Suaramuslim.net – Indonesia terletak di kawasan tumbukan lempeng yang aktif dan di kawasan iklim tropis. Artinya kita bermukim di kawasan rawan gempa, pergeseran tanah, tsunami, likuifaksi, letusan gunung, longsor.
Masyarakat juga bermukim di kawasan banyak hujan, angin, panas, air laut pasang, ombak besar, dll yang bisa memicu banjir, banjir bandang, angin kencang, kekeringan, kebakaran hutan, abrasi, rip current, dll. Apalagi munculnya fenomena el nino, la nina, siklon yang lebih sering terjadi.
Kejadian kejadian alam itu mempunyai lokasi, jalur, kekuatan, periode ulang tertentu sebagai bagian dari dinamika bumi yang harus terjadi. Perubahan iklim akan meningkatkan ancaman hidrometeorologi seperti memicu bencana banjir, longsor, banjir bandang, angin puting beliung, gelombang ekstrim dan abrasi pantai.
Selama bertahun tahun sebagian bangsa ini hanya tahu bahwa kalau terjadi bencana selalu menyalahkan alam.
Saat terjadi banjir, banjir bandang, longsor, tanggul jebol, yang disalahkan hujannya terlalu deras.
Saat terjadi menara roboh, papan reklame ambruk, pohon tumbang, yang disalahkan anginnya terlalu besar.
Saat banyak rumah yang roboh karena gempa yang disalahkan gempanya terlalu besar.
Hampir tidak ada upaya mencari penyebabnya. Sehingga kita tidak terbiasa menyiapkan diri menghadapi kejadian yang sama yang hampir pasti muncul tiap tahun. Dan kita tidak belajar dari kesalahan dan sangat mungkin kita melakukan kesalahan yang sama berulang tanpa melakukan apa apa, hanya bisa menyalahkan alam.
Waktunya proaktif mengenali ancaman sekitar kita sehingga kita bisa selamat dan bisa menyelamatkan banyak orang.
Amien Widodo
Peneliti senior di Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS

