Uighur Korban Tiongkokisasi

46
Uighur korban Tiongkokisasi
(Foto: kobo.com)

Judul Buku: Uyghur Nation
Penulis : David Brophy
Penerbit : Harvard University Press, USA
Tebal : xiii + 347 halaman
Cetakan : Pertama, 2016

Suaramuslim.net – Perhatian terhadap bangsa Uighur belakangan ini meningkat. Apalagi setelah kabar penyiksaan, pemaksaan serta aneka tindak kekerasan lainnya telah dilakukan rezim Beijing secara intensif. Untuk menjustifikasi tindakan represif tersebut, rezim Beijing menghembuskan isu separatisme serta terorisme kepada penduduk Uighur di Xinjiang, kawasan Cina bagian utara. Akibatnya, banyak negara tertipu lalu larut dalam propaganda sesat rezim Beijing.

-Advertisement-

Sorotan lembaga-lembaga penegakan HAM internasional diabaikan begitu saja. Tindak kekerasan di Xinjiang tak jua surut. Apalagi Beijing sangat diuntungkan oleh propaganda global isu perang lawan terorisme yang bergema dimana-mana. Bagi Partai Komunis Cina (PKC) resonansi isu itu menjadi tameng menutupi tindak kekerasan aparat PKC ke warga Uighur. Mereka dipaksa mengikuti program-program indoktrinasi ala PKC dan tampak jelas pula upaya intensif PKC menghapus identitas Uighur. Kini, simpati luas masyarakat internasional muncul di berbagai negara. Bahkan berbagai kelompok muncul menyuarakan kepedulian pada Uighur.

Namun demikian, satu di antara masalah penting warga Uighur saat ini adalah bagaimana cara mengungkapkan ekspresi nasionalisme berbasis etnisitas. Bangsa Uighur, yakni orang-orang berbahasa Turki yang tinggal di Asia Tengah, merupakan bangsa yang terlupakan dalam sejarah modern. Bangsa ini terbelah dua secara geografis, yaitu Uighur yang menetap di Rusia dan Uighur yang berada di Provinsi Xinjiang, Cina. Penulisan historiografi Soviet dan sovietologi secara sistematis mengecualikan Lembah Tarim dari studi wilayah Asia Tengah. Di lembah itulah banyak berdiam warga Uighur. Sedangkan para sejarawan Cina, tidak hanya mereka yang dilatih di kampus-kampus Tiongkok, melainkan juga elite rezim Beijing, biasanya mengabaikan keberadaan puluhan juta minoritas Uighur.

Rezim Beijing asyik menyebarkan pelatihan-pelatihan bahasa serta budaya Tiongkok ke seluruh dunia, tapi mereka sengaja abai pada warisan budaya Uighur. Oleh karena itu, selama dua dekade terakhir, sekelompok kecil cendekiawan berasal dari berbagai latar belakang disiplin keilmuan di seluruh dunia kini berusaha mengimbanginya. David Brophy adalah salah satunya, dan ia yang paling fokus dalam kajian serta riset ihwal Uighur. Dalam buku ini, ia menulis ulang sejarah politik dan intelektual orang-orang Uighur dengan mengulasnya pada seluruh isi buku.

Baca Juga :  Terkait Muslim Uighur, Ini Desakan GUIB Jatim Kepada Pemerintah Cina

Berisi delapan bab berikut pendahuluan serta ditutup kesimpulan, tesis utama buku ini adalah bahwa bangsa Uighur muncul ketika ide-ide reformis Muslim menjadi topik utama perbincangan masyarakat Uighur. Baik warga Uighur di wilayah Soviet maupun di daratan Xinjiang membicarakan gagasan reformisme yang sohor di kalangan mereka yang disebut sebagai ”Jadidisme” (pembaharuan).

Inti gagasan ini menyangkut pada metode baru dalam pembelajaran sekaligus pendekatan terhadap kajian-kajian Islam klasik. Masyarakat Uighur termasuk masyarakat di Asia Tengah yang pada abad ke-19 sangat mengidamkan pencerahan serta membangun kembali peradaban muslim. Kedekatan masyarakat Uighur pada Turki lantas membuat kekaisaran Cina agak was-was, terutama pada dua hal. Yakni, Pan-Islamisme serta Pan-Turkisme. Keduanya dianggap ancaman. Anggapan ini terus berlangsung serta diwariskan dalam birokrasi Tiongkok walau sistem pemerintahannya sudah berubah. Dari monarki absolut ke sistem pemerintahan komunisme ala Cina.

Sebagai catatan, saat semangat ‘Jadidisme’ sedang membara di bumi Xinjiang, masyarakat modern Uighur bersatu dengan aktivisme kelompok Uighur diaspora setelah Revolusi Rusia 1917. Penyatuan ini menjadikan semangat serta upaya mempraktikkan ‘Jadidisme’ bisa berlangsung mulus karena adanya transmisi pengetahuan serta keahlian selama beberapa dekade. Pelan namun pasti rasa kebangsaan Uighur pun bangkit. Paling tidak, dalam sejarah awalnya, nasionalisme Uighur bukanlah ideologi negara yang lahir dalam buaian revolusi Soviet atau sekadar jimat identitas etnis melawan dominasi Cina. Melainkan, rasa kebangsaan Uighur itu menghujam kuat pada jati diri serta martabat etnisitas.

