Shalat menghadirkan spirit ketuhanan   

Shalat menghadirkan spirit ketuhanan   

Inilah Janji Allah untuk Hamba yang Shalat

Suaramuslim.net – Shalat merupakan cermin hadirnya Allah di dalam jiwa manusia. Al-Qur’an menganjurkan manusia untuk menghadirkan Allah di segala situasi.

Kehadiran Sang Pencipta akan menggerakkan jiwa manusia untuk mengagungkan-Nya. Sebaliknya, ketidakmampuan menghadirkan Allah dalam setiap langkah akan melalaikan manusia untuk berbuat baik, dan mendorong berbuat kerusakan.

Al-Qur’an menggambarkan manusia yang mentauhidkan Allah akan memproduksi amal kebaikan yang konsisten. Jiwa yang bertauhid akan menghasilkan hati yang selalu mengingat Allah, baik di saat beribadah maupun di luar ibadah. Khusyu’ mengingat Allah bukan hanya ketika shalat, tetapi juga ketika bermuamalah dengan manusia.

Menyemai spirit ketuhanan

Nabi Musa merupakan manusia istimewa yang diajak berbicara langsung dengan Allah. Pengenalan Nabi Musa terhadap Allah sudah melalui beberapa babak.

Beliau semakin mengenal dan tahu Allah, ketika Allah memanggilnya dan mengajak berdialog berdua. Allah mengajak dialog kepada Nabi Musa dalam rangka untuk membekali dan menguatkan misi suci, yakni mendakwahkan tauhid kepada Fir’aun.

Allah pun memanggil Nabi Musa dan membekalinya dengan berbagai kalimat yang menguatkan dirinya. Allah mengisahkan perjalanan Nabi Musa ketika melaksanakan perjalanan bersama keluarganya. Di tengah perjalanan itu, Allah memperlihatkan kepada Nabi Musa, api yang menyala. Ketika mendekati Api itulah Allah memanggilnya dan mengajak berbincang.

اِذْ رَاٰ نَا رًا فَقَا لَ لِاَ هْلِهِ امْكُثُوْۤا اِنِّيْۤ اٰنَسْتُ نَا رًا لَّعَلِّيْۤ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى النَّا رِ هُدًى

“Ketika dia (Musa) melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.” (Q.S. Taha: 10).

Sebelum mengajak dialog, Allah memberi perintah Nabi Musa untuk melepas sandalnya. Sandal sebagai simbol keduniaan dan kerendahan harus dilepas ketika naik ke suatu tempat yang disucikan. Melepas sandal merupakan adab ketika bertemu dengan Allah, Tuhan yang Maha suci.

اِنِّيْۤ اَنَاۡ رَبُّكَ فَا خْلَعْ نَـعْلَيْكَ ۚ اِنَّكَ بِا لْوَا دِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

“Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.” (Q.S. Taha: 12).

Di tempat suci dengan kesucian diri itulah Nabi Musa berdialog dengan Sang Pemberi misi suci. Allah memperkenalkan dirinya kepada Nabi Musa sekaligus perintah untuk menjalankan misi besar, yakni memperingatkan Fir’aun atas kejahatannya.

Dalam menjalankan misi besar itu dengan menjalankan shalat. Shalat merupakan cermin sekaligus parameter ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta alam semesta.

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدْنِيْ  ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِي

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Taha: 14).

Mentauhidkan Allah dengan terus mengingat-Nya dan istiqamah dalam menegakkan shalat merupakan cermin ketaatan seorang hamba yang diistimewakan.

Betapa banyak manusia yang mengaku bertauhid namun meremehkan shalat. Meremehkan shalat berakibat menjauhkan diri dari mengingat Allah. Shalat merupakan salah satu sarana untuk mengingat dan menghadirkan Allah di setiap keadaan. Dengan mengingat dan menghadirkan Allah, bukan hanya memperteguh jiwa manusia, tetapi menjaga diri dari hadirnya tuhan-tuhan semu.

Mengubur tuhan palsu

Para nabi dan rasul selalu mengingatkan manusia untuk menegakkan tauhid dengan mengingat Allah, serta menjauhkan tuhan yang bersifat semu. Tuhan semu hanya akan mendatangkan kehinaan di dunia dan hidup tercela di akhirat.

ذٰلِكَ مِمَّاۤ اَوْحٰۤى اِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتُلْقٰى فِيْ جَهَنَّمَ مَلُوْمًا مَّدْحُوْرًا

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu (Muhammad). Dan janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela dan dijauhkan (dari rahmat Allah).” (Q.S. Al-Isra: 39).

Inilah implikasi manusia yang tak bertauhid mendorongnya untuk berani melakukan pelanggaran dan kemaksian hingga berujung dilemparkan ke dalam neraka. Neraka merupakan tempat yang hina dan tercela. Betapa tidak hina dan tercela, karena manusia yang tak bertauhid akan memproduksi ucapan dan perilaku yang tidak pantas.

Salah satu perkataan yang tak pantas, di antaranya, ketika mengatakan bahwa Allah memilih anak perempuan untuk dirinya, dan memilihkan laki-laki untuk mereka.

اَفَاَ صْفٰٮكُمْ رَبُّكُمْ بِا لْبَـنِيْنَ وَ اتَّخَذَ مِنَ الْمَلٰٓئِكَةِ اِنَا ثًا ۗ اِنَّكُمْ لَتَقُوْلُوْنَ قَوْلًا عَظِيْمًا

“Maka apakah pantas Tuhan memilihkan anak laki-laki untukmu dan Dia mengambil anak perempuan dari malaikat? Sungguh, kamu benar-benar mengucapkan kata yang besar (dosanya).” (Q.S. Al-Isra: 40).

Pernyataan yang diucapkan oleh orang tak bertauhid, ketika menyematkan Allah sebagai pemilik anak perempuan, jelas sebagai pelanggaran dan dosa yang amat besar.

Ganjaran yang sangat pantas bagi mereka yang melanggar dan berbuat dosa besar ini adalah kehinaan dan ketercelaan, baik di dunia maupun akhirat. Sebaliknya orang yang beriman selalu mengagungkan Allah, dengan amalan ketaatan, sehingga jiwanya senantiasa bersih dan suci.

Dr. Slamet Muliono Redjosari
Dosen Prodi Pemikiran Politik Islam
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment