pertarungannya ideologi, negara kita tidak ribut dan berisik seperti saat ini. Bahkan belum terjadi politik uang seperti yang jamak terjadi pada pemilu setelahnya,” tegasnya.

Menyoal Politik Identitas

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Drs. Najib Hamid, M.Si mengatakan politik identitas yang selama ini cenderung dinilai buruk tidak selamanya buruk, malah yang lebih berbahaya adalah politik “isi tas.”

“Politik identitas selama ini banyak yang menghujat, sedangkan politik “isi tas” banyak yang menggandrungi. Padahal menurut saya politik identitas ini adalah sebuah anti tesis dari politik “isi tas,” ujarnya sembari direspons tepuk tangan oleh peserta yang hadir.

Baca Juga :  Prabowo Pertanyakan Perbedaan Para Menteri Dalam Impor Beras, Jokowi: Putusan Menurut Saya

Dalam talkshow yang dihadiri sekitar 200 orang dari berbagai elemen ini, Najib menyebut, hari ini banyak yang salah kaprah. Banyak yang memilih karena isi tas bukan karena identitas, terlebih seorang muslim.

Menurut Najib, yang selama ini digaungkan hanya sisi buruk politik identitas seperti akan memecah belah. Padahal sisi baiknya justru lebih banyak, berpolitik dengan nilai, value politics. Hal ini yang tidak digaungkan oleh banyak orang.

“Politik identitas ini perlu, apalagi bagi seorang muslim, maka harus diperjuangkan oleh umat,” pungkasnya.

Menyiapkan Pemimpin Sejak Dini

Narasumber berikutnya, Ir Misbahul Huda, MBA selaku Founder Rumah Kepemimpinan Indonesia mengungkapkan sejarah kebesaran Islam masa lampau yang pemimpin-pemimpinnya selalu disiapkan sejak dini oleh keluarganya.

“Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, Muhammad Al-Fatih, semua disiapkan sejak dini untuk menjadi pemimpin oleh keluarganya, oleh peradaban, tidak ada yang mendadak,” ujarnya saat menjadi narsumber Oase bangsa Radio Suara Muslim Surabaya.

Misbahul Huda mengkritisi umat muslim Indonesia yang setiap kali pemilu menyiapkan pemimpin dengan mendadak, tidak pernah dari kecil dan dari dini. Selalu mendadak beberapa bulan, bahkan 4 bulan sebelum pemilu. Akibatnya, umat Islam hanya disuguhi calon pemimpin oleh pihak lain. Akhirnya hanya bisa memilih dari pilihan-pilihan yang mungkin tidak ideal di mata umat Islam.

Baca Juga :  Mayoritas Pemilih Makin Rasional, Parpol Harus Ajukan Pemimpin Berkualitas

“Maka harusnya menyiapkan sejak dini, kalau umat Islam mau menang,” tandasnya.

Ia juga mengungkapkan beberapa tips untuk memilih pemimpin dalam pemilu serentak nanti.

“Cara memilih pemimpin ada tiga, pertama, harus memiliki track record yang jelas. Kedua, harus jelas asal usulnya, dan terakhir kalau tidak mengerti keduanya diskusikan dengan ulama setempat,” pungkasnya.

Muslim Memilih Muslim

Narasumber keempat Oase Bangsa adalah Dr Suparto Wijoyo pakar hukum Universitas Airlangga Surabaya. Dalam pembahasannya Suparto berharap banyak pada pemilih muslim.

“Pemilu nanti harus memilih calon yang memperjuangkan kepentingan umat Islam, agar ada yang memperjuangkan konstitusi di parlemen,” ujarnya.

Suparto menambahkan bahwa selama ini banyak anggota dewan yang duduk di parlemen beragama Islam namun tidak memperjuangkan kepentingan Islam.

Ia mengingatkan bahwa umat Islam punya PR pada pemilu serentak yang nanti diselenggarakan 17 April. Pasalnya, lanjut Suparto, perjuangan sekarang adalah membuat umat melek politik dan memperjuangkan calon yang pro terhadap Islam.

“Muslim harus peduli pemilu. Muslim harus pilih calon muslim dan mengawalnya,” ucapnya.

“Maka hal itu harus dikawal jangan sampai terlewatkan. Demokrasi itu bicara mayoritas dan muslim ini mayoritas di Indonesia. Selayaknya kepentingan muslim yang menang. Selama ini kita mengalah, namun kali ini harus menang,” pungkasnya.

Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.