Suaramuslim.net – Kalau dahulu kontribusi kepada tanah air sering dibayangkan harus dimulai dengan kepulangan, zaman sekarang berbeda, bisa memberi pilihan yang lebih luas. Seorang cendekia dapat tinggal di Tokyo, London, Kairo, Jeddah, Berlin, atau Toronto, tetapi pikiran dan karyanya tetap hadir untuk Indonesia.
Itulah salah satu kekuatan diaspora cendekia. Mereka membawa ilmu, cinta, pengalaman profesional, sudut pandang baru, dan jejaring yang tumbuh selama belajar atau bekerja di berbagai negara.
Di sisi lain, mereka tetap memiliki ikatan dengan tanah air, baik melalui keluarga, persahabatan, komunitas, maupun keinginan untuk ikut memberi manfaat.
Persoalannya bukan apakah diaspora ingin berkontribusi. Banyak yang ingin. Banyak yang minat. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana niat baik itu memperoleh pintu masuk yang nyaman, lalu bertemu dengan kebutuhan nyata di dalam ICMI?
Sekarang ruang komunikasinya sebenarnya sangat terbuka. Pertemuan bisa dilakukan dari mana saja, dokumen dapat dikerjakan bersama, dan diskusi lintas negara tidak lagi menunggu seseorang pulang.
Grup WhatsApp pun mudah dibuat. Namanya bisa cukup meyakinkan: Tim Inovasi Lintas Negeri. Hanya saja, nama yang gagah tetap membutuhkan tujuan agar isinya tidak berhenti pada “Assalamu’alaikum”, “apa kabar” dan “kapan mulai?”
Dari brain drain menuju brain connection
Diaspora cendekia tentu bukan kelompok yang seragam. Di antara mereka ada dosen, pebisnis, mahasiswa, peneliti, insinyur, dokter, profesional teknologi, diplomat, penulis, dan penggerak komunitas. Bidang keahliannya berbeda, begitu pula pengalaman dan jejaring yang dimiliki.
Perbedaan itu justru menarik. Mereka mengenal Indonesia, lalu melihat dari dekat bagaimana ilmu, teknologi, pendidikan, pelayanan publik, bisnis, dan kehidupan sosial berkembang di tempat lain.
Pengalaman seperti ini dapat memperkaya cara kita membaca persoalan bangsa, selama tidak berhenti sebagai cerita pribadi. Perlu ada upaya untuk mencatat, membagikan, dan mempertemukannya dengan kebutuhan yang nyata, agar pengalaman lintas negeri benar-benar tumbuh menjadi pengetahuan dan karya bersama.
AnnaLee Saxenian membahas hal tersebut melalui konsep brain circulation. Dalam penelitiannya tentang komunitas profesional lintas negara di India dan Tiongkok, ia menunjukkan bahwa perpindahan tenaga terampil tidak selalu berakhir sebagai kehilangan bagi negara asal.
Hubungan yang tetap terjaga dapat membuka aliran pengetahuan, teknologi, modal, dan pengalaman kewirausahaan kembali ke tanah kelahiran (Saxenian, 2005).
Pandangan ini membantu kita keluar dari pembicaraan lama tentang brain drain. Cendekia yang tinggal di luar negeri tidak dengan sendirinya terputus dari bangsanya. Yang perlu dibangun adalah brain connection: hubungan yang memungkinkan ilmu, pengalaman dan jejaring mereka tetap mengalir kepada Indonesia.
ICMI memiliki alasan yang kuat untuk mengambil peran dalam hubungan tersebut. Sejak awal, ICMI menjadi wadah berhimpunnya cendekia Muslim dari berbagai profesi dan bidang keilmuan. Tradisi berpikir, berjejaring, dan menghubungkan ilmu dengan kebutuhan umat serta bangsa sudah menjadi bagian dari watak organisasinya.
Pijakannya juga tertulis dengan jelas. Anggaran Dasar ICMI menempatkan keterbukaan, kekeluargaan, keilmuan, kepakaran, kecendekiawanan, keislaman, dan keindonesiaan sebagai sifat organisasi.
Dokumen yang sama mengamanatkan pengembangan jaringan informasi dan komunikasi di dalam maupun di luar negeri, memuat struktur organisasi luar negeri, serta membuka kerja sama lintas wilayah dan lintas lembaga.
Jadi, kolaborasi dengan diaspora sebenarnya sudah sejalan dengan arah ICMI. Nilai keterbukaan, keilmuan, jejaring, dan pengabdian sudah menjadi bagian dari identitas organisasi. Struktur ICMI di luar negeri juga memberi ruang bagi hubungan tersebut.
Langkah berikutnya adalah menata cara kerja yang sederhana: siapa yang dihubungi, kebutuhan apa yang ingin dijawab, siapa yang terlibat, dan bagaimana hasilnya disimpan agar dapat dilanjutkan.
Jejak B.J. Habibie memberi gambaran yang menarik. Tahun-tahun panjang belajar dan bekerja di Jerman membentuk pengetahuan, jaringan, serta pengalaman teknologinya. Semua itu kemudian dibawa ke Indonesia dan menjadi bagian penting dari pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri strategis nasional (Makka, 1999).
Biografi karya A. Makmur Makka mencatat perjalanan hidup dan karier Habibie secara khusus.
Pelajaran dari Habibie bukan hanya soal pulang secara fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh di luar negeri kembali menemukan jalan pengabdian. Pada masa sekarang, jalan itu bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih beragam.
Membuka pintu kontribusi diaspora
Seorang dosen dapat mendampingi riset dari negaranya. Seorang insinyur bisa membuka ruang diskusi tentang teknologi baru. Profesional kesehatan dapat berbagi praktik baik. Pelaku usaha bisa mempertemukan produk Indonesia dengan jaringan pasar. Mahasiswa doktoral pun dapat membantu menyusun kajian, mengenalkan laboratorium, atau menghubungkan ICMI dengan akademisi di kampusnya.
Kontribusi semacam ini tidak selalu perlu dimulai dengan proyek yang besar. Satu kelas daring, satu riset ringkas, atau satu pertemuan dengan pakar yang tepat sudah cukup menjadi awal. Hubungan yang baik biasanya tumbuh dari pekerjaan yang jelas dan bisa diselesaikan bersama.
Masalahnya, kita sering mengenal seseorang di luar negeri, tetapi belum mencatat bidang keahlian dan jejaringnya. Di tempat lain ada kebutuhan program, tetapi belum diketahui siapa yang dapat diajak bekerja. Keduanya berada dalam jaringan yang sama, hanya belum dipertemukan.
Karena itu, hubungan dengan diaspora memerlukan alur yang sederhana. Tidak harus berupa prosedur panjang. Cukup ada cara yang membantu kita bergerak dari perkenalan menuju karya, lalu menyimpan hasilnya agar dapat dipelajari bersama.
Menjadikan pengalaman sebagai pengetahuan
Tahap menyimpan dan membagikan sering dianggap urusan belakangan. Padahal justru di situlah sebuah kegiatan memperoleh umur yang lebih panjang.
Banyak diskusi bagus selesai ketika layar ditutup. Rekamannya ada, tetapi lupa diberi judul. Kalaupun ada judul tidak sesuai kata kunci (keyword). Catatannya tersimpan di telepon seseorang, lalu sulit ditemukan ketika dibutuhkan.
Tidak perlu membuat dokumentasi yang rumit. Ringkasan satu atau dua halaman sudah cukup. Isinya bisa berupa tujuan kegiatan, gagasan utama, nama narasumber, bahan yang dihasilkan, dan tindak lanjut yang disepakati. Dengan cara itu, pengetahuan tidak ikut bubar setelah pertemuan selesai.
Hubungan antara diaspora dan Knowledge Management mulai tampak di sini. Banyak pengalaman diaspora masih tersimpan dalam cara berpikir, intuisi, dan kebiasaan kerja. Pengetahuan seperti ini biasa disebut pengetahuan “tacit”. Nilainya besar, tetapi belum tentu mudah dipahami dan dipindahkan kepada orang lain.
Percakapan, mentoring, dan kerja bersama membantu pengetahuan itu keluar dari ruang pribadi. Setelah dibagikan, isinya dapat ditulis menjadi artikel, modul, laporan singkat, kajian, atau panduan praktik. Pengalaman seseorang kemudian tumbuh menjadi bahan belajar bagi banyak orang.
Nonaka dan Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company menjelaskan bahwa pengetahuan organisasi berkembang melalui pertemuan antara pengalaman yang belum tertulis dan pengetahuan yang sudah dirumuskan.
Orang berbagi pengalaman, menyusunnya menjadi konsep, memadukannya dengan bahan lain, lalu menerapkannya kembali (Nonaka & Takeuchi, 1995).
Dalam kerja diaspora, proses itu sangat mungkin dilakukan. Pengalaman di laboratorium luar negeri dapat menjadi bahan pelatihan. Cara membangun usaha bisa diringkas menjadi panduan. Praktik pengelolaan pendidikan, filantropi, pelayanan kesehatan, atau kebijakan publik dapat dipelajari oleh ICMI di tanah air.
Tentu, pengalaman dari negara lain tidak bisa langsung dipindahkan begitu saja. Setiap tempat mempunyai konteks sosial, hukum, budaya, dan kelembagaan yang berbeda. Tugas cendekia bukan menyalin, melainkan membaca, menimbang, lalu memilih bagian yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Karena itu, cendekia di tanah air dan diaspora perlu duduk sebagai mitra. Diaspora membawa pengalaman dari luar. Cendekia di dalam negeri memahami medan sosial, kebutuhan masyarakat, dan kenyataan yang sedang dihadapi. Keduanya saling mengisi.
