Vanessa Angel dan Sebuah Kejujuran
Vanessa Angel (tengah) bersama tim pengacara. (Foto: Duta.co)

Suaramuslim.net – Setiap kasus prostitusi online yang melibatkan artis, pasti heboh. Sebenarnya apa yang membuat begitu heboh? Apakah keartisannya atau prostitusi itu sendiri? Entahlah. Dan Vanessa Angel gilirannya.

Perlu dicermati, setiap muncul kasus ini ada pelajaran yang kurang diambil. Tentang sebuah kejujuran. Vanessa Angel sadar dia seorang publik figur. Dia juga sadar apa yang dilakukan akan disorot oleh banyak mata dan kamera.

Dunia punya standar masing-masing. Tergantung kepada siapa yang membawa. Semakin paras cantik, enerjik dan bisa menguasai peran dengan naskah tanpa editing, seorang artis naik kelas. Meski dari sisi postur tubuh semua sama saja. Kasta ini yang membedakan harga. Harga 80 juta itu bisa saja sengaja diciptakan oleh pembuat berita, penyidik atau memang tarif si artis senilai itu.

Adakah ketidakjujuran dari artis di atas? Bisa iya bisa juga tidak. Iya, karena sebagai publik figur akan menampakkan yang baik-baik. Apalagi dia bergaul juga tidak saja dengan sesama artis saja. Juga dengan pejabat, politisi dan fannya yang beragam.

Tidak, dunia artis punya sisi gelap yang diamini di kalangan mereka dan dianggap hal biasa. Seks bebas dan narkoba. Satu perilaku dan satu barang haram tersebut mengitari para artis. Hanya masyarakat umum saja yang menganggap dua hal tersebut dengan heboh. Apalagi dibumbui oleh dramatisir media.

Fenomena terakhir ini yang membumbui artis. Di kala sepi tawaran akting, maka bisa saja “akting” di tempat yang lain dengan nominal yang tidak kalah fantastis dari akting betulan di televisi. Dan Vanessa Angel telah jujur menampakkan dunia keartisan yang muram (bagi kalangan umum; kita) tersebut.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita bisa dan berani jujur menampakkan kemuraman kita? Mengakui segala keburukan dan kebobrokan yang telah dilakukan selama ini? Kemudian jujur kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk meminta ampun kepada Maha Pengampun?

Bukankah selama ini terlalu sering melacur dan bangga karena yang dilacur bukan kemaluan. Nanti jika kemaluan bukan barang tabu, siapa tahu lacur kemaluan juga bangga. Sering kali mata dilacur. Telinga dilacur, tangan dilacur dan semua anggota tubuh dilacur dan yang belum kemaluan saja. Kita. Kita yang merasa saja.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS Az Zumar: 53)

Melampaui batas, batasan yang sudah Allah subhanahu wa ta’ala gariskan. Meski di hati kecil sudah mengakui batasan tersebut, namun nafsu selalu bermain-main dengan batasan tersebut. Perihal mengakui nafsunya yang belum tertata di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala ini yang membuat terbuka kepada Allah dengan bertaubat kepadanya.

Sehingga tidak pantas merasa aman selama masih bermaksiat atau melakukan segala pelanggaran yang mengundang murka Allah. Maka perlu untuk mengingat hadits berikut.

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Di antara dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.” (HR Abdurrozaq, dikeluarkan oleh Ath Thobroni)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.