Suaramuslim.net – Ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara jujur menjelang Musyawarah Wilayah ICMI Jawa Timur 2026: mengapa di tengah melimpahnya sumber daya intelektual yang dimiliki, kehadiran ICMI di tengah masyarakat justru semakin samar dirasakan?
Pertanyaan ini bukanlah gugatan terhadap individu-individu yang telah mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya bagi organisasi. Sebaliknya, ia lahir dari kecintaan terhadap ICMI sebagai rumah besar kaum cendekiawan Muslim yang sejak awal didirikan untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, keislaman, dan pengabdian kepada bangsa.
Kita patut bersyukur karena ICMI Jawa Timur dihuni oleh banyak profesor, doktor, akademisi, peneliti, profesional, birokrat, pengusaha, dan tokoh masyarakat dengan kapasitas intelektual yang luar biasa.
Secara sumber daya manusia, ICMI mungkin tidak pernah kekurangan modal intelektual.
Namun di sisi lain, ada kegelisahan yang sulit diabaikan. Kehadiran para intelektual lebih banyak dirasakan melalui kolom-kolom opini di media massa, seminar-seminar akademik, diskusi publik, jurnal nasional maupun internasional, serta berbagai forum ilmiah lainnya. Semua itu penting dan merupakan bagian dari tradisi intelektual yang harus dijaga.
Tetapi pertanyaannya adalah: apakah masyarakat merasakan manfaat langsung dari kekayaan intelektual tersebut?
Apakah ilmu yang diproduksi telah menjelma menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi rakyat?
Ataukah kita sedang menghadapi sebuah situasi ketika dunia intelektual itu sendiri perlahan berubah menjadi “opium”?
Dalam makna metaforisnya, opium adalah sesuatu yang menghadirkan kenyamanan, kepuasan, dan ketenangan. Namun pada saat yang sama, ia dapat membuat seseorang menjauh dari realitas yang sesungguhnya sedang dihadapi.
Barangkali yang perlu kita renungkan bukan lagi apakah intelektual menghasilkan gagasan atau tidak, melainkan apakah gagasan-gagasan itu masih memiliki hubungan yang hidup dengan kenyataan sosial masyarakat.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk memperbincangkan kemiskinan tanpa hadir di tengah masyarakat miskin. Terlalu sering mendiskusikan pendidikan tanpa menyentuh sekolah-sekolah yang tertinggal. Terlalu banyak berbicara tentang kesejahteraan tanpa mendengar langsung suara mereka yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di titik inilah pemikiran menjadi relevan. Gramsci memperkenalkan konsep intelektual organik, yakni intelektual yang tidak memisahkan dirinya dari masyarakat. Ia membedakannya dari intelektual tradisional yang cenderung bekerja dalam ruang-ruang pengetahuan dan merasa terpisah dari pergulatan sosial yang berlangsung di tengah rakyat.
Bagi Gramsci, intelektual bukan sekadar orang yang memiliki pengetahuan. Intelektual adalah mereka yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi kesadaran sosial, mengorganisasi harapan masyarakat, dan ikut terlibat dalam upaya mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi bersama.
Dalam perspektif ini, ukuran keberhasilan seorang intelektual bukan terletak pada jumlah artikel yang ditulis, jurnal yang diterbitkan, forum ilmiah yang dihadiri, atau gelar akademik yang disandang. Ukurannya adalah sejauh mana ilmu yang dimilikinya mampu menghadirkan manfaat, perubahan, dan pemberdayaan bagi masyarakat.
Pertanyaan yang relevan bagi ICMI Jawa Timur hari ini bukanlah berapa banyak profesor atau doktor yang dimiliki organisasi ini. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak intelektual organik yang berhasil dihadirkan oleh ICMI?
Sejarah bangsa ini sesungguhnya memberikan teladan yang sangat jelas.
Para pendiri bangsa adalah kaum terpelajar. Mereka membaca buku-buku besar dunia, menguasai berbagai disiplin ilmu, dan memiliki kapasitas intelektual yang luar biasa. Namun mereka tidak berhenti pada dunia gagasan.
Menjadikan ide kemerdekaan sebagai gerakan rakyat. Menerjemahkan pemikiran ekonomi menjadi gerakan koperasi. Mengubah kritik terhadap pendidikan kolonial menjadi gerakan pendidikan yang memerdekakan.
Demikian pula para ulama dan tokoh pergerakan Islam. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai simbol status sosial, melainkan sebagai instrumen pelayanan, pemberdayaan, dan pembebasan masyarakat.
Mereka hadir ketika rakyat mengalami penderitaan akibat kolonialisme, ketidakadilan, dan keterbelakangan. Mereka tidak hanya menjelaskan realitas, tetapi ikut mengubah realitas.