Membangun tim lintas negeri
Kolaborasi lintas negeri juga dapat tumbuh melalui hubungan dengan KBRI dan perwakilan Republik Indonesia setempat. KBRI memahami agenda hubungan bilateral dan jaringan kelembagaan di negara tersebut. ICMI membawa kepakaran, kedekatan dengan masyarakat, serta kemampuan mengembangkan kajian dan program.
Pertemuan keduanya dapat membuka banyak peluang. Ada kerja sama pendidikan, forum teknologi, pengembangan ekonomi, promosi inovasi, hingga pertukaran pemikiran tentang isu sosial dan kebijakan publik. Langkah awalnya tidak harus langsung berupa perjanjian besar.
Satu percakapan yang terarah sering sudah cukup. ICMI di luar negeri membaca peluang yang tersedia. ICMI di Indonesia menyampaikan kebutuhan yang sedang muncul. ICMI pusat dapat membantu mempertemukan simpul-simpul itu agar pengalaman dan hasilnya lebih mudah beredar.
Kerja lintas negara memang membawa urusan teknis. Menyatukan Jakarta, Jeddah, Tokyo, London, dan Toronto memerlukan pengaturan waktu yang agak kreatif. Yang satu baru membuka laptop, yang lain mungkin sudah bersiap untuk salat Subuh. Aplikasi kalender dan kopi hangat akhirnya ikut menjadi anggota tidak resmi.
Namun, perbedaan waktu dapat diatasi dengan pola kerja yang lentur. Pembahasan penting dilakukan secara langsung melalui pertemuan daring. Dokumen, masukan, dan perkembangan pekerjaan dapat disampaikan melalui ruang kerja bersama tanpa harus menunggu semua orang hadir pada jam yang sama.
Cara ini justru dapat membuat tim lebih tertib. Setiap anggota membaca bahan lebih dulu, memberi masukan sesuai waktu yang tersedia, dan menyelesaikan tugas tanpa terus menunggu rapat. Pertemuan kemudian dipakai untuk mengambil keputusan, bukan untuk pertama kali memahami masalah.
Model seperti ini dikenal sebagai Virtual Global Team. Gibson dan Cohen menjelaskan bahwa efektivitas tim virtual bergantung pada kondisi yang mendukung, antara lain tujuan bersama, kepercayaan, komunikasi, dukungan organisasi, dan penggunaan teknologi yang sesuai (Gibson & Cohen, 2003).
Teknologi memang diperlukan, tetapi tidak dapat menggantikan hubungan manusia. Platform yang canggih tidak banyak membantu bila tujuan belum jelas atau anggota tim jarang memberi kabar. Sebaliknya, alat yang sederhana dapat bekerja baik ketika setiap orang memahami peran dan menjaga komitmen.
Dalam ICMI, kepercayaan dapat tumbuh dari kesamaan niat untuk mengabdi melalui ilmu. Tim tidak perlu sibuk memperlihatkan siapa yang paling berpengalaman. Yang dibutuhkan ialah kerendahan hati untuk mendengar, keberanian menyampaikan gagasan, dan kesediaan menyelesaikan tugas yang telah disepakati.
Perbedaan bidang, usia, dan pengalaman tidak harus diratakan. Justru dari sana tim memperoleh keluasan pandangan. Seorang akademisi mungkin kuat dalam konsep. Praktisi memahami kenyataan lapangan. Diaspora membawa akses internasional. Anggota di daerah mengetahui kebutuhan masyarakat secara dekat.
Jika seluruhnya dipertemukan dengan baik, kolaborasi tidak berhenti sebagai forum perkenalan. Ia dapat tumbuh menjadi kerja yang benar-benar berguna. Ada karya, ada pembelajaran, dan ada hubungan yang terus terpelihara.
Kita juga tidak sedang menunggu diaspora pulang. Kepulangan fisik mungkin menjadi pilihan bagi sebagian orang, tetapi kepulangan ilmu dapat berlangsung setiap hari. Ia hadir melalui riset, mentoring, tulisan, percakapan, dan jaringan yang dibuka dengan tulus.
Struktur ICMI di luar negeri memberi landasan bagi gerakan tersebut. Anggaran Dasar ICMI mengatur keberadaan Orsat dan Orwil di luar negeri, sekaligus mendorong jaringan kerja sama pada setiap jenjang organisasi. Dengan pijakan ini, diaspora dapat bergerak sebagai bagian dari keluarga besar ICMI, bukan sekadar mitra yang sesekali dihubungi.
Setiap simpul luar negeri tentu membawa keunggulan yang berbeda. Ada yang dekat dengan perkembangan teknologi dan industri. Ada yang kuat dalam riset, pendidikan, kesehatan, ekonomi, tata kelola, atau kerja sosial.
