Atha’ bin Abi Rabah dan Muru’ah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik

Suaramuslim.net – Atha Bin Abi Rabah merupakan seorang ulama di zaman khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, anak dari Abdul Malik bin Marwan. Sulaiman bin Abdul Malik merupakan khalifah yang adil dan mencintai para ulama. Di zaman itu, kerajaan Umayyah semakin luas.

Pada saat musim haji, dia mengeluarkan aturan bahwa tidak diperbolehkan seorang ulama pun mengeluarkan fatwa kecuali Atha’ bin Abi Rabah. Sebab dalam pelaksanaan haji, ulama harus lebih hati-hati dalam mengeluarkan fatwa. Atha bin Abi Rabah mendapatkan julukan alim atau gurunya para ulama. Ulama-ulama pun ketika bertemu dengannya di Makkah, selalu meminta nasihat kepadanya.

Pada musim haji, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bersama anak, dan pengawalnya datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Pada saat wukuf di Arafah, Sulaiman sempat bertanya tentang keberadaan Atha’ bin Abi Rabah. Masyarakat yang berada di sana lalu menjawab bahwa Atha’ bin Abi Rabah sedang berada di kemahnya dan sedang melayani orang-orang yang ingin bertanya kepadanya tentang perkara haji. Lalu Sulaiman mengatakan bahwa dirinya ingin menemui Atha’ bin Abi Rabah untuk menanyakan sesuatu tentang hajatnya.

Akhirnya, Sulaiman pun datang ke perkemahan Atha’ bin Abi Rabah dan menemuinya. Sesampainya di tempat tersebut dan disambutnya Sulaiman, lalu Atha’ menanyakan kepada sang khalifah, “Ada hajat apa yang membuatmu datang kesini wahai amirul mukminin?”, Sulaiman menjawab, “Ada hal yang ingin saya tanyakan”.

Lalu Atha’ menjawab, “Apakah pertanyaan itu untuk kepentingan kaum muslimin atau pertanyaan pribadi?”. Ketika sang khalifah menjawab bahwa pertanyaan tersebut adalah kepentingan pribadinya, maka Atha’ menjawab, “Kalau begitu mohon maaf wahai Amirul Mukminin, silahkan Anda keluar dan ikut mengantri bersama muslimin lainnya yang telah mengantri lebih dahulu dan ingin menanyakan hajat pribadinya. Sebab, jika pertanyaan yang Anda ajukan adalah untuk kepentingan kaum muslimin, maka engkau akan saya dahulukan”.

Sulaiman pun mematuhi apa yang diperintahkan oleh Atha’, sedangkan orang-orang yang mengawalnya tampak marah dan kesal dengan jawaban Atha’ bin Abi Rabah. Namun, karena mereka melihat Sulaiman yang hanya diam dan mematuhi, maka mereka pun mengikutinya. Atha’ bin Abi Rabah pun menjawab pertanyaan dengan tenang hingga antrian berakhir dan Sulaiman pun pulang.

Sesampainya di istana, Sulaiman meminta seluruh keluarga, dan orang istananya berkumpul. Sebab, Sulaiman merasa bahwa mereka mempunyai masalah karena sempat merasa marah ketika Sulaiman diperlakukan oleh Atha’. Lalu Sulaiman pun berkata bahwa, “Apa yang kalian lihat, bukanlah sesuatu yang memalukan. Dan demi Allah, Allah memuliakan Atha’ bin Abi Rabah dari saya karena ilmunya. Dan dalam Islam, seorang Alim (ulama) di atas seorang Amir (pemimpin). Dan memang saya punya hajat pribadi. Maka, jangan pernah ada yang merasa marah dengan perlakuan Atha’ bin Abi Rabah kepada saya, karena saya sendiri tidak marah dengannya. Dan wahai anak-anakku dan para ajudanku, belajarlah ilmu agama. Karena ilmu agama akan mengalahkan singgasana-singgasana para khalifah”.

Melalui kisah ini kita patut heran mengapa mereka semua dapat bersikap demikian? Sulaiman bin Abdul Malik yang pada saat itu merupakan seorang khalifah, memiliki harta yang berlimpah, dan pasukan-pasukannya yang begitu banyak. Anak-anaknya yang memiliki ayah seorang khalifah. Dan para ajudan yang dibayar untuk mengawal pemimpinnya. Mengapa mereka semua dapat menahan amarah dan rasa egonya?

Seorang Atha’ bin Abi Rabah juga tidak takut ataupun malu terhadap apa yang dilakukannya kepada khalifah. Beliau merasa apa yang dilakukannya adalah hal yang benar dan sesuai dengan syariat Allah azza wa jalla. Apa yang membuat mereka dapat bersikap demikian? Alasannya adalah mereka yakin ada raja yang sesungguhnya, Allah al Malik, sang pemilik kerajaan.

Di samping itu patut kita meneladani bagaimana sikap muru’ah (menjaga kehormatan atau nama baik) Sulaiman yang sangat luar biasa kepada Ulama Atha’ bin Abi Rabah. Keadilan Atha’ dalam memperlakukan orang lain juga terlihat dari keputusannya meminta Sulaiman untuk ikut mengantri bersama muslimin lainnya ketika mengetahui bahwa yang ingin ditanyakan sang khalifah adalah urusan pribadinya. Banyak keteladanan lain yang dapat kita ambil dari kisah ini. Semoga melalui kisah ini kita dapat merefleksikan diri dan menjadi pribadi yang lebih sikap adil dan muru’ah kepada orang lain.

Kontributor: Aiman Bahalwan*
Editor: Oki Aryono

*Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga dan Founder Penulis Muda Sidoarjo

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.