Jangan tunggu sampai finish untuk bahagia

Di Manakah Letak Kebahagiaan Itu

Suaramuslim.net – Kita hampir setiap hari membaca doa yang sama:
“Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.”

Doa yang sederhana, tapi menyimpan arah hidup yang sangat jelas.

Ada dua hal yang diminta:
kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat.

Ini bukan sekadar doa.
Ini adalah kompas.

Bahwa hidup ini bukan hanya tentang akhirat,
tapi juga tidak boleh kehilangan makna di dunia.

Ada keseimbangan di sana.

Namun dalam praktiknya,
kita sering keliru.
Kita menunda bahagia.

Kita berkata,
“nanti saja bahagia, kalau sudah lulus…”
“nanti saja bahagia, kalau sudah sukses…”
“nanti saja bahagia, kalau sudah sampai di tujuan…”

Seolah-olah bahagia itu hanya ada di garis finish.
Padahal hidup ini bukan hanya tentang finish.
Hidup adalah perjalanan.

Bayangkan hidup ini seperti 10 langkah.
Langkah 1 sampai langkah 10.

Masalahnya,
kita sering hanya ingin tersenyum di langkah ke-10.

Lalu bagaimana dengan langkah 1 sampai 9?
Apakah kita ingin melewatinya dengan keluhan?

Padahal kita tidak pernah tahu,
di langkah ke berapa Allah akan memanggil kita.

Bagaimana kalau di langkah ke-3?
Atau ke-7?
Atau ke-9?

Kalau sepanjang itu kita tidak pernah benar-benar bahagia,
maka kita kehilangan terlalu banyak bagian dari hidup.

Dan di situlah kita lupa satu hal penting, di setiap langkah pasti ada ujian.

Allah sudah mengingatkan:

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…” (Terjemah Q.S. Al-Baqarah: 155)

Rasulullah juga bersabda:

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”

Artinya,
ujian bukan tanda kita salah jalan.
Justru tanda kita sedang naik level.
Setiap langkah punya ujiannya sendiri.

Langkah pertama diuji dengan keraguan.
Langkah berikutnya diuji dengan rasa takut.
Kemudian diuji dengan perbandingan, kelelahan, kejenuhan, hingga hampir menyerah.

Dan semua itu bukan untuk menjatuhkan.
Tapi untuk membentuk.

Seperti dalam dunia teknik,
tidak ada sistem yang langsung sempurna.

Semua melalui proses:
trial, error, perbaikan.

Material yang kuat pun tidak lahir dari sekali proses.
Baja ditempa berulang-ulang.
Dipanaskan.
Dipukul.
Dibentuk.
Baru menjadi kokoh.

Begitu juga manusia.
Mahasiswa merasakannya dalam setiap semester.
Semester 1, 2, 3, sampai 8.
Di dalamnya ada kuis, tugas, laporan, revisi, presentasi.

Tugas akhir atau skripsi memang puncak.
Tapi kalau dari semester awal kita tidak pernah menikmati proses,
maka kita kehilangan esensi dari pendidikan itu sendiri.

Yang terbentuk bukan hanya nilai,
tapi mental.

Yang terbangun bukan hanya kelulusan,
tapi ketangguhan.

Begitu juga dalam dunia kerja.
Karier tidak instan.

Dimulai dari bawah,
lalu naik tahap demi tahap.

Strukturnya seperti piramida.
Semakin ke atas,
semakin sedikit yang sampai.

Karena hanya mereka yang lulus dari setiap ujian
yang akan naik ke level berikutnya.

Di awal diuji adaptasi.
Di tengah diuji tanggung jawab.
Di atas diuji kepemimpinan.
Lebih tinggi lagi diuji tekanan keputusan.

Semakin tinggi,
semakin besar ujiannya.

Namun juga…
Semakin dalam makna kebahagiaannya.

Kalau kita ingin melihat gambaran yang lebih nyata…
Ibarat seorang pecinta alam yang mendaki gunung.
Ia tidak hanya fokus pada puncak.
Ia menikmati setiap langkahnya.

Kadang jalannya licin.
Kadang menanjak tajam.
Kadang penuh kerikil yang menguji langkah.

Namun di setiap perjalanan itu,
ia tetap berjalan
sambil menikmati pemandangan di sekitarnya.

Udara yang segar.
Hamparan hijau.
Langit yang luas.

Ia tidak menunda bahagia sampai puncak.

Karena kalau itu yang terjadi,
ia akan kehilangan seluruh keindahan perjalanan.

Dan benar…
Ketika sampai di puncak,
pemandangannya luar biasa.

Bukan hanya kanan dan kiri.
Tapi 360 derajat.
Bahkan bisa melihat ke bawah,
melihat perjalanan yang telah dilalui.

Namun ada satu hal yang sering tidak kita sadari.

Seorang pendaki yang bijak tahu
bahwa setelah sampai di puncak,
ia harus siap untuk turun.

Turun dengan ikhlas.
Turun dengan legowo.
Tidak melekat pada puncak itu.

Karena ia tahu
perjalanan belum selesai.

Akan ada gunung berikutnya.
Akan ada tantangan yang lebih tinggi.
Akan ada puncak lain yang harus dituju.

Di situlah letak maknanya.
Bahwa puncak bukan untuk dimiliki.
Tapi untuk dilalui.

Maka kembali ke doa kita.

Rabbana atina fid dunya hasanah…

Bahagia di dunia itu bukan hanya di hasil.
Tapi di setiap langkah.
Di setiap proses.
Di setiap ujian.

Karena kita tidak tahu,
Allah akan memanggil kita di langkah ke berapa.

Maka pastikan…
Di langkah mana pun kita hari ini,
kita menjalaninya dengan penuh kesadaran,
penuh makna,
dan penuh kebahagiaan.

Lalu…
Apakah sebenarnya puncak kebahagiaan itu…?

Monggo, silakan komen,
apa definisi puncak kebahagiaan Anda.

Dengan tetap menikmati setiap proses,
dengan penuh kebahagiaan.

Salam semangat.
Salam kebahagiaan.

Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.