Di sinilah sesungguhnya tantangan ICMI Jawa Timur hari ini.
Apakah ICMI akan tetap dikenal sebagai kumpulan orang-orang pintar yang menghasilkan gagasan-gagasan cemerlang, ataukah mampu menjadi gerakan intelektual yang hidup bersama masyarakat?
Musyawarah Wilayah seharusnya tidak hanya menjadi arena pergantian kepemimpinan organisasi. Muswil harus menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali arah gerakan ICMI di masa depan.
Tradisi intelektual yang membumi
ICMI Jawa Timur perlu membangun kembali tradisi intelektual yang membumi. Tradisi yang menghubungkan kampus dengan desa, penelitian dengan kebutuhan masyarakat, pengetahuan dengan pemberdayaan, serta diskusi dengan aksi nyata.
Bayangkan apabila setiap bidang, setiap komisariat, dan setiap anggota ICMI menjadi simpul pengabdian sosial.
Ada yang mendampingi sekolah-sekolah yang tertinggal, memperkuat UMKM, membantu petani dan nelayan menghadapi tantangan zaman, membangun literasi digital masyarakat, memperkuat tata kelola pemerintahan, atau menghadirkan inovasi-inovasi yang menjawab kebutuhan publik.
Saat itulah masyarakat tidak hanya mengenal ICMI sebagai organisasi cendekiawan, tetapi merasakan manfaat nyata dari keberadaannya.
Menjelang Musyawarah Wilayah ICMI Jawa Timur 2026, pertanyaan terpenting bukanlah semata-mata siapa yang akan memimpin organisasi ini. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: ke mana ICMI akan dibawa dan untuk siapa seluruh kekayaan intelektual yang dimilikinya diabdikan?
Apakah ICMI akan tetap nyaman menjadi ruang perjumpaan gagasan-gagasan yang beredar di antara para intelektual, ataukah berani kembali kepada khittah-nya sebagai gerakan cendekiawan Muslim yang hadir menjawab persoalan masyarakat?
Sebab ilmu yang hanya berputar di ruang-ruang intelektual berisiko menjadi opium yang menenangkan para pemiliknya.
Ia menghadirkan rasa puas karena gagasan terus diproduksi, diskusi terus berlangsung, dan publikasi terus bertambah. Namun pada saat yang sama, ia dapat menjauhkan kita dari kenyataan bahwa masih banyak persoalan masyarakat yang membutuhkan sentuhan ilmu pengetahuan, kepedulian, dan keberpihakan.
Sebaliknya, ilmu yang turun ke tengah kehidupan rakyat akan menjadi energi perubahan yang menghidupkan harapan. Ia tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjelma menjadi tindakan. Ia tidak sekadar menjelaskan realitas, tetapi ikut memperbaiki realitas.
Masyarakat tidak pernah bertanya berapa banyak profesor, doktor, atau pakar yang dimiliki sebuah organisasi. Mereka hanya bertanya satu hal: apakah kehadiran organisasi itu membuat hidup mereka menjadi lebih baik?
Di situlah sesungguhnya kredibilitas seorang intelektual diuji. Bukan di ruang seminar, bukan di jurnal ilmiah, bukan pula di podium-podium diskusi. Kredibilitas intelektual diuji ketika ilmu pengetahuan mampu hadir di tengah kehidupan masyarakat, mendengar kegelisahan mereka, memahami penderitaan mereka, dan ikut bekerja bersama mereka menghadirkan solusi.
Muswil ICMI Jawa Timur 2026 hendaknya menjadi momentum untuk mengembalikan ilmu kepada pengabdiannya yang paling mulia: melayani kemanusiaan. Menghidupkan kembali tradisi intelektual organik yang berpijak pada realitas rakyat, sebagaimana telah dicontohkan para pendiri bangsa dan para ulama terdahulu.
Karena bangsa ini sesungguhnya tidak pernah kekurangan orang pintar. Yang selalu dibutuhkan adalah orang-orang berilmu yang bersedia hadir bersama rakyat, menjadikan pengetahuan sebagai pengabdian, dan menjadikan kehadiran mereka sebagai jawaban atas persoalan zaman.
Mungkin di situlah makna terdalam keberadaan ICMI: bukan sekadar menjadi perkumpulan cendekiawan, melainkan menjadi rumah bagi ilmu yang bekerja, iman yang menggerakkan, dan pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Surabaya, 1 Juni 2026
M. Isa Ansori
Wakil Ketua ICMI Jatim
Artikel ditulis menjelang Musyawarah Wilayah ICMI Jawa Timur 2026
Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

