Suaramuslim.net – Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Ayat di atas itu menjelaskan bahwa keluarga harus menjadi keluarga ahli surga. Yaitu keluarga yang ketika di dunia menjaga perintah dan larangan Allah, sehingga kelak menjadi keluarga surgawi yang ahli jannah (penghuni surga). Tapi apakah keluarga ahli jannah itu sama dengan baiti jannnati?
Harus diluruskan dulu tentang istilah yang sangat populer di masyarakat yaitu ‘baiti jannati’ yang diartikan dengan rumahku adalah surgaku. Atau seolah bisa juga diartikan dengan di rumahku bagaikan berada di surga.
Asal-usul istilah baiti jannati
Pertama yang harus diluruskan tentang asal usul istilah ‘baiti jannati’, dari mana itu?
Sesungguhnya itu bukan dari hadis atau perkataan sahabat, atau ulama terdahulu.
Namun ini istilah muncul di era modern yang merupakan istilah untuk menggambarkan tentang rumah tangga yang harmonis, bahagia, tenang bagaikan surga.
Kedua, harus diluruskan bahwa menjadikan rumah tangga bagaikan surga yang selalu tenang, selalu bahagia, tidak ada masalah, itu akan mengecewakan. Kenapa?
Bagaimana mungkin menjadikan rumah tangga bagaikan surga yang selalu nikmat bahagia sedangkan kita masih hidup di dunia yang tidak luput dari dua hal; bahagia dan susah, senang dan duka?
Keluarga dari orang hebat pun tidak luput dari duka karena perselisihan, contohnya;
Aisyah sempat kecewa kepada Nabi Muhammad saat terjadi fitnah kasus hadis ifk (tuduhan orang munafik bahwa ada perselingkuhan antara Aisyah dan Showan bin Mu’athol).
Bagaimana pula saat Nabi Muhammad tidak menyapa istri-istrinya selama sebulan gara-gara mereka meminta sesuatu yang tidak disukai Nabi (kasus Perang Ahzab, Bani Quraizah).
Seperti juga kasus Nabi Muhammad menceraikan Hafshah binti Umar. Disebabkan Hafsah membocorkan rahasia Nabi kepada Aisyah bahwa Nabi telah makan madu di rumahnya Zainab binti Jahsy. Sehingga Nabi mengharamkan pada dirinya untuk tidak minum lagi madu. Maka turunlah ayat;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1).
Dan kasus keluarga para sahabat yang muncul perselisihan di antara mereka. Misal di Surat Al-Mujadilah (ayat 1-4) berkaitan dengan kisah Khaulah binti Tsa’labah yang mengadu kepada Nabi Muhammad mengenai suaminya, Aus bin Shamit, yang men-zihar dirinya (mengharamkan istri seperti punggung ibunya). Ayat ini turun sebagai jawaban Allah atas dialog/gugatan Khaulah.
Dan banyak kasus lainnya terkait duka dalam rumah tangga orang beriman.
So… Kalau pun istilah ‘baiti jannati’ ini diterima sebagai hal positif maka makna yang pas itu baiti jannati adalah rumah tangga yang penuh berkah dan rahmat. Berkah di saat senang dan berkah di saat susah.
Ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saat mengajarkan umat sebuah doa bagi yang melangsungkan akad nikah.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَّأَ الْإِنْسَانَ إِذَا تَزَوَّجَ، قَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan selamat kepada seseorang ketika menikah, beliau mengucapkan, “BAARAKALLAAHU LAKA WA BAARAKA ‘ALAIKA WA JAMA’A BAINAKUMAA FII KHAIRIN.” (Semoga Allah memberkahimu di saat suka dan senantiasa memberkahimu di saat duka dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.)”
Sehingga dari sini kalau istilah baiti jannati itu diterima maka yang tepat artinya adalah “rumahku adalah berkahku”.
Baiti jannati, rumahku adalah berkahku
Bagaimana meraih dan menjadikan rumah kita seperti baiti jannati, yang berarti rumahku adalah berkahku?
Melandasi rumah tangga dengan iman dan takwa
Baiti jannati dapat diraih hanya dengan menjadikan rumah tangga itu berlandaskan kepada keimanan yang satu, tauhid kepada Allah semata. Karena hanya dengan keimanan yang sama itulah baiti jannati yang berkah dunia dan akhirat akan terbentuk.
Lihat surat Ar Ra’du ayat 23:
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ
(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.
Ibnu Katsir memberikan komentar kalimat و من صلح من اباءهم dalam ayat itu yang ;
“Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi, tanpa mengurangi derajat keluarganya yang tinggi (agar mereka berkumpul di dalam surga yang sama derajatnya).”
(Tafsir Ibnu Katsir)
Perhatikan pula Surat At Thur ayat 21
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Keimanan inilah yang meyatukan kembali keluarga yang terpisah (di dunia) di akhirat kelak. Pertahankan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya apapun yang terjadi.
Baiti jannati juga dapat terwujud dengan landasan takwa sebagai aplikasi keimanan. Ada ayat cukup membuat kita kaget di surat Az-Zukhruf ayat 67.
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
Ayat itu menunjukkan bahwa kelak di akhirat suami istri yang nampak romantis ketika di dunia akan saling bertengkar membela diri masing-masing, saling bermusuhan kecuali hubungan mereka dilandasi takwa.
Artinya, suami istri yang hidup nampak bahagia, materi berlimpah, anak-anak sukses, namun tidak dilandasi ketakwaan, maka kelak mereka akan saling bermusuhan di akhirat.
Namu jika beriman kepada Allah dan bertakwa maka akan hidup menyatu dalam kebahagiaan surgawi.
Perhatikan lanjutan ayat itu di Az Zukhruf ayat 70. Allah mempersilakan suami istri bareng masuk surga dan bergembira;
ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ أَنتُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ تُحْبَرُونَ
Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.
Diperkuat juga dengan firman Allah dalam surat Yasin ayat 56;
هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan (di surga).
Mewujudkan takwa dalam membangun baiti jannati
1. Takwa dengan menanamkan niat yang benar dan tertata ketika membangun keluarga yang baiti jannati ini. Niat semata-mata mendapatkan ridha dan berkah dari Allah.
2. Takwa itu adalah menjadikan syariat sebagai standar dalam aktifitas keluarga.
3. Takwa itu menjadikan Allah sebagai tumpuan harapan problem solving dengan ikhtiar dan doa.
4. Takwa itu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai hiasan utama rumah tangganya.
5. Takwa itu menjadikan suami sebagai pribadi yang saleh dan istri yang salehah.
Wahai para suami, jadilah manusia terbaik yaitu yang terbaik terhadap keluarganya. Suami yang terbaik adalah suami yang baik sikapnya kepada istri dan keluarganya.
Nabi Muhammad bersabda;
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :
( خيركم خيركم لأهله ، وأنا خيركم لأهلي ، ما أكرم النساء إلا كريم ، ولا أهانهن إلا لئيم )
Tidaklah yang menghormati wanita-wanita kecuali orang mulia. Dan tidaklah yang menghinakan wanita kecuali orang yang hina pula.
Suami yang terbaik adalah ada dan tiadanya selalu dikenang sebagai kebaikan bagi istri dan anak-anaknya.
Adapun istri salehah, adalah istri selalu beramal saleh, yang taat dan selalu menjaga kehormatan suaminya. Istri model inilah yang kelak dapat memasuki surga dari pintu manapun dia mau.
Dari Abdurrahman bin Auf Nabi Muhammad bersabda;
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (Riwayat Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471)
6. Takwa itu ada menjadikan suami istri menjadi pribadi bersyukur dan bersabar.
Enam komponen takwa inilah yang akan membentuk rumah tangga menjadi baiti jannati yaitu rumah tangga yang penuh keberkahan baik di saat senang maupun susah.
Wallahu a’lam
M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
15 April 2026/26 Syawwal 1446

