Masjid Sunan Ampel, foto: Dok. Istimewa

Suaramuslim.net – Malam itu, Kamis (20/6) kompleks masjid Sunan Ampel Surabaya penuh sesak oleh lautan manusia. Seperti biasa, mereka melakukan ziarah, membeli merchandise khas Sunan Ampel, duduk-duduk di masjid, tak jarang pula, melingkar di samping penjual kopi untuk bercengkrama bersama sanak saudara.

Masjid ini tidak pernah padam apalagi sepi. Selalu ada manusia-manusia baru dari luar daerah yang berkunjung. Pergi satu mobil, datang lagi beberapa bus. Mereka saling menyapa, terlihat ramah. Mereka dalam satu tujuan: ziarah wali.

Kompleks masjid Sunan Ampel selalu memiliki ciri khasnya: Perpaduan etnis Timur Tengah dan juga Madura. Entah sejak kapan keduanya berkelindan, faktanya di sepanjang jalan makam dua etnis ini mudah ditemukan. Pengunjung pun begitu, banyak dari keduanya, juga banyak dari Jawa. Semuanya membentuk satu kesatuan dalam kebhinekaan.

Bagi generasi muda permulaan, mungkin melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Mungkin juga banyak timbul pertanyaan atau mungkin juga khayalan. Faktanya ziarah wali Sunan Ampel, atau wali 8 lainnya selalu ramai oleh aktivitas manusia.

Ada beberapa faktor unik dari kompleks Sunan Ampel yang perlu diketahui oleh generasi muda. Beberapa di antaranya:

1. Semangat Dakwahnya Anak Muda

Sunan Ampel adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah merupakan seorang figur yang alim, bijak, berwibawa, dan banyak mendapat simpati dari masyarakat.

Baca Juga :  Keberhasilan Strategi Dakwah Pencetus Tembang ‘Tombo Ati’

Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi. Salah satu Raja Champa yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur.

Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya.

Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya. Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.

Untuk itu, Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam. Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel.

2. Sejarah Berdirinya Masjid Sunan Ampel

Masjid Sunan Ampel merupakan masjid tertua ke tiga di Indonesia, didirikan oleh Raden Achmad Rachmatullah atau Raden Rahmat pada tahun 1421, di dalam wilayah kerajaan Majapahit. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Jawa kuno, dengan nuansa Arab yang kental. Raden Achmad Rachmatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Makamnya terletak di sebelah barat masjid.

Baca Juga :  Keberhasilan Strategi Dakwah Pencetus Tembang ‘Tombo Ati’

Hingga tahun 1905, Masjid Sunan Ampel adalah masjid terbesar kedua di Surabaya. Dulunya masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan wali Allah untuk membahas penyebaran Islam di tanah Jawa. Masjid Sunan Ampel tidak dibangun sendiri oleh Sunan Ampel, melainkan bersama kedua orang sahabatnya yaitu Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga Mbah Soleh, pembantu Sunan Ampel yang bertugas membersihkan Masjid Sunan Ampel. Saat ini, makam kedua sahabat Sunan Ampel tersebut berada di sekitaran Masjid Sunan Ampel sendiri.

3. Arsitektur Unik dan Bersejarah

Keunikan lainnya adalah simbol rukun Islam yang berupa gapura di sekeliling Masjid Sunan Ampel. Terdapat lima gapura (pintu gerbang), antara lain gapuro munggah, poso, ngamal, madep, dan paneksen.

Gapura Munggah adalah simbol dari Rukun Islam yang kelima, yaitu Haji. Setelah melewati Gapuro Munggah, pengunjung akan melewati Gapuro Poso (Puasa) yang terletak di sebelah selatan masjid. Gapuro Poso memberikan suasana pada bulan Ramadhan. Setelah melewati Gapuro Poso, kita akan masuk ke halaman masjid. Dari halaman ini tampak bangunan masjid yang megah dengan menara yang menjulang tinggi. Menara ini masih asli, sebagaimana dibangun oleh Sunan Ampel pada abad ke 14.

Baca Juga :  Keberhasilan Strategi Dakwah Pencetus Tembang ‘Tombo Ati’

Gapuro berikutnya adalah Gapuro Ngamal (Beramal). Gapura ini menyimbolkan rukun Islam yang ketiga, yaitu zakat. Di sini orang dapat bersedekah dan hasil yang diperoleh dipergunakan untuk perawatan dan biaya kebersihan masjid dan makam. Gapura berikutnya adalah Gapuro Madep yang letaknya persis di sebelah barat bangunan induk masjid. Gapura ini menyimbolkan rukun Islam yang kedua, yaitu salat dengan menghadap (madep) ke arah kiblat.

Gapura yang ke lima adalah Gapuro Paneksen, merupakan simbol dari rukun Islam yang pertama, yaitu Syahadat. Paneksen berarti ‘kesaksian‘, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Gapuro Paneksen merupakan pintu gerbang masuk ke makam.

Selain gapura-gapura tersebut, Masjid Sunan Ampel juga didirikan dengan 16 tiang penyangga yang semuanya merupakan kayu jati dengan tinggi 17 meter dan berdiamater 60 sentimeter. Hingga kini kedua arsitektur unik tersebut masih diletasrikan keasliannya. Selain itu, di kompleks Masjid Sunan Ampel ini, terdapat makam Sunan Ampel beserta keluarganya. Sehingga kita juga bisa berziarah ke makam beliau.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.