Suaramuslim.net – Musyawarah Wilayah ICMI Jawa Timur 2026 seharusnya tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, momentum ini layak dijadikan titik balik untuk mengembalikan ruh ICMI sebagai gerakan intelektual yang hidup di tengah umat, berpikir strategis untuk bangsa, sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Dulu, ICMI lahir bukan sekadar sebagai ruang berkumpul kaum cendekia. Ia tumbuh sebagai kekuatan gagasan yang melahirkan gerakan sosial-ekonomi konkret.
Di tangan tokoh-tokoh seperti B. J. Habibie, Adi Sasono, Dawam Rahardjo, dan Nurcholish Madjid, ICMI tidak berhenti pada seminar dan diskusi, tetapi melahirkan instrumen perubahan nyata bagi umat dan bangsa.
Dari rahim gagasan itu lahir Republika sebagai media intelektual umat, Bank Muamalat Indonesia sebagai pionir ekonomi syariah nasional, hingga gerakan koperasi dan penguatan ekonomi desa sebagai basis kemandirian rakyat.
ICMI kala itu hadir sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, moralitas Islam, dan pembangunan nasional.
Spirit itulah yang hari ini mulai dirindukan kembali.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks; mulai dari ketimpangan ekonomi, dominasi kapitalisme global, disrupsi teknologi, krisis moral generasi muda, hingga melemahnya daya pikir kebangsaan; ICMI tidak cukup hanya hadir sebagai organisasi seremonial. ICMI harus kembali menjadi pusat gagasan dan gerakan solusi.
Karena itu, Muswil ICMI Jatim 2026 membutuhkan keberanian untuk menemukan kembali jalan pulang: menjadikan ICMI sebagai gerakan intelektual yang membumi, berpihak pada rakyat, dan memiliki agenda besar pembangunan peradaban.
Di titik ini, penting menghidupkan kembali semangat “Sumitronomic” dan “Habibienomic”. Mengapa?
Pemikiran Sumitro Djojohadikusumo menekankan pentingnya kemandirian ekonomi nasional, pembangunan industri strategis, dan keberpihakan pada kekuatan ekonomi rakyat.
Sementara Habibie meletakkan fondasi bahwa bangsa yang besar harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak menjadi bangsa konsumen dan antek kekuatan asing.
Dua arus pemikiran itu sejatinya dapat menjadi arah baru ICMI: membangun peradaban ilmu yang berpihak kepada umat dan bangsa.
Namun untuk menjaga gagasan itu tetap hidup lintas generasi, ICMI membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: kedaulatan pendidikan.
Selama ini, ICMI dikenal sebagai rumah besar kaum cendekiawan Muslim Indonesia. Tetapi regenerasi pemikiran dan kaderisasi ideologis belum sepenuhnya terbangun secara sistematis.
Banyak generasi muda mengenal nama besar Habibie, tetapi tidak memahami ruh pemikirannya tentang teknologi, nasionalisme, etika, dan keberpihakan kepada rakyat.
Padahal Habibie bukan sekadar simbol kecerdasan individual. Ia adalah representasi perpaduan antara keislaman, keindonesiaan, modernitas, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Habibie membuktikan bahwa religiusitas dapat berjalan beriringan dengan sains, dan nasionalisme dapat tumbuh bersama modernitas.
Karena itu, sudah saatnya ICMI mulai memikirkan pembangunan lembaga pendidikan strategis setingkat universitas sebagai pusat kaderisasi intelektual dan peradaban.
Universitas berbasis spirit ICMI tidak boleh hanya menjadi kampus pencetak ijazah. Ia harus menjadi ruang lahirnya kader bangsa yang: kuat dalam moral dan keislaman, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, berpihak pada ekonomi kerakyatan, serta memiliki komitmen kebangsaan dan kemanusiaan.
Kampus itu harus menjadi penjaga ideologi keislaman, keindonesiaan, dan kebangsaan yang dahulu menjadi ruh perjuangan ICMI.
Di sanalah kelak lahir teknokrat yang berpihak kepada rakyat, ilmuwan yang memiliki etika, pengusaha yang berkeadilan, birokrat yang berintegritas, dan intelektual publik yang tidak tercerabut dari denyut umat.
ICMI Jawa Timur sesungguhnya memiliki modal sosial besar untuk memulai gagasan itu. Jawa Timur memiliki pesantren, kampus, komunitas intelektual, UMKM, industri kreatif, hingga jaringan diaspora yang kuat.
Semua potensi itu membutuhkan orkestrasi gerakan yang terhubung antara ilmu, ekonomi, teknologi, dan pengabdian sosial.
Bayangkan bila ICMI Jatim mampu melahirkan: koperasi pangan berbasis pesantren, inkubator bisnis anak muda Muslim, pusat literasi digital dan AI untuk umat, gerakan sekolah membahagiakan, media intelektual alternatif, universitas kader peradaban,
hingga jejaring ekonomi desa berbasis teknologi.
Maka ICMI tidak hanya akan kembali relevan, tetapi kembali menjadi lokomotif perubahan sosial sebagaimana masa kejayaannya dahulu. Karena sejatinya, kejayaan organisasi tidak diukur dari banyaknya pengurus atau megahnya acara, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan umat dan bangsa.
Muswil ICMI Jatim 2026 harus menjadi momentum melahirkan kembali “ICMI sebagai gerakan”, bukan sekadar “ICMI sebagai organisasi”. Dan sejarah telah membuktikan, ketika kaum intelektual turun menyatu dengan denyut rakyat, maka lahirlah perubahan besar bagi bangsa.
Surabaya, 25 Mei 2026
M. Isa Ansori
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

