Suaramuslim.net – Katanya Gen Z itu seperti stroberi.
Menarik dilihat. Segar.
Tapi ditekan sedikit, memar.
Kalimat ini sering kita dengar.
Seolah-olah menjadi kesimpulan.
Padahal, belum tentu itu jawaban.
Memang, sebagian data menunjukkan
Gen Z lebih rentan terhadap tekanan mental.
Lebih cepat merasa lelah.
Lebih sensitif terhadap lingkungan.
Tapi mari kita lihat dari sudut yang berbeda.
Bisa jadi, mereka bukan lemah.
Mereka hanya belum selesai ditempa.
Seperti baja.
Baja tidak pernah kuat sejak awal.
Ia menjadi kuat, karena proses.
Dipanaskan.
Dipukul.
Dibentuk.
Bukan sekali.
Tapi berkali-kali.
Semakin sering ditempa,
semakin kuat strukturnya.
Begitulah manusia.
Dan di sinilah menariknya.
Di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), proses itu nyata.
Mahasiswa tidak hanya belajar teori.
Mereka diuji setiap hari.
Ada tugas.
Ada laporan pendahuluan.
Ada laporan akhir.
Ada revisi.
Ada project demi project.
Ada lomba yang datang silih berganti.
Kadang terasa berat.
Kadang melelahkan.
Kadang ingin menyerah.
Tapi justru di situlah prosesnya.
Bukan sekadar menguatkan vokasi.
Bukan hanya soal skill teknis.
Tapi sedang dibangun sesuatu yang lebih dalam,
mental.
Mental untuk bertahan.
Mental untuk menyelesaikan.
Mental untuk bangkit ketika salah.
Setiap laporan itu bukan beban.
Ia adalah “pukulan kecil” yang membentuk.
Setiap project atau lomba itu bukan sekadar nilai atau juara.
Ia adalah “pemanasan” sebelum masuk dunia nyata.
Karena dunia kerja,
tidak memberi soal pilihan ganda.
Ia memberi tekanan.
Ia memberi target.
Ia memberi ketidakpastian.
Dan yang terbiasa ditempa,
akan lebih siap menghadapi.
Maka wajar,
ketika alumni PENS dikenal siap.
Siap bekerja.
Siap berkarya.
Bahkan siap tampil menjadi “entertainer” dalam makna luas.
Membawa nilai, memberi dampak, dan hadir di tengah masyarakat.
Karena mereka sudah terbiasa.
Terbiasa jatuh, lalu bangkit.
Terbiasa salah, lalu memperbaiki.
Terbiasa ditekan, tapi tidak hancur.
Di titik ini, kita mulai paham.
Gen Z bukan stroberi.
Mereka bisa jadi baja.
Tapi dengan satu syarat.
Harus mau ditempa.
Dan lingkungan juga harus berani menempa.
Bukan memanjakan.
Bukan melindungi berlebihan.
Karena yang tidak pernah kena tekanan, tidak akan pernah tahu kekuatannya.
Pada akhirnya, bukan soal generasinya.
Tapi soal prosesnya.
Apakah kita membiarkan mereka tetap “indah tapi rapuh”.
Atau kita ajak mereka menjadi “kuat dan berdampak”?
Pilihan itu ada pada kita.
Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