Baca Juga :  Akhirnya Rombongan Uighur Bisa Salurkan Bantuan untuk Korban Tsunami di Pandeglang

Pada abad ke-8 Masehi, tatkala pengaruh kekaisaran bangsa Turk surut di kawasan Asia Tengah, bangsa Uighur mengisi kekosongan kekuasaan tersebut. Dinasti Tang di Cina daratan kala itu tak bisa berbuat banyak untuk menjaga stabilitas kawasan, sehingga bangsa Uighur secara cepat berhasil menduduki kawasan yang sekarang disebut sebagai Mongolia. Bangsa petarung ini menguasai wilayah luas. Catatan arsip-arsip Tiongkok kuno menyebut, kekuasaan Uighur dibangun melalui segelintir elite dikelilingi etnis-etnis lain. Kemapanan Uighur menguasai wilayah Asia Tengah sampai Mongolia bertahan selama satu abad.

Awalnya, mereka menganut ajaran Budha karena pengaruh dari India, Persia dan Cina, dan kawasan mereka tinggal saat itu biasa disebut ‘Uyghuristan’. Kemudian, dari kawasan tersebut muncul dinasti Qarakhanid pada abad ke-10 yang secara resmi mengadopsi Islam sebagai agama mereka. Ibukota mereka ada dua, satu di Kashgar dan kedua di Balasaghun (kini, Balashagun masuk wilayah Kirgiztan). Melalui ekspedisi yang dijalankan sampai ke pinggir-pinggir Asia Tengah, dinasti Qarakhanid berhasil melampaui padang pasir Taklamakan, lalu masuk ke lembah Tarim. Inilah proses Islamisasi kawasan yang sukses dilakukan dinasti tersebut, dan berlangsung secara intensif. Sultan Satuq Bughra Khan pada abad ke-10 dari dinasti Qarakhanid lantas berhasil menjadikan wilayah ‘Uyghuristan’ sebagai wilayah muslim.

Literasi bangsa Uighur sangat tinggi, dibanding bangsa Mongol. Sehingga bangsa Mongol menjadikan para intelektual Uighur sebagai elite lingkaran Jenghis Khan. Mereka kerap mendampingi aksi-aksi penaklukan pasukan Jenghis Khan, bahkan dinasti Yuan (1271-1368) yang kemudian menguasai Cina, juga kerap dibantu oleh intelektual Uighur, dalam bidang pendidikan serta peningkatan literasi. Ketika berada di beberapa pusat kota kerajaan Cina inilah, para intelektual Uighur sering bertemu dengan komunitas muslim berbahasa Cina yang biasa disebut sebagai ‘Hui’.

Sampai abad ke-18 berbagai dinasti di Tiongkok sulit menaklukkan kawasan Uyghuristan. Jalan termudah menjaga pengaruh Tiongkok ke kawasan itu adalah melalui pengangkatan tuan tanah setempat sebagai perwakilan dinasti di sejumlah area di wilayah Uyghuristan. Sementara itu, kekhawatiran para kaisar Tiongkok terhadap pengaruh Turki terus meningkat. Maka, berbagai upaya dilakukan ke wilayah Uyghuristan guna menghambat laju pengaruh Turki tersebut. Hasilnya, muncul resistensi lokal pada para kaisar Tiongkok. Apalagi, aparat kekaisaran Tiongkok sering menerapkan pajak tinggi pada warga Uighur dan terjadi mal-administrasi yang parah di internal pemerintahan lokal yang didukung Tiongkok.

Baca Juga :  Uighur, dan Kita

Pada 1864, terjadi pergolakan muslim berbahasa Cina di Shanxi dan Ghangzu. Pergolakan ini segera saja memantik simpati muslim Uighur yang ikut mempertanyakan cara-cara dinasti Tiongkok memerintah.

Melalui kepemimpinan Dawud Khalifa, tokoh sufi Xinjiang, perlawanan terhadap dinasti Tiongkok berlangsung cukup sengit dan masif. Bahkan banyak warga Kazakh berada di belakang Dawud. Apalagi kemudian juga muncul serangan tak terduga Yaqub Beg asli Kokandi ke kawasan Xinjiang. Serangan ini kian memperlemah pengaruh dinasti Qing. Namun sayang, memasuki tahun 1877, Yaqub Beg mendadak meninggal di Kashgari, sedangkan Dawud tak diketahui kiprahnya lagi. Pasukan Yaqub terbelah, sebagian mengakui kekaisaran Tiongkok, sedangkan sebagian lagi tetap melakukan perlawanan.

Bangsa Uighur kembali berada dalam masa kekosongan kekuasaan di kawasan Uyghuristan dimana lembah Tarim berada di dalamnya. Sampai kemudian perjanjian antara Tiongkok dan Rusia digelar di Saint Peterburgh pada 1881, yang sangat mempengaruhi dinamika sosial di kawasan Xinjiang karena Rusia ingin juga menebar pengaruh ke kawasan tersebut.

Jika melihat peta geografis kawasan Xinjiang ini, maka siapapun akan segera tahu betapa strategisnya kawasan ini karena berada dalam berbagai jalur perlintasan, termasuk pada masa modern sekarang ini. Sepertinya, rezim Beijing memang berupaya sekuat tenaga men-Tiongkok-kan Uighur demi mencapai keuntungan tiga hal, yaitu geopolitik, geo-strategis dan geo-ekonomi.

Rosdiansyah
Alumni FH Unair dan master studi pembangunan dari ISS, Den Haag, Belanda. Peraih beragam beasiswa internasional. Kini, periset pada the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi/JPIP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.