Seperti Abbasiyah dan Umayyah

Suaramuslim.net – Dua tahun berkuasa di Daulah Abbasiyah sejak 754 masehi, Abu Ja’far al-Mansyur mendapati pesaing singgasana kepemimpinan ummah. Di Jazirah,  Maghribi taklukkan keluarga Umayyah. Ia dapati berdirinya kekhilafahan tandingan. Didirikan sosok yang lolos dari persekusi maut pasukan Abbasiyah; nama sang pelolos yang akhirnya jadi khalifah Umayyah Andalusia itu bernama Abdur Rahman ad-Dakhil.

Dua kekhilafahan itu bersaing. Bukan semata dalam politik, penaklukan, perniagaan, tapi juga prestise pengetahuan. Menariknya, mazhab Andalusia adalah Maliki, dan mazhab ini pernah coba diresmikan di masa al-Mansyur sebelum kemudian di tangan anak-anak turunannya hingga al-Watsiq condong menyeragamkan pada Mu’tazilah sebagai acuan semua negeri Abbasiyah.

Terlepas ada soal persaingan suku bernuansa intrik dalam balutan geopolitik semasa, menarik pula kompetisi keilmuan di antara keduanya. Pernah suatu karya alim besar Baghdad malah kitab anyar karyanya diboyong Cordoba. Satu pukulan telak kontestasi ilmu.

Jarak membentang Baghdad dan Cordoba menjadi satu aral hadirnya intrik akut. Yang menyeruak adu pesona kota kedua kekhilafahan. Cordoba yang tertinggal dari Baghdad tak hendak terus di belakang. Sampai akhirnya muncul Abdur Rahman III an-Nashir yang bertakhta sejak 912 masehi. Inilah puncak Andalusia sebelum akhirnya berangsur surut dan beserpihan sebagai kerajaan kecil mulai 1031.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Mazhab Oposisi dan Heterodoksi Syiah

Perbentangan jarak memang tak berarti berlaku di hati. Tapi sering juga berlaku keduanya. Namun dalam perbentangan beda yang ada, bahkan pernah sama-sama sebarisan, mestinya jarak yang ada diperpendek. Kalaulah masih ada karena gengsi, ada baiknya dilarikan ke kompetisi beramal bagi umat. Mungkin ada soal ria dan sombong. Tapi biarlah itu ranah Allah yang menilai.

Dalam perjuangan berharakah, ada saja ingatan pada wadah lama. Ini alamiah. Bukankah di sana banyak para al-akh yang lama berjuang tapi kini mesti berpisah? Tapi dalam keberadaan wadah yang mendua atau lebih, godaan untuk saling mengevaluasi begitu besar. Ini pun normal. Tinggal bagaimana mencegah desingan mengomentari pihak sebelah tidak berujung kenistaan bagi si pembuat ujaran.

Dengan demikian, bukanlah sia-sia bila persaingan satu pejuang (pernah) seharakah dilarikan seperti kontestasi Abbasiyah dan Umayyah di sisi keilmuan dan pernik-pernik kebudayan. Awalnya saling mengukur dengan lawannya, sampai kemudian harus hadapi lawan sesungguhnya dari peradaban beda iman. Dan di sisi ini pemimpin umat kala itu seringkali tergopoh karena kehabisan tenaga berseteru dengan pesaing seiman.*

Baca Juga :  4 Hal Ampuh untuk Melestarikan Kebudayaan Indonesia

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.