Tragedi Ujung Galuh yang Tak Luruh

60
tragedi ujung galuh

Suaramuslim.net – Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Tetapi, dalam sejarah pemerintahan regent atau kebupatian (kabupaten), serta keadipatian (kepatihan) Surabaya disebut Surapringga. Dari berbagai sumber, terungkap salah satu kepala pemerintahan yang cukup melegenda adalah Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan untuk memerintah di Ujunggaluh.

Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujung Galuh sebagai pelabuhan pantai terus menarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini. Suasana Ujung Galuh berkembang pesat, menyapa rakyat, memendar asa bahagia berlabuh di sandaran Ujung Galuh yang merengkuh.

Selaksa harap mewarna di benak, ketika usiamu semakin menua seksi. Pesolek rautmu semakin elok dengan untaian taman-taman kota dan gedung gedung menjulang tinggi. Ujung Galuh berpendar menjadi kota metropolis yang terasa egois. Di bawah duli pemerintahan “Kanjeng Ratu Tri Rismaharini”, saya mengistilahkan lain dari walikota Tri Rismaharini, semua tlatah kota disulap menjadi wajah yang elok, bersih nan rupawan. Taman-taman menghiasi pojok-pojok kota, jembatan menjorok ke laut sebagai wahana pelipur lara ketika duka menyapa. Menatap hamparan laut dan langit biru serasa mendiami nirwana.

Baca Juga :  Aman Abdurrahman Dituntut Hukuman Mati

Minggu (13 Mei 2018) di tengah keriangan warga kota melaksanakan “ritual mingguan” car free day serta persiapan mempesoleki kota dengan festival rujak ulegnya, tak dinyana serentetan teror bom menyapa kota. Pagi itu, ketika ummat Kristiani sedang bersimpuh berdoa di altar gereja, serentetan dentuman bom berhamburan memekakkan rasa kemanusiaan kita, korban tak berdosa berjatuhan, perih mendengar dan merasakannya.

Teror telah menjadi hantu kota, Ujung Galuh mencekam, bahkan tak pelak Sang Ratu dengan segala nestapa yang dirasa, memerintahkan para punggawa untuk mengeluarkan maklumat. Dan hari ini maklumat yang berisi seluruh anak-anak yang bersekolah diminta belajar di rumah, demi menjaga dari hal yang tak diinginkan.

Takutkah rakyat Ujung Galuh? Serentetan sumpah serapa dan umpatan kepada pelaku teror bom menghiasi wajah media sosial, tak pelak juga sekumpulan rangkaian kata para kanjeng dan ratu menghiasi wajah media dengan segala imbauan agar rakyat tenang dan tidak takut terhadap teror.

Aksi keprihatinan digelar dimana-mana, kecaman dan serapah menghiasi wajah aksi, karena memang aksi teror tak bisa ditoleransi, memerih dalam hati, menapaki hati merobek kasih.

Baca Juga :  Mengapa Teror Harus Berbuah Teror?

Lalu Berhentikah Teror Itu?

Teror adalah sebuah perbuatan yang ditujukan untuk menimbulkan ketakutan, kegelisahan dan kecemasan. Siapa saja bisa menjadi pelaku teror. Siapa saja yang perbuatannya bisa menimbulkan kegelisahan, ketakutan dan kecemasan, dialah teroris yang sejatinya.

Betapa bisa bayangkan, berapa banyak di antara keluarga dan kerabat kita mengalami kecemasan dan kegelisahan serta ketakutan ketika mereka sakit, mereka takut tak bisa berobat dan membayar biaya rumah sakit. Belum lagi betapa banyak anak-anak dan keluarga tak menentu masa depannya, karena tak bisa bayar sekolah.

Betapa banyak keluarga di sekitar kita, tak tahu esok harus makan apa karena tak ada uang dan harta. Dan banyak lagi teror yang menyebabkan kita gelisah melihat masa depan, sebagaimana ketakutan kita pada teror bom. Saat ini ada 11.000 anak SMA dan SMK yang terteror dengan kebijakan pendidikan pemerintah kota, mereka terancam tak bisa sekolah, lalu masihkah kita membiarkan?

Nah kawan, sejatinya teror itu telah menjadi kawan kita sehari-hari, lalu mengapa harus takut? Membersamai ketakutan, kegelisahan dan kecemasan dengan kemampuan mengelola diri dan hati adalah jalan kita melawan teroris.

Baca Juga :  Tuntut Tuntaskan Amanah, Relawan Tolak Risma Jadi Cawagub

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here