Transit, Bukan Transport

Suaramuslim.net – Saat menyaksikan kematian perlahan kota-kota kita oleh kemacetan dan polusi, belum lagi kematian massal sesaat akibat kejatuhan Lion Air JT610, tiba saatnya kita memeriksa praktik transportasi kita.

Saat ini 300 orang lebih mati per bulan di jalan-jalan di Jawa Timur saja, sementara Surabaya dan sekitarnya diguyur 1200 motor baru per hari dan 100 mobil baru per hari. Sementara itu angkutan umum hidup segan mati pun tak mau.

Rezim pembangunan mobilitas kita saat ini adalah car mobility, bukan people mobility. Kota secara keliru dirancang untuk memanjakan mobilitas mobil dan motor, bukan manusia. Rezim mobilitas seperti ini dibangun di atas teknokratisme yang memihak pada pemodal besar seperti industri mobil dan motor, bukan memihak manusia kebanyakan atau wong cilik.

Seperti sekolah menggusur rumah sebagai satuan belajar, transportasi (mobilitas mekanik) menggusur transit (mobilitas metabolik) yang lebih alamiah dan informal serta juga menyehatkan seperti berjalan kaki dan bersepeda. Keluarga muda juga dini sekali jatuh dalam hutang untuk memiliki mobil dan motor.

Baca Juga :  Gus Miftah Sang Pendakwah Di Klub Malam

Pelengkap transit adalah angkutan massal publik. Keduanya dihubungkan oleh halte ataupun fasilitas park and ride. Jalan sebagai ruang publik seharusnya hanya boleh digunakan oleh angkutan publik. Angkutan pribadi harus diberi hukuman setimpal. Layanan transit dan angkutan publik adalah hak dasar bagi kehidupan masyarakat yang adil, sehat dan produktif. Tanpa layanan ini, kota-kota adalah panggung ketidakadilan brutal yang terbuka. Pemerintah yang adil harus membuktikannya dari sini.

Pemerkosaan jalan sebagai ruang publik oleh monopoli mobil dan motor telah merampas trotoar dan ruang terbuka hijau lalu meminggirkan pejalan kaki dan pesepeda serta angkutan publik. Bahkan makin besar cc mobil dan motor pribadi, pemerkosaan jalan sebagai ruang publik makin menunjukkan ketidakadilan ruang yang brutal di depan mata kita.

Saat walikota Yogya Sabtu kemarin meluncurkan Yogyabike yang menyediakan fasilitas sepeda gratis bagi warganya, saya berharap suatu ketika Yogya, juga kota-kota lain di negeri ini, akan menjadi kawasan bebas mobil dan motor. Bukan sekadar car free zone di akhir pekan, tapi car free city sepanjang pekan.

Baca Juga :  Puluhan Ribu Orang Hadiri Muslim United di Yogyakarta

Harapan ini mungkin utopis, seperti merebut kesempatan belajar tanpa bersekolah dan berpolitik tanpa partai politik. Tapi harapan utopis adalah satu-satunya yang masih tersisa agar kita sanggup melanjutkan kehidupan.

Gunung Anyar, 4/11/2018

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.