Keseragaman program tidak perlu dipaksakan. Yang lebih berguna adalah membaca kekuatan masing-masing, lalu mempertemukannya dengan kebutuhan yang tepat. Satu simpul membuka akses. Simpul lain membawa pakar. Wilayah di Indonesia menyediakan persoalan nyata yang perlu dijawab.
Peter Senge menyebut organisasi pembelajar sebagai organisasi yang terus mengembangkan kemampuan untuk menciptakan masa depannya. Kemampuan itu tumbuh ketika pengalaman dibaca, gagasan diuji, dan pelajaran digunakan dalam langkah berikutnya (Senge, 1990).
ICMI memiliki banyak bahan untuk menjadi organisasi pembelajar lintas negeri. Ada pengalaman anggota, jaringan kampus, komunitas profesional, sejarah organisasi, dan tradisi silaturahim. Ketika semuanya disertai kebiasaan mencatat dan berbagi, ingatan kolektif organisasi akan semakin kaya.
Satu program mentoring tidak berhenti sebagai kegiatan bulanan. Catatannya dapat menjadi bahan pengembangan generasi muda. Sebuah riset bersama dapat melahirkan rekomendasi. Pertemuan dengan perwakilan Indonesia di luar negeri bisa membuka pintu bagi kerja sama lain.
Praktik baik dari satu negara pun dapat menginspirasi wilayah lain setelah disesuaikan dengan konteks setempat. Pengalaman diaspora lalu tidak berhenti sebagai cerita menarik, melainkan menjadi pengetahuan yang dapat digunakan.
Nama timnya bisa beragam. Virtual Global Team, Jaringan Cendekia Lintas Negeri, atau istilah lain yang lebih dekat dengan budaya ICMI. Nama membantu kita mengenali wadahnya. Karya membuat orang memahami nilainya.
Tim awal tidak perlu besar. Lima atau enam orang sudah cukup. Pilih satu persoalan yang jelas, tentukan hasil yang ingin dicapai, lalu sepakati waktu kerja yang masuk akal. Tim yang baru tumbuh memerlukan satu keberhasilan kecil agar rasa percaya segera terbentuk.
Proyek pertamanya bisa berupa riset ringkas, kelas daring, mentoring, publikasi kolaboratif, kajian pasar, atau pemetaan teknologi. Setelah selesai, tim menyimpan hasil dan pelajarannya. Apa yang berjalan baik, bagian mana yang perlu diperbaiki, siapa yang perlu dihubungi lagi, dan bahan apa yang layak dibagikan.
Dari proses seperti itu, proyek berubah menjadi pengetahuan organisasi. ICMI tidak perlu selalu memulai dari awal ketika kegiatan serupa dilakukan di tempat lain. Pengalaman sebelumnya menjadi pijakan untuk bergerak lebih jauh.
Merawat mata rantai ilmu
Tradisi keilmuan Islam sendiri tumbuh melalui jaringan yang panjang. Ilmu berpindah lewat perjalanan, mata rantai guru, surat-menyurat, percakapan, dan perjumpaan lintas wilayah. Para ulama tidak membangun pengetahuannya dalam kesendirian.
Hari ini alatnya berubah. Gagasan dapat menyeberangi benua dalam hitungan detik. Namun, adabnya tetap sama: menjaga kejujuran, menghormati sumber, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan mengarahkan pengetahuan kepada kemaslahatan.
Tim virtual lintas negeri dapat menjadi salah satu bentuk baru halaqah ilmu. Teknologi menjadi perantara. Kepercayaan, adab, dan kesungguhan menjadi pengikatnya. Ruang digital memperoleh makna ketika orang-orang di dalamnya hadir dengan niat baik dan kemauan untuk bekerja.
Setiap riset, mentoring, tulisan, diskusi daring, atau kerja sama pendidikan dapat menjadi bagian dari mata rantai ilmu yang panjang. Tidak semuanya harus tampak besar. Sebagian karya lahir dari percakapan kecil, lalu manfaatnya bergerak jauh melintasi negeri dan generasi.
ICMI mempunyai akar sejarah, jaringan, dan kapasitas intelektual untuk merawat gerakan tersebut. Diaspora membawa pengalaman dari berbagai penjuru dunia. Cendekia di tanah air membawa pemahaman tentang kebutuhan masyarakat. Teknologi mempertemukan keduanya.
Ketika ilmu, jejaring, dan adab berjalan bersama, kolaborasi lintas negeri tidak lagi berhenti sebagai gagasan. Ia berubah menjadi karya yang bisa dibaca, digunakan, dan dilanjutkan. Dari satu cendekia kepada cendekia lain, dari berbagai negeri menuju Indonesia Emas.
Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur

