Suaramuslim.net – Pada Ahad (12/7/2026) pagi. Otoritas Qatar mengumumkan wafatnya mantan Emir negara itu. Sheikh Hamad bin Khalifa Al Tsani Rahimahullah. Wafat pada usia 75 tahun.
Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Tsani adalah Emir Qatar kelima dan salah seorang pemimpin terkemuka dalam sejarah negara Qatar. Sheikh Hamad sangat terkait dengan transformasi Qatar dari negara Teluk kecil dengan pengaruh terbatas menjadi pemain regional dan internasional.
Naiknya Sheikh Hamad ke tampuk kekuasaan pada 1995 menandai titik balik strategis dalam sejarah Qatar. Selama lebih dari 18 tahun pemerintahannya, Qatar menjadi kekuatan utama di bidang energi, diplomasi, media, dan olahraga, serta mendukung berbagai isu seperti Musim Semi Arab dan solidaritas dengan rakyat Gaza yang telah lama menderita.
Sheikh Hamad meletakkan dasar bagi kebijakan luar negeri yang aktif, ekonomi yang kuat, dan lembaga pendidikan serta media yang berpengaruh, mengamankan posisi Qatar di panggung internasional.
Perjalanan hidup Sheikh Hamad
Ia lahir pada tahun 1952 di Doha. Sebagai seorang pemuda, Sheikh Hamad mendaftar di Akademi Militer Sandhurst di Inggris, menjalani pelatihan militer tingkat lanjut dan lulus pada tahun 1971.
Setelah kembali ke Qatar, ia menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Qatar dengan pangkat Mayor Jenderal. Pada tahun 1977, ia diangkat menjadi Putra Mahkota.
Selama tahun 1980-an, ia memimpin Dewan Perencanaan Tertinggi, yang bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan ekonomi dan sosial utama Qatar.
Mulai tahun 1992 dan seterusnya, ia secara bertahap mengambil alih tanggung jawab atas administrasi sehari-hari negara. Termasuk mengawasi pengembangan sumber daya minyak dan gas alam Qatar.
Setelah mengambil alih kekuasaan di Qatar pada 27 Juni 1995, ia memimpin proyek pembangunan bangsa yang ambisius yang berfokus pada pilar-pilar utama seperti:
– Pembangunan ekonomi yang berfokus pada sektor gas alam, yang mengubah Qatar menjadi pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia
– Liberalisasi media, yang menyaksikan peluncuran jaringan TV unggulan Al-Jazeera pada tahun 1996
– Pendidikan dan penelitian ilmiah, dengan pendirian Kota Pendidikan dan penarikan universitas-universitas internasional terkemuka ke Doha.
– Kebijakan luar negeri yang aktif, yang menjadikan Qatar sebagai mediator kunci dalam penyelesaian konflik regional dan internasional. Termasuk di Lebanon, Sudan, Afghanistan, dan Palestina.
Di dalam negeri, ia juga melakukan reformasi penting, termasuk menyelenggarakan pemilihan Dewan Kota Pusat tahun 1999 – pemilihan pertama di kawasan Teluk yang diadakan dengan hak pilih universal, meratifikasi konstitusi tetap Qatar pada tahun 2004, dan memperluas partisipasi perempuan dalam pendidikan, pekerjaan dan layanan publik.
Ia juga sangat mendukung olahraga. Upayanya itu memuncak pada penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar, acara pertama semacam itu di kawasan.
Dukungan untuk rakyat Gaza dan Lebanon
Selama masa pemerintahan Sheikh Hamad, Qatar memainkan peran penting dalam upaya kemanusiaan dan perdamaian setelah perang dahsyat di awal tahun 2000-an di Lebanon dan Gaza.
Gaza mengalami pengepungan penjajah “Israel” yang melumpuhkan sejak tahun 2007 dan kemudian perang “Israel” yang menghancurkan pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009.
Sementara Lebanon terpukul keras oleh perang tahun 2006 antara Hizb Lebanon dengan “Israel”.
Selama perang Gaza 2008-2009, Sheikh Hamad harus menghadapi keraguan dan ketidaktegasan dari negara-negara Arab yang berarti bahwa kuorum tidak dapat dicapai untuk KTT Arab darurat mengenai masalah tersebut, yang dijadwalkan akan diadakan di Doha.
Ia menyampaikan pidato terkenal yang mengkritik keragu-raguan Arab, dengan alasan sungguh memalukan bagi pemerintah di kawasan itu untuk mencoba mengesampingkan masalah tersebut.
Pidato tersebut berisi seruan akbar: “Allah cukup bagi kita, dan Dialah sebaik-baik pengatur segala urusan.”
Pernyataan dan seruan Sheikh Hamad itu menunjukkan simbol frustrasi dan ketidakberdayaan yang dirasakan orang-orang di dunia Arab di tengah serangan terhadap Gaza. Karenanya, ia perlu mengingatkan dan memberikan spirit bahwa “Cukup Allah bagi kita. Dialah sebaik-baik pelindung dan pengatur semua urusan.”
Sheikh Hamad pun mengabaikan persyaratan formal Liga Arab dan mengadakan pertemuan puncak konsultatif para pemimpin Arab dan Muslim yang menyerukan gencatan senjata segera dan penghentian semua normalisasi dengan “Israel”, sambil menjanjikan dana untuk rekonstruksi Gaza.
Selain Turki, di negara Arab hanya Qatar yang menyambut para pemimpin dan tokoh gerakan Islam untuk beraktivitas dan berkantor serta tinggal di negara tersebut, khususnya dari Palestina; yang ditolak oleh negara Arab lainnya.
Hamas — sayap Ikhwanul Muslimin (IM) di Palestina — yang dicap teroris oleh Barat, terutama AS, dan kemudian diikuti oleh mayoritas negara Arab, tetapi Qatar menerima kelompok perlawanan Palestina tersebut. Hamas bebas tinggal dan membentuk kantor perwakilan di ibu kota Qatar, Doha.
Selain Turki, Qatar juga menjadi tempat pertemuan para aktivis, tokoh dan pemimpin serta para ulama gerakan Islam.
Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi warga negara Turki atau Qatar. Di antaranya ulama dan aktivis Ikhwanul Muslimin Syaikh Dr. Muhammad Yusuf Al-Qaradhawi Rahimahullah yang harus hijrah dari negaranya sendiri, Mesir, menuju Qatar, pada tahun 1961 saat masih muda, berusia 35 tahun.
Hijrah atau berpindah kenegaraan ini dilakukan banyak ulama yang mendapat perlakuan buruk dan penangkapan dari negara mereka. Itu akibat tekanan dan penangkapan rezim yang berkuasa, antara lain saat itu, di Mesir.
Di Qatar, Syaikh Qaradhawi dinilai berjasa dalam dunia pendidikan Islam. Ia mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Syaikh Yusuf al-Qaradhawi diangkat menjadi profesor (guru besar) pada tahun 1975 di bidang ilmu Syariah. Gelar prestisius ini dicapai setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
Di Qatar pula, Syaikh Al-Qaradhawi mendirikan Persatuan Ulama (Cendekiawan Muslim) Internasional (International Union of Muslim Scholars/IUMS) pada 11 Juli 2004.
IUMS berkembang pesat dengan jumlah sekitar 95.000 ulama dan cendekiawan Muslim yang bergabung menjadi anggotanya dari lebih dari 80 hingga 100 negara, termasuk Indonesia.
Syaikh Qaradhawi menjadi Presiden pertama organisasi ulama dan cendekiawan Islam global yang berpusat di Doha itu hingga mengundurkan diri pada Agustus 2022. Dan, pada 26 September 2022 Syaikh Muhammad Yusuf Al-Qaradhawi wafat di Doha dalam usia 96 tahun. Duka yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia.
Qatar dan Musim Semi Arab
Pada tahun 2011, ketika protes terhadap penguasa menyebar di Tunisia, Mesir, Libya, dan Suriah, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Musim Semi Arab, Sheikh Hamad menjalankan kebijakan yang mendukung perubahan politik, sekaligus memimpin tekanan melalui Liga Arab terhadap penguasa yang menggunakan kekerasan terhadap warganya.
Sementara itu, jaringan media Al-Jazeera yang disupportnya memberikan liputan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap protes di negara-negara tersebut.
Qatar memang berbeda dibandingkan dengan negara Arab lainnya. Khususnya di bawah kepemimpinan Sheikh Hamad dan penerusnya, Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani. Di saat negara Arab seperti Mesir dan lainnya menindak keras para aktivis dan ulama yang berbeda dan mengkritik penguasa, yang mengakibatkan mereka dijebloskan ke penjara atau dihukum mati, Qatar malah menerima mereka yang hijrah dengan pintu terbuka.
Karenanya, tak heran, di saat Suriah dilanda perang sejak 2011 hingga Desember 2024, Qatar (juga Turki) memberikan bantuan kepada kelompok pejuang revolusi yang melawan rezim Basyar Assad, hingga rezim Assad yang didukung Iran dan Rusia atas, pertolongan Allah, berhasil ditumbangkan pada 8 Desember 2024.
Dinasti Assad yang berkuasa di Suriah sejak Hafez Assad (1971-2000) hingga putranya, Basyar Assad (2000-2024), selama lebih dari 5 dekade (53 tahun), harus mengakhiri kekuasaannya.
Kini Suriah dipimpin oleh Presiden Ahmad al-Sharaa, salah seorang pemimpin pejuang revolusi Suriah yang sebelumnya (saat perjuangan revolusi) dikenal sebagai Abu Muhammad Al-Jolani.
Peran Qatar bersama Turki sejak gejolak revolusi Suriah hingga terbebasnya dari rezim Assad tak bisa dilupakan. Sampai sekarang kedua negara ini masih terlibat dalam memberikan bantuan terhadap Suriah.
Warisan untuk dunia Islam
Jika menyebut Palestina, maka peran besar Qatar pun dikenang warga Gaza. Pada Oktober 2012, Sheikh Hamad menjadi satu-satunya pemimpin Arab yang mengunjungi Gaza, mengawasi distribusi bantuan kemanusiaan Qatar, sekaligus membuka saluran dukungan untuk rumah sakit dan sekolah.
Sebelumnya, pada tahun 2006, ia juga menjadi pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Lebanon selatan, mengoordinasikan rekonstruksi dan operasi bantuan kemanusiaan dengan para pejabat Lebanon di tengah kehancuran yang disebabkan oleh serangan “Israel”.
Mungkin salah satu keputusannya yang paling luar biasa adalah turun takhta pada tahun 2013 dan menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Emir Qatar saat ini, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Tsani. Sang putra, Sheikh Tamim, memberikan negara tersebut suksesi yang lancar dan membantu menjaga stabilitas negara selama periode yang sulit.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu ‘anhu.
Ibnu Salman
Jurnalis
Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

