SURABAYA (Suaramuslim.net) – Selepas salat Jumat, rombongan keluarga besar Radio Persada FM Paciran, Lamongan, tiba di Studio Radio Suara Muslim Surabaya, Jalan Dinoyo 57, Surabaya, (31/7/2026).
Dalam kunjungan perdananya, Kepala Kantor Persada FM Lamongan, Azwar Anas, datang bersama 10 anggota timnya. Ibarat seorang pejuang militan, ia tidak ingin berjuang sendirian, tetapi mengajak seluruh “kesatrianya” ikut belajar bersama. Hampir seluruh unsur dan struktur manajemen turut hadir dalam rombongan.
Baginya, ini adalah momen untuk bertumbuh, dan Suara Muslim menjadi tempat yang dipilih untuk belajar.
“Kehadiran kami semata untuk belajar, khususnya dakwah melalui media. Saat ini media menuntut inovasi. Karena itu kami memilih Suara Muslim, berharap wawasan yang kami dapatkan nanti bisa kami terapkan,” papar Anas.
Secara usia, Persada FM justru lebih senior. Radio yang lahir dari embrio Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran, Lamongan itu kini telah berusia 22 tahun, terpaut sekitar tujuh tahun dari Suara Muslim yang baru menginjak usia 16 tahun. Namun semangat yang sama dalam berdakwah akhirnya mempertemukan keduanya di ruang diskusi.
Iklim organisasi yang inklusif
“Siapapun yang berada di dunia radio, saat ini kita bukan hanya bertahan, tetapi dituntut untuk terus adaptif dan relevan,” demikian Abdul Kohar mengawali sesi berbagi.
Abdul Kohar selaku Senior Supervisor Suara Muslim Radio Network, didampingi Dani Rochmati sebagai Program Director, mulai membuka banyak hal. Mulai dari profil lembaga, segmentasi pendengar, program-program unggulan hingga karakter khas Suara Muslim dipaparkan secara terbuka agar proses benchmarking menjadi lebih mudah.
Sembari membuka slide presentasi, dengan logat khasnya, Abdul Kohar menjelaskan betapa pentingnya sebuah value bagi sebuah entitas media, terlebih radio dakwah.
“Mengapa pendengar harus mendengar Suara Muslim?” Tanya Kohar kepada seluruh peserta.
“Karena radio ini bukan sekadar radio dakwah, tetapi menghadirkan dakwah yang sahih dengan rujukan yang jelas,” imbuhnya.
Menurutnya, radio juga harus menjadi ruang edukasi sekaligus ruang solusi bagi pendengar maupun mitranya. Tak kalah penting, radio harus adaptif dan mudah diakses. Karena itulah Suara Muslim Radio Network hadir di berbagai platform, mulai dari streaming, YouTube hingga media sosial, agar dakwah semakin mudah dijangkau.
Kohar juga berbagi pengalaman yang cukup mengesankan. Suatu ketika ia membaca komentar seorang penonton saat siaran langsung di TikTok. Komentar itu begitu organik karena datang dari seseorang yang pernah ditemani oleh siaran Suara Muslim.
“Ini radio yang dulu saya dengar, tapi sekarang sudah lama tidak saya dengarkan karena radio saya rusak,” bunyi komentar tersebut.
Bagi Kohar, kalimat sederhana itu justru menjadi pengingat bahwa radio dakwah masih memiliki tempat di hati masyarakat, sekaligus menjadi alasan untuk terus optimistis menempuh jalan dakwah melalui media.

Program ramai yang terpaksa ditutup
Setiap radio tentu memiliki program ikonik. Demikian pula Suara Muslim. Ada program yang memiliki angka interaksi dan engagement tinggi, bahkan selalu dinantikan para pendengar. Namun pada akhirnya program tersebut justru harus dihentikan.
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Secara statistik program tersebut sangat baik. Namun ketika ditimbang dengan kepentingan dakwah yang lebih luas, serta masukan dari Dewan Syariah yang terus mengawal perjalanan radio dakwah ini, akhirnya program konsultasi keluarga tersebut diputuskan untuk dihentikan.
Pertimbangannya sederhana, jangan sampai ruang konsultasi justru berubah menjadi ruang ghibah.
Sebelum berpamitan, rombongan Persada FM diajak berkeliling melihat aktivitas di lingkungan Suara Muslim. Room tour meliputi ruang produksi, studio siaran, gate keeper, hingga ruang podcast.
Di akhir kunjungan, Azwar Anas menyampaikan rasa syukurnya karena disambut layaknya keluarga sendiri.
“Semoga sinergi ini bisa terus berlanjut di berbagai forum selanjutnya. Semoga Suara Muslim Surabaya semakin maju dan semakin berdampak,” harapnya.
Silaturahmi ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun semangat saling belajar yang dibangun siang itu menjadi pengingat bahwa dakwah melalui media tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Justru ketika saling membuka diri, berbagi pengalaman, dan belajar tanpa memandang siapa yang lebih senior atau lebih muda, di situlah kolaborasi menemukan maknanya.
Pewarta: Achmad Fachrurrosi
Penyunting: Muhammad Nashir

