warga kashmir salat idul adha. ©REUTERS/Danish Siddiqui

Suaramuslim.net – Setelah berlalu Iduladha, setelah berlalu lebaran kurban mau apakah kita? Masihkah tersisa rasa pengorbanan untuk kemanfaatan? Atau sudah hilang begitu saja.

Coba kembali kepada Dzulhijjah sebelum tanggal sepuluh. Terasa gebyar begitu terasa. Sampai hari tasyriq gebyar masih terasa. Setelah itu hampir dipastikan tidak ada lagi. Yang ada kembali kepada keadaan biasa, pada umumnya.

Ibadah istimewa di bulan suci Dzulhijjah ini tidak bisa dipisahkan dengan kisah hidup Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as dan Hajar as. Kisah mereka mengandung pelajaran berharga untuk meningkatkan iman dan takwa.

Pelajaran terpenting berupa hakikat ajaran Islam adalah al istislaam lillah yaitu berserah diri sepenuh jiwa kepada perintah dan larangan Allah SWT. Berserah diri dengan segala ketentuan dan kepastian-Nya.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Ismail ‘alaihissalam memberi contoh kepada kita berupa teladan dalam kepasrahan total kepada Allah SWT. Meskipun dirasakan tidak membuat nyaman.

Tergambar dari saat mendapat perintah untuk menyembelih sang anak Ismail ‘alaihissalam, Ibrahim ‘alaihissalam sang bapak melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Demikian pula Ismail ‘alaihissalam menerimanya dengan kelapangan hati dan kepasrahan jiwanya kepada Allah semata. Meskipun menjadi “tumbal” dari bapaknya. Keduanya pasrah dengan perintah yang tidak “manusiawi”. Namun iman di dada tidak menemukan rasa tersebut. Allah mengabadikan kepasrahan jiwa keduanya, dengan firman-Nya:

 “Maka ketika keduanya telah menyerahkan diri kepada Allah dan ia (Ibrahim) membaringkan anaknya (Ismail) pada dahinya.” (QS. Ash-Shafat [37]: 103)

Saat membaringkan anaknya, tentu sebagai manusia akan bergemuruh demikian hebat. Sampai anaknya menguatkan jiwa bapaknya untuk tetap patuh kepada Allah SWT. Saat menyembelih tidak menatap wajahnya. Pisau yang tajam, supaya lekas mati dan tidak mengalami kesakitan yang terlalu lama. Pakaian yang berlumuran darah diberikan kepada ibundanya.

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya berkata, “Maknanya adalah keduanya menyerahkan urusannya kepada Allah semata, keduanya berserah diri kepada-Nya, keduanya bersepakat untuk menerima perintah Allah dan ridha dengan takdir-Nya.”

Takdir (ujian) yang demikian berat juga membutuhkan proses pemantapan jiwa dari seorang bapak dan anak. Ibrahim sebagai bapak jauh lebih berat lagi. Anak pertama yang diharapkan begitu lama. Anak dari seorang wanita telah dimerdekakan. Anak yang telah lama “ditelantarkan” juga dari sebuh perintah.

Ikrimah Maula Ibnu Abbas berkata, “Keduanya berserah diri kepada perintah Allah, sang anak ridha untuk disembelih, dan sang bapak ridha untuk menyembelihnya.”

Sebagaimana pertanyaan di paragraf pertama, setelah berlalu lebaran kurban mau apakah kita? Masihkah tersisa rasa pengorbanan untuk kemanfaatan?

Jiwa kurban (qurban) tetap dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru yang berkorban untuk mencerdaskan anak bangsa dengan honor kurang manusiawi. Saking kecilnya 200 ribu/bulan. Namun tetap mengajar sebagai bentuk panggilan diri yang berasal dari Allah SWT. Jika sang guru tersebut tetap mengajar dengan niat demikian maka bisa dikata dia bisa meresapi dari idul kurban.

Pengorbanan yang tiada berhenti setelah tasyriq berlalu. Pengorbanan yang tidak mandeg setelah daging terbagikan. Semangat pengorbanan ini yang terus ada.

Semoga terus dalam pengorbanan.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.