Suaramuslim.net – Bagaimana hubungan cinta Allah kepada kekasih-Nya Nabi Muhammad? Kalau kita lihat ayat-ayat cinta Allah yang luar biasa kepada Al Musthafa (Nabi Muhammad), maka sepertinya tidak ada makhluk yang lebih dicintai Allah kecuali Rasulullah.
Begitu cinta-Nya hingga waktu kelahirannya pun dipilih dengan cermat sehingga tidak ada celah untuk merendahkan Nabi terkait kelahirannya.
Sebagaimana yang kita tahu Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah, demikian yang populer dari riwayat Ibnu Ishaq. Padahal ada yang berpendapat tanggal 9, adapula yang mengatakan tanggal 8, bahkan ada yang mengatakan tanggal 2.
Terkait tahun kelahirannya pun para ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas mengatakan beliau lahir di Tahun Gajah (570 Masehi) ini yang umum dipahami masyarakat.
Namun ada yang mengatakan 15 tahun sebelum Tahun Gajah dan ada pula yang mengatakan beberapa tahun setelah Tahun Gajah.
Akan tetapi terkait bulan kelahiran dan hari kelahirannya, para ulama sepakat, yaitu Rabi’ul Awwal dan hari Senin. Padahal bulan dan hari tersebut tidak popular di kalangan bangsa Arab, mengapa Rasullah lahir di bulan dan hari tersebut?
Itu adalah pertanyaan dari Dr As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani.
Di antara 12 bulan ada bulan Muharram yang suci dan lagi banyak kejadian dari sejarah para Nabi di bulan itu. Ada juga bulan Rajab, Dzulqadah, Dzulhijjah, Ramadhan, Syawwal, semua bulan itu adalah suci dan sangat terkenal di kalangan bangsa Arab, namun kenapa beliau tidak lahir di bulan-bulan itu?
Demikian pula kenapa Nabi tidak lahir di hari Jumat yang sayyidul ayyam/tuan para hari atau hari Sabat dan Ahad atau Rabu yang sangat popular dan dimuliakan di kalangan orang Arab?
Jawabannya adalah bahwa itu semua ditujukan agar kemuliaan Nabi bersifat khusus tanpa terpengaruh oleh bulan dan hari. Jangan sampai ada persepsi jika Rasulullah lahir di bulan Muharram atau bulan suci lainnya, beliau menjadi mulia karena bulan-bulan itu.
Biarkan bulan dan hari yang mengikuti dan karena kemuliaan Nabi SAW, dan bukan sebaliknya.
Itulah kurang lebih yang dikatakan Sayyid Muhammad. Betapa hebat Rasulullah sebagai kekasih Allah, sehingga kelahirannya pun dipilihkan waktu yang tepat agar kemuliaannya menjadi khusus.
Ayat-ayat cinta Allah kepada Rasulullah di dalam Al-Qur’an
Kisah yang melatari ayat “tabbat yadaa” pada surat Al Lahab
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (Q.S. Al Lahab: 1-5).
Sabab nuzul (sebab turunnya) surat di atas sungguh menunjukkan cinta Allah kepada kekasihNya;
“Dari Ibnu Abbas bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Bathha`, kemudian beliau naik ke bukit seraya berseru, “Wahai sekalian manusia.” Maka orang-orang Quraisy pun berkumpul.
Kemudian beliau bertanya, “Bagaimana, sekiranya aku mengabarkan kepada kalian, bahwa musuh (di balik bukit ini) akan segera menyergap kalian, apakah kalian akan membenarkanku?”
Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian. Sesungguhnya di hadapanku akan ada adzab yang pedih.”
Akhirnya Abu Lahab pun berkata, “Apakah hanya karena itu kamu mengumpulkan kami? Sungguh kecelakanlah bagimu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Tabbat yadaa Abii Lahab..” Hingga akhir ayat.” (Riwayat Al-Bukhari No. 4972 dan Muslim No. 208).
Namun sekalipun Abu lahab disiksa di neraka karena ulahnya kepada keponakannya, ada riwayat menyebutkan bahwa tiap hari Senin diringankan siksanya karena pernah bergembira dengan kelahiran keponakannya itu.
Dalam Shahih Al-Bukhari pada kitab An Nikah, mursalan, juga di kitab Ash-Shon’ani dalam Mushonnaf juz 7 hal 478, Ibnu Katsir dalam Al Bidayah juz 1 hal 224 dan lainnya.
Diceritakan bahwa Abu Lahab diringankan siksaannya pada hari Senin karena bergembira atas kelahiran Nabi. Dengan memerdekakan budaknya Tsuwaibah, sebab ia telah memberikan berita kelahiran Al Musthafa.
