Teladan dari Hijrah Rasulullah yang Fenomenal
Lanskap Kota Madinah.

Suaramuslim.net – Fenomena yang patut disyukuri dengan banyaknya artis hijrah akhir-akhir ini cukup menarik perhatian publik. Maklum, namanya juga publik figur, pastilah apa yang diperbuat akan menjadi konsumsi hangat. Alhasil, antusias ini berujung pada publik terikut dengan figurnya. Mulai dari update berita dan aktivitas mereka, ikutan memakai busana muslim hingga meramaikan setiap agenda dakwah yang mereka buat.

Seiring berakhirnya bulan Dzulhijjah, tahun baru hijriyah sudah di depan mata. Yaitu tahun qamariyah yang diadopsi umat Islam dengan mengabadikan momentum hijrahnya Rasulullah. Pastinya mengabadikan sebuah momen itu menunjukkan ada sesuatu yang spesial di momen tersebut. Sehingga menjadi pemakluman mengaitkan semangat dari fenomena hijrah ini dengan hijrah Rasul yang fenomenal.

Refresh ke sekian belasan abad yang lalu. Rasulullah akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Setelah sekian lama beliau beserta sahabat dan kaum muslim menerima segala siksaan baik berbentuk ucapan atau fisik yang dilacurkan kaum Quraisy. Propaganda buruk dan busuk, siksaan yang mempertaruhkan nyawa, boikot, nyata-nyata menguji konsekuensi syahadat mereka. Pun di saat menjelang hijrah segala tipu daya mereka susun demi batalnya hijrah Sang Rasul.

Singkat cerita, akhirnya Rasulullah sukses menempuh perjalanan hijrah menuju Madinah. Segala rintangan berhasil dilalui dengan upaya terbaik. Penduduk Madinah beserta Kaum Muhajirin sudah menanti-nanti kehadiran beliau. Antusias mereka tampak dengan sabarnya mata mereka mencari tanda kedatangan beliau dari arah Mekkah. Ketika kepulan debu padang pasir bergumul di udara akibat adukan rancak kaki onta, Rasulullah dan Abu Bakar membuat mereka berbinar bahagia.

Baca Juga :  Kisah Sumur Raumah dan Transaksi Rekening Tertua di Dunia

Kehadiran Sang Pencerah ini sungguh menjadi harapan masa depan mereka yang lebih baik. Alunan rebana dan salawat badar berkumandang seiring langkah Nabi memasuki Madinah.

Kepercayaan penduduk Madinah yang sangat besar kepada Rasul, mereka wujudkan dengan menyerahkan sesuatu yang sangat berharga yang mereka miliki. Sesuatu itu adalah kekuasaan, yang semula ada di tangan penduduk, mereka serahkan melalui wakil mereka kepada Rasulullaah. Dengan penuh keyakinan dan amanah, Rasul menerimanya.

Sejak itulah Rasul memiliki wewenang penuh untuk mengatur semua yang ada di Madinah tunduk dalam membumikan syariah Allah. Mulailah beliau mendirikan masjid sebagai pusat kegiatan dan pengaturan. Beliau juga mengikat masyarakat dengan menyusun Piagam Madinah. Beliau membentuk struktur pemerintahan dan menempatkan orang-orang yang kapabel di bidangnya, mulai dari posisi wakil, militer, penyebar dakwah Islam hingga hal-hal yang berkaitan terpenuhinya urusan umat.

Artinya sejak hijrahnya Rasul maka penduduk Madinah beserta kaum muslim yang hijrah di sana memulai kehidupan yang baru. Sebuah kehidupan yang dulunya berjalan dengan aturan kufur menjadi kehidupan yang berjalan dengan aturan Islam. Sebuah kehidupan yang tegak atas azas akidah Islam bukan akidah paganisme. Sebuah kehidupan yang meninggalkan penghambaan kepada manusia yang segala pengaturannya kembali kepada keridaan manusia. Menjadi kehidupan yang membumikan syariah Allah sehingga segala aspek kehidupan diatur sesuai dengan yang Allah ridai.

Baca Juga :  Hijrah Kekinian di Zaman Milenial

Sebuah kehidupan yang menerapkan Islam kaffah. Sebuah kehidupan dimana mereka menempatkan keridaan Allah sebagai puncak kebahagian. Sebuah kehidupan yang mengakhiri segala bentuk penindasan, pertikaian, dominasi yang kuat atas yang lemah menjadi kehidupan yang aman sentosa, sejahtera lahir dan batin yang mewujudkan rahmat bagi alam semesta.

Dari fragmen hidup Rasul ini kita bisa lihat dan yakini bahwa hijrah Rasul bukan sekadar berpindah tempat tanpa diikuti perubahan yang lain. Tapi juga terjadi perubahan keyakinan, perubahan kepemimpinan, perubahan tatanan kehidupan, perubahan tatanan aturan, perubahan tatanan perilaku dan penampilan. Yang semula syirik bisa menerima keberadaan agama tauhid. Yang semula kepemimpinan otoriter menjadi kepemimpinan tunggal yang melayani rakyat. Yang semula kehidupan yang serba bebas menjadi kahidupan terkendali. Yang semula mengikuti aturan manusia menjadi aturan Islam kaffah. Yang semula kehidupan amoral menjadi beradab. Artinya terjadi perubahan cara hidup yang mendasar atau hakiki. Perubahan dari tatanan kufur menjadi tatanan Islam.

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW hendaknya kita meneladani beliau sekalipun dalam masalah hijrah. Menilik kondisi umat Islam saat ini dalam keterpurukan yang parah di segala aspeknya, di mana semua kemaksiatan dengan berbagai bentuknya ada, maka sepatutnya kita memikirkan perubahan yang bagaimana untuk melepaskan umat dari kondisi ini.

Baca Juga :  Teuku Wisnu Berganti Nama Setelah Hijrah

Merefleksikan hijrah Rasul dengan kekinian ini menjadi keniscayaan. Secara fakta umat yang bobrok di masa Makkah dengan saat ini memiliki kesamaan benang merah yaitu terjadinya penghambaan kepada manusia. Di zaman Nabi digawangi oleh tatanan jahiliyah. Di zaman now bersumber pada tatanan Sekuler Kapitalis. Inilah yang menjadi pokok masalah yang mengakibatkan kerusakan, kebobrokan dan keterpurukan.

Rasulullah mengubah tatanan jahiliyah dengan hijrah ke Madinah melalui penegakan tatanan khilafah Islam. Sudah sewajarnya kita meneladani hijrah Rasul ini dengan totalitas dalam berhijrah, yakni menjadikan Allah satu-satunya pengatur seluruh aspek kehidupan. Dan yang mampu mewujudkannya hanya Khilafah Islamiyah.

Semoga bulan Muharram ini menjadi tonggak kembalinya khilafah kepada umat Islam, aamiin yaa Mujiibas Saailiin.

Hana Salamah (Pegiat Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Opini yang terkandung dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial suaramuslim.net.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.