Suaramuslim.net – Superpower pun kadang harus mundur pelan-pelan; tanpa terlihat kalah; karena papan catur dunia telah berubah. Yang penting tetap tampak sangar, meski sesungguhnya sedang mencari pintu keluar sebelum semuanya benar-benar rungkad.
Ada satu hal yang selalu lucu dalam sejarah dunia: negara besar itu jarang sekali mau mengaku kalah.
Kalau kalah, mereka tidak bilang kalah.
Mereka bilang: strategic repositioning.
Kalau orang kampung seperti kita, itu artinya sederhana saja: mundur, tapi sambil pura-pura lagi atur langkah.
Begitulah kira-kira suasana hati Amerika Serikat sekarang. Di depan kamera mereka masih tegap seperti kapten kapal induk yang baru selesai latihan tinju. Dada dibusungkan, suara berat, kata-kata besar beterbangan di udara seperti meriam retorika.
Namun kalau kita lihat lebih dekat, seperti melihat pemain catur yang sudah mulai kehabisan langkah, kita akan melihat sesuatu yang lain: mereka sedang mencari pintu keluar dari papan permainan, tapi tetap ingin terlihat seperti juara turnamen.
Sejarah Amerika memang agak romantis kalau soal mundur dari perang.
Di Vietnam, dunia melihat helikopter beterbangan dari Saigon, seperti burung bangau yang tiba-tiba panik karena musim hujan datang terlalu cepat.
Di Afghanistan, dunia kembali melihat adegan yang hampir sama. Pesawat lepas landas dari Kabul dengan suasana yang tidak jauh beda dari terminal bus menjelang Lebaran.
Perang panjang.
Biaya triliunan dolar.
Koalisi NATO.
Tapi ujung ceritanya tetap saja seperti novel yang terlalu panjang: tokoh utamanya akhirnya pulang kampung juga.
Sekarang bayangkan jika cerita itu diulang lagi dengan Iran.
Iran ini bukan pemain figuran. Ia seperti pendekar tua dalam cerita silat: tidak banyak bicara, tapi punya banyak murid di berbagai tempat. Doktrin perang asimetrisnya rapi. Milisinya tersebar. Pegunungannya seperti benteng alami yang membuat siapa pun berpikir dua kali untuk menyerbu.
Kalau perang besar benar-benar terjadi, itu tidak akan seperti film Hollywood yang selesai dalam dua jam. Itu lebih mirip sinetron yang episodenya tidak habis-habis.
Dan di situlah dilema besar Amerika muncul.
Kalau maju perang, risikonya mahal sekali. Kalau mundur terang-terangan, wibawa globalnya bisa retak seperti gelas teh yang jatuh dari meja.
Karena selama puluhan tahun, banyak negara di dunia hidup di bawah satu payung besar: payung keamanan Amerika.
Negara-negara NATO berdiri di bawah payung itu. Negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar juga membuka pangkalan militer Amerika karena percaya payung itu kokoh.
Tapi bayangkan kalau suatu hari dunia melihat Amerika mundur lagi dari medan perang.
Pertanyaan yang muncul bisa sederhana, tapi sangat berbahaya:
“Kalau begitu, payungnya masih kuat nggak?”
Begitu pertanyaan itu muncul, dunia bisa berubah arah.
NATO mungkin mulai berpikir lebih mandiri.
Negara Teluk mungkin mulai melirik penjaga baru.
Dan di kejauhan sana, blok BRICS makin ramai seperti pasar pagi yang tiba-tiba penuh pedagang baru. Yuan Tiongkok mulai berjalan-jalan di perdagangan global seperti anak muda yang percaya diri.
Pelan-pelan, papan catur dunia sedang digeser. Maka strategi Amerika sekarang sebenarnya cukup jenaka kalau dilihat dari jauh: menggantung situasi.
Tidak maju terlalu jauh.
Tidak mundur terlalu jelas.
Yang penting tetap terlihat gagah.
Kalau istilah anak-anak Jawa Timur:
sing penting tetep kelihatan mbois.
Karena kalau sampai dunia benar-benar percaya bahwa sang superpower mulai kehilangan taringnya, maka cerita abad ke-21 bisa berubah seperti novel yang tiba-tiba mengganti tokoh utama di tengah cerita.
Aliansi bergeser.
Ekonomi berubah arah.
Dan bangunan kekuatan global yang selama ini terlihat kokoh bisa saja tiba-tiba ambyar.
Begitulah geopolitik. Kadang ia tidak jauh beda dengan cerita di kampung: yang paling penting bukan siapa yang menang.
Tapi siapa yang berhasil pulang tanpa kelihatan kalah?
Catatan Geopolitik Agus M Maksum
Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

