Home Horizon Perhatikan Ini dalam Kehidupan Bermasyarakat

Perhatikan Ini dalam Kehidupan Bermasyarakat

0
Perhatikan Ini dalam Kehidupan Bermasyarakat

Suaramuslim.net – Islam tak hanya mengatur bagaimana seorang hamba berhubungan dengan penciptanya. Islam juga mengajarkan bagaimana berkehidupan sosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Berikut ini uraian tentang adab bermasyarakat.

Islam adalah agama sempurna yang mengatur segala urusan hidup umat manusia. Antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan dirinya sendiri dan yang antara manusia dengan lingkungan sosialnya.

Sebagai makhluk sosial, hidup bermasyarakat adalah perkara yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan ini. Tentu dengan segala konsekuensi yang terdapat di dalamnya. Berbagai problem dalam kehidupan bermasyakat bukan merupakan alasan bagi seseorang untuk menghindar, lalu menarik diri untuk bergaul di tengah masyrakatnya.

Selain hal tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan yang mengabaikan kebutuhan fitrah manusia, sifat tersebut juga boleh dikatakan sebagai bentuk lari dari tanggung jawab. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup membaur di tengah msyarakatnya dan sabar menghadapi berbagai konseksenwensi yang harus ditanggungnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakatnya dan sabar terhadap gangguan mereka, lebih baik dari mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Ahmad dan Bihaqi. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 939).

Baca Juga :  Pertolongan Pertama Pada Kesusahan (P3K)

Karenanya ajaran Islam juga telah banyak membekali pengikutnya dengan seperangkat ajaran tentang bagaimana menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakt. Baik tersurat maupun tersirat, hadits di atas memberikan pelajaran yang sangat berarti kepada kita sebagai bekal untuk memahami posisi dan apa yang seharusnya kita sikapi terhadap persoalan kemasyarakatan.

Menerima Kebaikan dan Memaafkan Kesalahan

Menerima kebaikan dan memaafkan setiap kesalahan seseorang adalah salah satu adab dalam bermasyarakat. Karena, selama masyarakat itu terdiri dari manusia, maka kedua hal tersebut merupakan sunnatullah dalam kehiduan ini, kapan saja dan di mana saja. Bahkan pada masa generasi terbaik sekalipun.

Khusus mengenai keburukan, Allah menegaskan perkara ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa jika di suatu kaum tidak ada yang berbuat dosa, Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang berbuat dosa. Agar tampak salah satu keagungan Allah ta’ala sebagai Maha Pengampun.

“Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak ada yang berdosa, Allah akan gantikan kalian dengan kaum yang berdosa, lalu mereka bersitghar kepada Allah kemudian Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 7141).

Baca Juga :  Nilai Penting Sholat

Namun tentu saja penyikapannya harus berbeda. Kebaikan selain merupakan sunnatullah, dia pun merupakan sesuatu yang di sukai-Nya. Berbeda dengan keburukan, meskipun dia merupakan sunnatullah, namun dia tidak disukai-Nya. Karena itu kita harus selalu berusaha berada di pihak kebaikan dan menjadikannya sebagai perkara yang dominan di tengah msyarakat.

Sedangkan keburukan, jika hal tersebut ada pada orang lain, dia adalah kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dengan mengajaknya pada jalan kebaikan. Adapun jika dia ada pada diri kita, itu adalah kesempatan bagi kita untuk bertaubat dan mohon ampunan kepada Allah. Betapa Allah ta’ala sangat senang dengan hamba-Nya yang suka mengajak kebaikan dan bertaubat kepada-Nya. Adanya keburukan di tengah masyarakat, sebesar apapun pengaruh-nya, jangan dijadikan sebagai justifikasi (pembenaran) atas keburukan tersebut.

Membangun Komunikasi yang Sehat

Banyak sekali permasalahan yang muncul akibat tersumbatnya komunikasi. Mulai dari kesalahpahaman hingga pertikaian. Permasalah ini berlaku baik dalam ruang lingkup kecil seperti keluarga maupun ruang lingkup yang lebih besar seperti bermasyarakat dan bernegara.

Baca Juga :  Merindu Nabi

Komunikasi lebih dibutuhkan dalam hubungan lintas lapisan; tua-muda, atasan–bawahan, pejabat-rakyat, kaya-miskin, antara suku, antara pemeluk agama, dll. Karena kalau dalam satu lapisan saja komunikasi yang tersumbat dapat mengakibatkan problem, apalagi jika berbeda lapisan.

Membangun komunikasi yang sehat, adalah sebuah bukti dari penerapan surah Al Hujurat ayat 13. Mengapa demikian ? di dalam surat Al Hujurat:13, dijelaskan bahwa manusia diciptakan dengan perbedaan. Namun, perbedaan tidaklah menjadi momok pada sebuah perpecahan. Perbedaan sepatutnya menjadi tantangan untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. salah satunya adalah dengan terbangunnya komunikasi yang sehat antara manusia satu dengan lainnya. Demikian beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berkehidupan bermasyarakat.

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.