Mengenang kebaikan Sheikh Hamad dan penerusnya, Amir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Khalifa Al-Tsani

Suaramuslim.net – Ahad pagi, 12 Juli 2026. Pemerintah Qatar mengumumkan wafatnya mantan Amir (Pemimpin) negara itu. Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Tsani Rahimahullah. Wafat pada usia 75 tahun.

Pihak istana memberi kesempatan kepada para pelayat untuk berta’ziyah, yang tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga para pemimpin dunia dan tokoh dari berbagai negara.

Sejak Ahad pagi itu ucapan belasungkawa berlangsung di Istana Lusail. Selain keluarga kerajaan, termasuk Amir Qatar saat ini, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani, juga nampak para ulama, tokoh masyarakat, menteri, ribuan warga, anggota korps diplomatik yang bertugas di negara itu.

Mereka datang untuk menyampaikan duka cita dan doa kepada Shekh Hamad bin Khalifa Al-Tsani Rahimahullah.

Amir Qatar pun menerima kedatangan sejumlah pemimpin dan pejabat tinggi dari berbagai negara untuk menyampaikan duka citanya.

Putra Mahkota Kuwait Sheikh Sabah Khalid Al Sabah datang bersama sejumlah menteri dan para tokoh dari negara tersebut. Ada pula Putra Mahkota Bahrain Pangeran Salman bin Hamad Al Khalifa bersama rombongan pejabat senior Bahrain.

Nampak juga menyampaikan ucapan duka cita Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam beserta rombongan. Kemudian Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif dan Presiden Rwanda Paul Kagame.

Sebelumnya Diwan Amiri, badan pemerintahan tertinggi Qatar, mengumumkan, Amir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani akan menerima ucapan belasungkawa dari para pelayat selama tiga hari. Mulai Senin (13/7) hingga Rabu (15/7). Berlangsung dalam dua sesi. Pukul 08.00 – 11.30 waktu setempat. Setelah itu ba’da salat Ashar sampai menjelang salat Isya.

Prosesi pemakaman didahului dengan salat jenazah di Masjid Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yang dihadiri oleh Amir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani, para ulama, Perdana Menteri yang juga Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammad bin Abdurrahman, para anggota keluarga kerajaan, pejabat tinggi negara, dan ribuan warga. Setelah itu, Sheikh Hamad  dimakamkan di Pemakaman Lusail.

Allahyarham Sheikh Hamad bin Khalifa al-Tsani adalah Amir Qatar kelima dan salah seorang pemimpin terkemuka dalam sejarah negara Qatar. Sheikh Hamad sangat terkait dengan transformasi Qatar dari negara Teluk kecil dengan pengaruh terbatas menjadi pemain regional dan internasional.

Naiknya Sheikh Hamad ke tampuk kekuasaan pada 1995 menandai titik balik strategis dalam sejarah Qatar. Selama lebih dari 18 tahun pemerintahannya, Qatar menjadi kekuatan utama di bidang energi, diplomasi, media, dan olahraga, serta mendukung berbagai isu seperti Musim Semi Arab dan solidaritas terhadap rakyat Gaza yang telah lama menderita.

Sheikh Hamad meletakkan dasar bagi kebijakan luar negeri dengan diplomasi yang aktif, ekonomi yang kuat, dan lembaga pendidikan serta media yang berpengaruh seperti Al Jazeera. Ini untuk mengamankan posisi Qatar di panggung internasional.

Sekilas perjalanan hidup Sheikh Hamad

Sheikh Hamad lahir pada tahun 1952 di Doha. Sebagai seorang pemuda, Sheikh Hamad mendaftar di Akademi Militer Sandhurst di Inggris, menjalani pelatihan militer tingkat lanjut dan lulus pada tahun 1971.

Setelah kembali ke Qatar, ia menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Qatar dengan pangkat Mayor Jenderal. Pada tahun 1977, ia diangkat menjadi Putra Mahkota.

Selama tahun 1980-an, ia memimpin Dewan Perencanaan Tertinggi, yang bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan ekonomi dan sosial Qatar.

Mulai tahun 1992 dan seterusnya, ia secara bertahap mengambil alih tanggung jawab atas administrasi sehari-hari negara. Termasuk mengawasi pengembangan sumber daya minyak dan gas alam Qatar.

Setelah mengambil alih kekuasaan di Qatar pada 27 Juni 1995, ia memimpin proyek pembangunan bangsa yang ambisius dan berfokus pada pilar-pilar utama, yaitu:

1. Pembangunan ekonomi yang berfokus pada sektor gas alam, yang mengubah Qatar menjadi pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.

2. Kebebasan media, dengan diluncurkannya jaringan Televisi unggulan, Al-Jazeera, pada tahun 1996.

3. Pendidikan dan penelitian ilmiah, melalui pendirian Kota Pendidikan (Education City) dan kerja sama dengan berbagai universitas terkemuka di dunia.

4. Kebijakan luar negeri yang aktif, yang menjadikan Qatar sebagai mediator dalam penyelesaian berbagai konflik regional dan internasional, termasuk di Lebanon, Sudan, Afghanistan, dan Palestina.

Di dalam negeri, ia juga melakukan reformasi penting. Termasuk menyelenggarakan pemilihan Dewan Kota Pusat pada tahun 1999 – pemilihan pertama di kawasan Teluk yang diadakan dengan hak pilih universal.

Ia juga meratifikasi konstitusi tetap Qatar pada tahun 2004, dan memperluas partisipasi perempuan dalam pendidikan, pekerjaan dan layanan publik.

Di bidang olahraga, dukungannya terhadap pengembangan olahraga nasional mencapai puncaknya saat Qatar berhasil menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, ajang sepak bola terbesar dunia yang pertama kali digelar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA).

Dukungan untuk Gaza dan Lebanon

Selama masa pemerintahan Sheikh Hamad, Qatar memainkan peran penting dalam upaya kemanusiaan dan perdamaian setelah perang dahsyat di awal tahun 2000-an di Lebanon dan Gaza.

Gaza mengalami blokade “Israel” yang mengakibatkan wilayah tersebut lumpuh sejak 2007. Ditambah lagi serangan “Israel” pada akhir 2008 dan awal 2009 yang makin menghancurkan Gaza. Sementara Lebanon pun mengalami kehancuran akibat perang antara Hizb Lebanon dengan “Israel” pada 2006.

Dalam perang Gaza 2008-2009, Sheikh Hamad mengkritik sikap negara-negara Arab yang dinilai tidak tegas terhadap “Israel” sehingga gagal dalam merespons tragedi kemanusiaan di wilayah Palestina tersebut. Akibatnya, pada KTT Darurat negara-negara Arab yang akan digelar di Doha itu tidak mencapai kuorum.

Dalam sebuah pidato yang dikenang luas, ia menyampaikan kritik keras atas sikap diam negara-negara Arab. Baginya sungguh memalukan pemerintah di kawasan yang mengesampingkan masalah Gaza.

Pernyataan dan seruan Sheikh Hamad itu menunjukkan ketidakberdayaan para pemimpin di dunia Arab di tengah serangan terhadap Gaza. Karenanya, Sheikh Hamad dalam pidatonya mengingatkan dan memberikan spirit bahwa “Cukup Allah bagi kita. Dialah sebaik-baik pelindung dan pengatur semua urusan.”

Sheikh Hamad pun mengabaikan persyaratan formal Liga Arab. Ia mengadakan pertemuan puncak konsultatif para pemimpin Arab dan Muslim yang menyerukan gencatan senjata segera dan penghentian semua normalisasi dengan “Israel”, sambil menjanjikan dana untuk rekonstruksi Gaza.

Selain Turki, untuk negara Arab hanya Qatar yang menyambut para pemimpin dan tokoh gerakan Islam sehingga dapat beraktivitas dan berkantor serta tinggal di negara tersebut, khususnya dari Palestina; yang ditolak oleh banyak negara Arab lainnya.

Hamas; sayap Ikhwanul Muslimin (IM) di Palestina; dicap teroris oleh Barat, terutama AS, dan kemudian diikuti oleh mayoritas negara Arab. Tetapi Qatar menerima kelompok perlawanan Palestina tersebut. Hamas bebas tinggal dan membentuk kantor perwakilan di Ibu Kota Qatar, Doha.

Selain Turki, Qatar juga menjadi tempat pertemuan para aktivis, tokoh dan pemimpin serta para ulama gerakan Islam. Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi warga negara Turki atau Qatar. Di antaranya ulama dan aktivis Ikhwanul Muslimin, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Yusuf Al-Qaradhawi Rahimahullah.

Syaikh Al-Qadharawi hijrah dari negaranya sendiri, Mesir, menuju Qatar, pada tahun 1961 saat masih muda, berusia 35 tahun.

Hijrah atau berpindah kenegaraan ini dilakukan banyak ulama yang mendapat perlakuan buruk dan penangkapan dari negara mereka. Itu akibat tekanan dan penangkapan rezim yang berkuasa, antara lain saat itu, di Mesir.

Di Qatar, Syaikh Qaradhawi dinilai berjasa dalam dunia pendidikan Islam. Ia mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi diangkat menjadi profesor (guru besar) pada tahun 1975 di bidang ilmu Syariah. Gelar prestisius ini dicapai setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

Di Qatar pula, Syaikh Al-Qaradhawi mendirikan Persatuan Ulama/Cendekiawan Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars/IUMS) pada 11 Juli 2004. IUMS berkembang pesat dengan jumlah sekitar 95.000 ulama dan cendekiawan Muslim yang bergabung menjadi anggotanya di lebih dari 80 hingga 100 negara, termasuk Indonesia.

Syaikh Al-Qaradhawi menjadi Presiden pertama organisasi ulama dan cendekiawan Islam global yang berpusat di Doha itu hingga mengundurkan diri pada Agustus 2022. Dan, pada 26 September 2022 Syaikh Dr Muhammad Yusuf Al-Qaradhawi wafat di Doha, Qatar, dalam usia 96 tahun. Meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia Islam.

Qatar dan Musim Semi Arab

Pada tahun 2011, ketika gelombang protes terhadap penguasa menyebar di Tunisia, Mesir, Libya, dan Suriah, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Musim Semi Arab, Sheikh Hamad menjalankan kebijakan yang mendukung perubahan politik tersebut. Dia juga melakukan tekanan melalui Liga Arab terhadap penguasa yang menggunakan kekerasan terhadap rakyatnya.

Sementara itu, jaringan media Al Jazeera yang disupportnya memberikan liputan luas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap protes di negara-negara tersebut.

Qatar memang berbeda dibandingkan dengan negara Arab lainnya. Khususnya di bawah kepemimpinan Sheikh Hamad dan penerusnya, Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani.

Di saat negara Arab seperti Mesir dan lainnya menindak keras para aktivis dan ulama yang berbeda, dan mengkritik penguasa, yang mengakibatkan mereka dijebloskan ke penjara atau dihukum mati, Qatar malah menerima mereka yang hijrah dengan pintu terbuka.

Karenanya, tak heran, di saat Suriah dilanda perang “saudara” sejak Maret 2011 hingga Desember 2024, Qatar (juga Turki) memberikan dukungan kepada kelompok pejuang revolusi yang melawan rezim Basyar Assad, hingga rezim Assad yang didukung Iran (syiah) dan Rusia, atas pertolongan Allah, berhasil ditumbangkan pada 8 Desember 2024.

Dinasti Assad yang berkuasa di Suriah sejak Hafez Assad (1971-2000) hingga putranya, Basyar Assad (2000-2024), selama lebih dari 5 dekade (53 tahun), harus mengakhiri kekuasaannya.

Kini Suriah dipimpin oleh Presiden Ahmad al-Sharaa, salah seorang pemimpin pejuang revolusi Suriah yang sebelumnya (saat perjuangan revolusi) dikenal sebagai Abu Muhammad Al-Jolani.

Peran Qatar bersama Turki sejak gejolak revolusi Suriah hingga terbebasnya dari rezim Assad tak bisa dilupakan. Sampai sekarang kedua negara ini masih terlibat dalam memberikan bantuan terhadap Suriah yang baru.

Warisan untuk dunia Islam

Jika menyebut Palestina, maka peran besar Qatar pun dikenang warga Gaza. Pada Oktober 2012, Allahyarham Sheikh Hamad menjadi satu-satunya pemimpin Arab yang mengunjungi Gaza, memantau distribusi bantuan kemanusiaan Qatar, sekaligus mendukung pembangunan rumah sakit dan sarana pendidikan di wilayah tersebut.

Sebelumnya, pada tahun 2006, ia juga menjadi pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Lebanon selatan pasca perang serta membantu proses rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan dengan para pejabat Lebanon di tengah kehancuran yang disebabkan oleh serangan “Israel”.

Mungkin salah satu keputusannya yang paling luar biasa adalah turun takhta pada tahun 2013 dan menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Amir Qatar saat ini, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani.

Sang putra, Sheikh Tamim, berhasil menjalankan suksesi kepemimpinan dan menjaga stabilitas negaranya di tengah berbagai tantangan regional dan internasional.

رحمه الله رحمة واسعة

Yaa Rabb, limpahkanlah Rahmat-Mu kepadanya seluas-luasnya, balaslah kebaikannya dengan Surga-Mu, dan tuntunlah penerusnya ke Jalan yang Lurus sehingga membawa kemaslahatan bagi negerinya dan seluruh umat Islam.

Ibnu Salman
Jurnalis

Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.