Suaramuslim.net – Tanggal 14 Juli 2026 kemarin, Indonesia kembali dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang memilukan. Sebuah ledakan bom rakitan terjadi di MAN 3 Padang, Sumatera Barat.
Berdasarkan keterangan awal kepolisian, terduga pelaku merupakan seorang siswa berusia 17 tahun. Polisi menyampaikan bahwa pelaku mengaku menyimpan dendam karena merasa menjadi korban perundungan sejak duduk di bangku SMP.
Ia juga mengaku belajar merakit bahan peledak melalui internet dan terinspirasi oleh peristiwa serupa di SMAN 72 Jakarta pada tahun 2025.
Di sisi lain, wali kelas menyampaikan bahwa selama di sekolah yang terlihat hanyalah candaan antarsiswa, bukan perundungan. Hingga kini, seluruh motif dan pengakuan tersebut masih terus didalami oleh pihak kepolisian.
Dua peristiwa tersebut tentu memiliki kronologi, motif, dan proses hukum yang berbeda. Kurang tepat jika kita langsung menarik kesimpulan bahwa penyebabnya sama. Namun, keduanya menghadirkan satu pertanyaan penting yang layak menjadi bahan refleksi kita bersama.
Kapan sebuah candaan berubah menjadi perundungan?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah.
Sering kali kita menilai candaan dari sudut pandang orang yang mengucapkannya.
“Saya hanya bercanda.”
“Tidak ada niat menghina.”
“Semua teman juga tertawa.”
Padahal, ukuran sebuah candaan tidak hanya ditentukan oleh niat penyampainya, tetapi juga oleh dampaknya bagi orang yang menerimanya.
Bagi pelaku, mungkin itu sekadar guyonan. Bagi teman-teman lain, mungkin itu sudah menjadi budaya bercanda sehari-hari. Bahkan guru pun bisa saja melihatnya sebagai interaksi yang biasa terjadi di lingkungan sekolah.
Namun bagi orang yang menerima, bisa jadi setiap ejekan, panggilan, atau candaan yang terus berulang meninggalkan luka yang tidak pernah terlihat.
Di sinilah letak persoalannya.
Dalam ilmu teknik, ada istilah fatigue. Sebuah material tidak selalu patah karena satu benturan besar.
Justru lebih sering retak akibat menerima beban kecil yang terus berulang. Retakan awal hampir tidak terlihat. Namun sedikit demi sedikit retakan itu membesar hingga suatu saat material mengalami kegagalan.
Manusia tidak jauh berbeda.
Tidak semua luka tampak dari luar.
Tidak semua korban mampu bercerita.
Tidak semua senyum berarti baik-baik saja.
Ada luka yang dipendam bertahun-tahun hingga akhirnya meledak dalam bentuk yang tidak pernah kita bayangkan.
Karena itu, ukuran candaan bukanlah “semua orang tertawa.”
Ukuran yang lebih penting adalah “tidak ada yang merasa terluka.”
Di era media sosial, tantangan itu menjadi semakin besar.
Satu komentar, satu meme, satu unggahan, atau satu kalimat di grup percakapan dapat menyebar kepada ribuan orang hanya dalam hitungan detik.
Namun dampaknya belum tentu berhenti ketika layar ponsel dimatikan.
Mungkin karena itulah kita perlu membiasakan diri bertanya sebelum berbicara.
Apakah ucapan ini akan membuat orang lain tersenyum, atau justru menyimpan luka?
Pelajaran kecil dalam keluarga
Ada satu pelajaran yang saya ingat sejak kecil.
Setiap kali obrolan keluarga mulai mengarah pada membicarakan keburukan orang lain.
Candaan yang berlebihan, atau ucapan yang tidak pantas, ibu saya tidak banyak memberikan nasihat panjang. Beliau hanya mengangkat telunjuk ke depan bibir sambil berkata pelan,
“Istighfar…”
Satu kata.
Satu isyarat.
Namun maknanya sangat dalam.
Pesannya sederhana.
Ibu seringkali mengingatkan ini saat kami anak-anaknya sudah offside. Ibu menyampaikan pula, bahwa nasihat ini didapatkan dari eyang kala itu.
Tidak semua yang ingin kita ucapkan harus diucapkan.
Bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa kebiasaan kecil itu ternyata selaras dengan sabda Rasulullah:
“Barang siapa yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Terjemah hadis riwayat Al-Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47).
Bayangkan jika budaya seperti ini hidup di setiap keluarga.
Orang tua saling mengingatkan.
Anak-anak belajar berpikir sebelum berbicara.
Kakak dan adik saling menegur ketika candaan mulai melewati batas.
Guru menanamkan empati, bukan sekadar disiplin.
Teman saling menjaga, bukan saling menjatuhkan.
Mungkin kita tidak bisa menghentikan semua bentuk perundungan di dunia. Namun kita bisa memulainya dari rumah.
Dari meja makan.
Dari ruang keluarga.
Dari satu isyarat sederhana: telunjuk di depan bibir sambil mengucapkan, “Istighfar…”
Karena sesungguhnya, luka sering kali tidak berawal dari pukulan.
Luka sering kali berawal dari ucapan yang dianggap biasa.
Dan mungkin, solusi terbaik juga dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Berkata yang baik, atau memilih diam.
Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

