Suaramuslim.net – Banyak orang tua ingin anaknya mandiri, dewasa dan produktif. Tetapi, jujur saja, banyak dari kita yang justru tidak tahan, alias tidak tega melihat anak berproses menjadi mandiri.
Anak agak lama memakai sepatu, kita ambil alih. Anak lupa membawa buku, kita antar. Anak bangun kesiangan, kita yang panik. Anak menghadapi masalah kecil dengan temannya, kita segera hadir menjadi penyelamat. Bahkan kadang sebelum anak minta bantuan, kita sudah bergegas memberi bantuan.
Semua itu kita lakukan atas nama sayang. Dan memang betul sayang. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah. Tetapi tidak semua bentuk sayang otomatis mendidik. Ada kasih sayang yang menguatkan. Ada juga kasih sayang yang tanpa kita sadari membuat anak semakin manja dan bergantung pada orang tua.
Ini yang sering luput disadari: kemandirian tidak lahir dari nasihat panjang. Tidak dengan kata-kata. Ia lahir dari latihan kecil yang diulang-ulang dan terus menerus.
Anak bisa saja mendengar ceramah setiap hari. Tetapi kalau hidupnya selalu diatur orang lain, ia tidak sungguh-sungguh belajar. Anak bisa diberi tahu bahwa tanggung jawab itu penting. Tetapi kalau setiap harus bertanggung jawab, segera diambil alih orang dewasa. Akhirnya anak hanya tahu definisi. Ia belum pernah merasakan beban dan konsekuensinya.
Di sinilah pendidikan karakter sering berhenti sebagai slogan. Indah diucapkan, tapi kurang dipraktikkan. Anak hafal kata “mandiri”, tetapi tidak diberi cukup ruang untuk berlatih mandiri.
Nilai harus dipraktikkan
Dalam sirah (sejarah) Nabi, ada pelajaran yang sederhana, tetapi sangat dalam. Rasulullah SAW pernah menggembala kambing. Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari, beliau menjelaskan bahwa para nabi pernah menggembala. Para sahabat lalu bertanya, apakah beliau juga pernah melakukannya. Beliau menjawab: ya, beliau pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan upah sederhana.
Sekilas, menggembala tampak seperti pekerjaan biasa. Tetapi kalau direnungkan, di sana ada sekolah karakter yang kuat. Tidak ada kapur dan papan tulis. Tidak ada modul pelatihan. Tidak ada guru di depan kelas. Yang ada hanya amanah nyata.
Coba kita amati. Seorang penggembala harus sabar. Harus awas. Harus menjaga yang lemah. Harus memperhatikan gerak kawanan. Harus tahu kapan membiarkan, kapan mengarahkan, kapan mengejar yang mulai menjauh. Kalau lengah, ada yang tersesat. Kalau ceroboh, ada yang celaka.
Dari pekerjaan yang tampak sepele itu, kita belajar bahwa karakter sering tumbuh dari amanah kecil yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Rasulullah SAW tidak hanya mengenal tanggung jawab sebagai definisi. Beliau mengalami sendiri, sebagai sebagai dari kerja. Bukan hanya tahu, tetapi menjalani. Bukan hanya mendengar bahwa amanah itu penting, tetapi memikul sendiri amanah itu.
Ini pelajaran penting bagi pendidikan anak hari ini: nilai tidak cukup hanya diceramahkan. Nilai harus diberi ruang untuk dipraktikkan.
Dalam teori psikologi perkembangan, ada konsep yang dikenal sebagai executive function. Akar konsep ini sering dikaitkan dengan Alexander Luria, ahli neuropsikologi Rusia, yang sejak 1960-an membahas peran otak bagian depan dalam mengatur perilaku manusia.
Istilah executive function kemudian banyak dipakai dalam neuropsikologi setelah Muriel Deutsch Lezak memperkenalkannya pada 1982.
Istilah executive function memang terdengar akademik. Kata executive di sini bukan berarti jabatan eksekutif seperti direktur atau manajer perusahaan. Maknanya lebih dekat dengan fungsi “pengendali” atau “pengatur” dalam diri manusia. Seperti seorang pengarah yang membantu seseorang menentukan prioritas, menahan dorongan, membuat rencana, dan menyelesaikan tugas.
Karena itu, executive function sebenarnya dekat sekali dengan hidup sehari-hari: kemampuan anak mengatur diri, fokus, mengingat tugas, membuat rencana, menahan keinginan sesaat, mengambil keputusan, dan menyelesaikan pekerjaan.
Kemampuan ini memang tidak tiba-tiba muncul saat anak dewasa. Ia dilatih dari hal kecil. Menyiapkan tas sendiri. Bangun lebih pagi. Memakai kaos kaki sendiri. Mengatur uang jajan. Menjaga barang pribadi. Membantu pekerjaan rumah. Berani menerima akibat ketika lalai.
Ketika anak lupa membawa buku, orang tua tidak selalu buru-buru mengantar, anak belajar bahwa kelalaian punya konsekuensi. Kalau uang sakunya habis, ia belajar bahwa keinginan perlu dikendalikan. Kalau ia terlambat ke sekolah, ia belajar bahwa waktu tidak bisa ditawar.
Itu semua bukan hukuman. Itu latihan hidup.
Kemandirian sejak dini juga penting untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Sebab wirausaha bukan hanya soal berjualan atau mencari uang. Di dalamnya ada keberanian mengambil inisiatif, membaca peluang, mengelola risiko, melayani orang lain, dan bertanggung jawab atas keputusan.
Anak yang terbiasa mandiri sejak kecil akan lebih mudah memahami bahwa nilai lahir dari usaha, bukan dari sekadar meminta. Ia belajar bahwa hasil tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui proses. Proses yang mereka latih di antaranya disiplin, kepercayaan, dan keberanian mencoba.
Maka pengalaman menggembala dan berdagang dalam sirah Nabi bisa dibaca sebagai garis pendidikan yang utuh dan lengkap, dari amanah personal menuju kemandirian sosial-ekonomi.
Mendidik dan mendampingi
Tentu saja, proses mendidik anak bukan berarti membiarkan anak sendirian. Bukan begitu. Anak tetap perlu pendampingan. Tetapi mendampingi jelas berbeda dengan mengambil alih.
Dalam teori pendidikan, gagasan ini dekat dengan konsep scaffolding yang diperkenalkan oleh David Wood, dkk (1976) dalam artikel “The Role of Tutoring in Problem Solving”.
Kalau diterjemahkan secara sederhana, scaffolding bisa dipahami sebagai tangga bantu dalam proses belajar anak. Anak diberi bantuan secukupnya agar bisa naik ke tahap berikutnya. Tetapi bantuan itu tidak dimaksudkan untuk selamanya. Setelah anak mulai mampu, bantuan dikurangi perlahan.
Ibarat anak belajar naik sepeda dengan roda bantu. Pada awalnya, roda bantu itu membuat anak berani mengayuh. Tetapi ketika keseimbangannya mulai terbentuk, roda bantu harus dilepas bertahap.
Saya kira, inilah yang penting dilakukan orang tua. Membantu, tetapi tidak menjadikan bantuan itu permanen. Bukan selamanya. Awalnya anak ditemani. Lalu diarahkan. Setelah itu cukup diawasi. Setelah itu dilepas berlahan dan anak siap mandiri.
Menjadi mentor profetik anak
Dalam bahasa yang lebih dekat dengan nilai Islam, orang tua perlu menjadi mentor profetik. Bukan sekadar memberi nasihat, tetapi pembimbing dan memberi teladan. Orang tua memberi tugas, mendampingi proses, lalu memberi kepercayaan.
Mentor profetik tidak memanjakan anak atas nama cinta. Tetapi juga tidak otoriter pada anak atas nama disiplin. Ia tahu kapan hadir, kapan menahan diri, dan kapan mendorong anak untuk mencoba.
Sirah Nabi juga menunjukkan kemandirian sosial-ekonomi melalui aktivitas perdagangan pada masa muda. Beberapa kitab sirah menyebut Nabi Muhammad SAW pernah ikut Abu Thalib dalam perjalanan dagang ke Syam saat masih muda.
Dari sini kita bisa mengambil hikmah: anak perlu dikenalkan pada dunia nyata. Perlu belajar berinteraksi. Perlu mendapat kepercayaan. Perlu berlatih kerja. Mengenal akhlak dan adab dalam berurusan dengan orang lain.
Anak-anak sekarang, memang tidak harus menggembala kambing. Mereka hidup di zaman berbeda. Tetapi nilai latihannya tetap sama.
Anak tetap perlu diberi latihan memegang amanah kecil. Anak tetap perlu belajar mengatur diri. Anak tetap perlu merasakan tanggung jawab. Anak tetap perlu tahu bahwa tidak semua keinginannya harus dipenuhi saat itu juga.
Anak boleh hidup nyaman, orang tua berkecukupan, tetapi jangan sampai kehilangan daya juang. Anak boleh dibantu, tetapi jangan sampai tumbuh sebagai pribadi yang selalu menunggu diselamatkan.
Banyak orang tua ingin anaknya kuat. Tetapi sering tidak tega memberi latihan pada anak. Ini paradoks. Kita ingin anak tangguh, tetapi terlalu cepat menghapus setiap ketidaknyamanan. Padahal latihan “ketidaknyamanan” justru perlu dialami dalam dosis yang wajar agar anak belajar menguatkan dirinya.
Kemandirian memang tidak bisa selesai lewat ceramah. Ia harus dicicil. Dilatih. Dikuatkan sedikit demi sedikit. Kadang lewat tugas yang tampak remeh. Kadang lewat konsekuensi kecil. Kadang lewat keberanian orang tua untuk menahan diri, tidak langsung membantu, dan memberi anak kesempatan mencoba.
Ke depan, InsyaAllah akan tiba hari di mana anak-anak harus berjalan tanpa kita di sampingnya. Pada hari itu, yang paling menolong mereka bukan hanya nasihat yang pernah kita ucapkan, tetapi pengalaman panjang saat mereka belajar memikul tanggung jawab dengan kaki, tangan, dan hati mereka sendiri.
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim

