Tiarapnya Media Mainstream dan Bangkitnya Perlawanan Nir-Kekerasan

Refleksi Agama dan Politik Akhir Tahun 2018

Suaramuslim.net – Peristiwa besar di penghujung tahun 2018 adalah tiarapnya media mainstream untuk menghantam dan memarginalisasi politik umat Islam. Tiarapnya media besar, dengan tidak meliput aktivitas politik umat Islam, bukan hanya berpengaruh pada hilangnya fungsi media yang mencerdaskan anak bangsa, tetapi telah menunjukkan keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan politik yang sedang berkuasa saat ini. Media mainstream benar-benar terkooptasi dan tergadaikan fungsinya dalam mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat. Terhegemoninya media mainstream, semakin terasa aromanya seiring dengan bergemanya pesta demokrasi untuk memilih presiden di tahun 2019.

Dari Media Mainstream Beralih ke Medsos

Cara kerja media mainstream yang kehilangan taring investigatifnya, berimbas pada terjadinya pembodohan publik. Tanpa sadar bahwa harga yang harus mereka bayar sangatlah mahal. Publik sudah mengetahui kredibilitas media selevel Kompas, tetapi anehnya justru mudah sekali dikorbankan untuk kepentingan sesaat. Kecuali kalau kalau memang sejak awal media seperti ini memiliki visi dan misi untuk memarginalisasi politik umat Islam.

Kalangan terdidik muslim di akhir-akhir ini semakin menyadari bahwa media mainstream sangat jelas perannya dalam memarginalisasi dan kriminalisasi tokoh dan ulama. Framing yang dilakukan oleh media mainstream dalam memblow-up satu kasus, yang menimpa tokoh Islam, dilakukan secara serial. Sementara media mainstream ini berupaya sebisa mungkin mengecilkan kasus yang ingin disembunyikan atau ditutup-tutupi.

Media massa yang seharusnya memiliki fungsi untuk melakukan edukasi kepada masyarakat melalui sajian berita yang informatif. Namun dalam perjalanan waktu, media ini telah masuk dan menjadi alat kekuasaan untuk membingkai berita yang memojokkan umat Islam. Peristiwa besar, seperti aksi 212 dimana umat Islam yang berjumlah lebih dari 7 juta orang berkumpul di satu titik (Monas), namun tidak diliput secara proporsional. Seolah peristiwa itu tidak ada gaungnya sama sekali. Demikian pula prestasi gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang demikian banyak dan signifikan dengan perubahan di Jakarta, tidak pernah ada berita yang diangkat oleh media mainstream ini. Tentu saja ini bukan saja terjadi penyesatan masyarakat tetapi telah terjadi bunuh diri massal media mainstream.

Baca Juga :  Karni Ilyas Sindir Denny Siregar Di Twitter

Akibat ompongnya dan hilangnya daya kritis media mainstream itu, maka publik beralih tingkat kepercayaannya kepada media sosial. Ramainya media sosial telah menjadi arah baru masyarakat dalam membagi informasi. Masyarakat sudah hilang kepercayaannya dan sangat kritis terhadap media mainstream. Dengan media sosial itu, masyarakat sudah mulai bergerak dan berani melakukan perlawanan sosial tanpa kekerasan. Masyarakat menggunakan media sosial ini untuk melakukan perlawanan simbolik. Tidak ada yang disembunyikan, sikap kritis terhadap fenomena keganjilan dan framing untuk melakukan kebohongan dari media mainstream tidak luput dari jangkauan kritis dari media sosial.

Kurang maksimalnya kinerja presiden dan janji-janji kosong terus disuarakan oleh masyarakat melalui media sosial tanpa tedeng aling-aling. Invasi tenaga kerja asing, khususnya dari Cina, diulas sedemikian dalam oleh media sosial, dan hal ini dianggap sebagai bahaya dan bencana nasional.

Media sosial benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan perlawanan nir-kekerasan. Salah satu di antara untuk menunjukkan hal itu dengan mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor 2 (Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno) secara terbuka. Fenomena salam dua jari dilakukan secara terbuka, merupakan salah satu ekspresinya tidak percayanya pada kinerja petahana. Perlawanan nir-kekerasan itu dilakukan dengan berselfie ria dengan memfoto salam dua jari di depan lawan politiknya, dalam hal ini Jokowi dan para penggedenya. Masyarakat seolah tidak ada rasa takut melakukan foto bersama meski berbeda pandangan politiknya. Hal ini berbeda dengan masa-masa yang lalu dimana rezim penguasa ditakuti dan tidak akan berani orang yang berbeda visi politik melakukan perlawanan simbolik seperti ini.

Baca Juga :  Saya Wong NU Bangga Ikut Reuni 212

Nyanyian “Jokowi Mole” di Madura menjadi tenar, padahal pemandu ingin mengajak audiens untuk menyanyikan “Jokowi pole” (Jokowi lagi) sebagai simbol untuk memilih Jokowi lagi sebagai presiden periode kedua. Masyarakat juga berani berfoto ria dan berekspresi untuk menunjukkan keinginan untuk ganti presiden dengan salam dua jari.

Mengakhiri Penyimpangan Politik

Secara politik dan agama, salam dua jari merupakan simbol perlawanan simbolik terhadap rezim yang saat ini dinilai merugikan kaum muslimin. Secara politik, publik menilai bahwa rezim ini tidak banyak memberikan keuntungan pada anak bangsa, tetapi lebih banyak memberi peluang dan keuntungan kepada “aseng”. Cina lebih banyak memperoleh keuntungan dengan menguasai ekonomi, dan selangkah lagi, bila mampu menjadikan petahana untuk jabatan kedua, maka untuk menguasai Indonesia dan seluruh sumber daya yang ada.  

Secara agama, perlawanan simbolik ini merupakan atas marginalisasi politik umat Islam. Berbagai kasus kriminalisasi ulama dan penangkapan terhadap tokoh Islam bukan hanya menjadi tren tetapi menjadi pola untuk menjinakkan umat Islam. Kalaupun memberi tempat kepada mereka yang dianggap ulama, hanyalah sebagai alat untuk memenuhi tujuan jangka panjang mereka, yakni mengamputasi pengaruh politik umat Islam.

Baca Juga :  Gerakan Umat Islam Bersatu Jatim Akan Berangkatkan Kafilah Hadiri Reuni 212

Kesadaran politik dan politik umat Islam, baik elite maupun menengah terdidik muslim, sudah mulai merata dimana rezim ini harus berakhir dan digantikan oleh sosok lain yang dianggap lebih memberikan harapan perubahan bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Tuduhan bangkitnya fundamentalisme dan radikalisme agama, hanyalah untuk menutupi kepentingan rezim yang tidak ingin kekuasaannya lolos dari genggaman tangannya. Di sinilah media mainstream dalam memainkan peran untuk memblow-up bahaya fundamentalisme dan radikalisme untuk menutup hasrat politik mereka untuk menghilangkan kesadaran masyarakat dalam mengaplikasikan kehidupan politik yang tersentuh oleh nilai-nilai agama Islam.*  

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.