Merawat Tali Silaturahmi

Suaramuslim.net – Hubungan antar manusia dijaga dengan sedemikian rupa agar tercipta harmoni kehidupan. Itu yang pernah diajarkan embah-embah dahulu. Tumindakmu sing apik tumrape liyan. Kalimat singkat penuh dengan ajaran yang luas. Berbuat baik dengan sesama bukan perkara yang sepele. Disana mengandung kebaikan yang bisa melahirkan kebaikan.

Silaturahmi ini yang menjadi pintu agar keterikatan hubungan antar sesama semakin baik. Silaturahmi tidak saja kepada orang yang dekat. Namun orang yang baru dikenal juga demikian. Tidak saja dari satu agama tetapi juga perlu dengan agama yang lain.  Tidak saja dari satu suku tapi juga dengan suku yang lain. Intinya untuk merawat silah bainannas (hubungan antar manusia) ini semakin baik.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang indah, ”Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar Ra’ad: 21)

Redaksi yang menarik dari ayat di atas “orang-orang yang menghubungkan” hingga “supaya dihubungkan”. Ada kata kerja aktif mendahului kata kerja pasif. Yang artinya, dalam menjaga silaturahmi ada tindakan aktif untuk memulai. Tidak menunggu dikunjungi, tetapi mengunjungi terlebih dulu.

Pada umumnya dikala belum ada butuh, orang malas untuk mengunjungi sesamanya. Menunggu kebutuhan atau terdesak baru bertamu. Seakan seperti orang yang pernah bertemu sebelumnya.

Keterkaitan Keimanan dengan Amalan Silaturahmi

Amalan berkaitan dengan keimanan. Begitu juga dengan silaturahmi yang merupakan amalan sosial. Amalan terkait dengan hubungan antar manusia. Tidak berdiri sendiri.

Baca Juga :  Hubungan dan Pengertian Iman, Islam, Kafir dan Takwa

Keterkaitan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan amalan menjaga tali silaturahmi, merupakan bentuk keyakinan bahwa menjaga tali silaturahmi ada kaitan erat dengan keridhaan Allah kepada hamba-Nya. Dan ini menjadi dasar perbedaan orang yang berkumpul dalam kesia-siaan atau mendapatkan pahala yang akhirnya adalah sebuah keberkahan.

Keterkaitan dengan iman hari akhir merupakan ikatan dalam setiap melakukan silaturahmi ada ikatan di hari pembalasan. Semua yang dilakukan akan diberi balasan. Maka silaturahmi ada kaitan dengan keimanan dengan hari akhir. Maka benar dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” (HR Bukhari dari sahabat Abu Hurairah ra)

Benar iman dan amal merupakan satu ikatan. Amalan buruk pengaruhi iman. Sebagaimana iman bisa naik dan turun dengan amalan. Bukankah kekafiran diawali dengan amalan kecil dan ingkar yang benarkan?

Tidak Masuk Surga

Surga tempat indah. Sesuai gambaran di Al Quran ada sungai, buah-buahan, dan segala keindahan yang tidak pernah di dengar oleh telinga, tidak pernah dilihat oleh mata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata,”Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah: 25)

Baca Juga :  Ibadah Ramadhan Proses Menuju Takwa

Surga begitu indah, namun surga tidak merindukan orang yang suka memutus tali silaturahmi. Darimana tahu? Tentu dari sabda Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam. ”Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra)

Dijelaskan oleh al-Qâdhi Ibnu ‘Iyâdh, “Tidak ada perbedaan pendapat (diantara para Ulama-red) bahwa secara umum silaturahmi hukumnya wajib, dan memutuskannya merupakan dosa besar.”

Dosa besar mengantar kepada neraka. Namun neraka bukan untuk ditakuti. Ketakutan yang besar hanya untuk Allah. Tidak kepada sesama makhluk neraka sekalipun. Saat seseorang memutus tali silaturahmi, sebenarnya dia sudah mendapat “neraka” yang disegerakan. Gelisah, khawatir dan amarah adalah bara neraka di dunia.

Bagi yang pernah melakukan perbuatan mungkar tersebut, segera mengingat ayat berikut, ”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Setara dengan Rukun Iman

Shalat merupakan ibadah paling mulia. Ibadah yang akan ditanya ketika proses penghitungan amal. Zakat merupakan amalan harta bernilai sosial. Kesetaraan amalan menjaga tali silaturahmi dengan shalat, zakat serta ketauhidan dipertegas oleh hadits nabi.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ”Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Obati Rasa Resah dengan Sedekah

Hadits di atas dengan kata sambung “wawu athaf” yang menunjukkan simbol keseteraan. Hamblumminallah setara dengan hamblumminannas.

Manfaat Silahturami

  1. Dengan bersilaturahmi, berarti kita telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukti menjadi hamba yang tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Menjadi jaminan keselamatan ketika di akhirat kelak.
  2. Dengan bersilaturahmi akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan mengetahui keadaan karib kerabat. Tolong menolong bisa menumbuhkan rasa empati. Mau merasakan penderitaan orang lain.
  3. Dengan bersilaturahmi, Allah akan meluaskan rezeki dan memanjangkan umur kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”(Bukhari Muslim).

Tidak ada orang yang sukses dengan sendiri. Butuh dengan orang lain merupakan sesuatu yang mutlak. Begitu juga dengan orang yang mudah dalam rezeki, dia memiliki teman yang banyak. Tidak ada bagi orang tersebut kamus menganggur. Banyak yang akan dikerjakan. Adapun akan dipanjangkan umurnya, bukan berarti menambah dari jatah umur. Jatah umur tujuh puluh tahun akan tetap. Namun kemanfaatan dari umur tersebut bisa berlipat-lipat.

4. Dengan bersilaturahmi, kita dapat menyampaikan dakwah, menyampaikan ilmu, menyuruh berbuat baik, dan mencegah berbagai kemungkaran yang mungkin akan terus berlangsunng apabila kita tidak mencegahnya.

Kontributor: Muslih marju
Editor: Oki Aryono

*Guru SD Inovatif Aisyiyah Kedungwaru, Tulungagung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.