Al Hafidz Syamsuddin bin Nashiruddin Ad Dimasyqi mengatakan;
ااذا كان هذا كافرا جاء ذمُّه # بتبت يداه في الجحيم مخَلَّدا
ااتي انه في يوم الاثنين داءما # يُخَفَّف عنه للسرور باحمدا
فما الظنُّ بالعبد الذي طُول عُمره # باحمد مسرورا و مات موحدا
“Jika ini (Abu Lahab) seorang kafir telah dicela#
Dengan kalimat Allah Tabbat yadah, sehingga kekal di neraka”
“Telah ada riwayat bahwa selamanya setiap hari Senin#
Ia diringankan siksanya karena bergembira dengan lahirnya Ahmad”
“Maka bagaimana dengan seorang hamba yang selama hidupnya#
Selalu bergembira dengan Nabi Ahmad dan ia pun wafat dalam ketauhidan?”
Apalagi dengan kita yang bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad?
Nama Nabi Muhammad diangkat secara khusus oleh Allah, sebagaimana dalam surat Al Insyirah
و رفعنا لك ذكرك…
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.
Karena itulah di dalam Al-Qur’an Allah tidak pernah memanggil nama Nabi Muhammad langsung dengan namanya saja, seperti ‘wahai Muhammad’. Namun memanggilnya dengan gelar kenabian atau dengan sebutan mesra lainnya “wahai Nabi” “wahai yang berselimut”, ini berbeda ketika Allah memanggil para nabi yang lain.
يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
“Hai Adam! Tinggallah kamu dan istrimu di dalam surga.”
يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ
“Hai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari kami untukmu.”
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Hai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu dengan engkau melaksanakannya. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang Muhsin.”
Allah akan memberikan apapun permintaan yang Nabi inginkan
Imam Muslim meriwayatkan dari Amr bin Ash; Nabi Ibrahim meminta Kepada Allah untuk mengampuni dosa umatnya. Dalam surat Ibrahim 36.
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Demikian pula Nabi Isa, memohon kepada Allah agar mengampuni umatnya, dalam surat Al Maidah 118.
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Melihat hal itu, Nabi Muhammad juga ikut mengangkat kedua tangannya berdoa, “Allahumma ummati ummati”, Ya Allah bagaimana dengan nasib umatku? Kemudian beliau menangis.
Allah kemudian meminta Jibril untuk menyampaikan pesan kepada Nabi,
انا سنرضيك في امتك و لا نسوءك.
Sesungguhnya Kami akan memuaskan permintaanmu terkait umatmu dan tidak akan mengecewakanmu.
Diutusnya Nabi adalah anugerah terbesar bagi umat
Q.S. Ali Imran ayat 164
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Allah memerintahkan orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad dan sekaligus Allah sendiri mengamalkannya
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Hal ini tidak terjadi pada perintah ibadah lainnya, Allah tidak turut serta mengamalkan perintah-Nya sendiri.
Allah menyatakan dengan kesungguhan yang meyakinkan Nabi Muhammad terkait kerasulannya, sekalipun orang orang Yahudi, Nashara dan Musrikin menolaknya.
يس (1) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3
Ya sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul (yang berada) di atas jalan yang lurus.
Nabi Muhammad adalah Al-Hadi, pemberi petunjuk selain Allah
انك لتهدي الي صراط مستقيم
“Sesungguhnya Engkau adalah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy Syuro 52).
Nabi Muhammad masih dapat memantau dan mengawasi amalan umatnya, hingga hari akhir
Berbeda dengan para nabi lainnya yang tidak memiliki keistimewaan itu. Lihatlah Q.S. At Taubah 105.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
Allah pun memuji Nabi Muhammad
وانك لعلى خلق عظيم
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung “ (Q.S. Al Qolam 4).
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Ia (khuluq dalam Ayat ini) adalah adab-adab Al-Qur`an”.
Aisyah radiyallahu anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun menjawab, “Akhlak beliau adalah (melaksanakan seluruh yang ada dalam) Al-Qur`an”.
Qatadah mengatakan, Ia (khuluq dalam ayat ini) adalah sesuatu yang beliau laksanakan dari perintah Allah dan sesuatu yang beliau jauhi dari larangan Allah, dan makna ayat di atas: Sesungguhnya engkau benar-benar berakhlak dengan akhlak yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur`an.
Allah yang Maha Agung (Al Azhim), memberikan pujian kepada makhluk-Nya yang bernama Muhammad dengan pujian “azhim”, yang agung. Tidak bisa dibayangkan betapa hebatnya keagungan Muhammad.
Begitu hebatnya keagungan beliau, sehingga kita hanya bagaikan menunjuk jari telunjuk ke gunung yang tinggi karena lengan tak mampu merengkuhnya.
Itulah kenapa Imam Al Bushiri berkata;
و مبلغ العلم فيه انه بشر# و انه خير خلق الله كلهم
“Batas pengetahuan kita tentang beliau hanyalah bahwa beliau seorang manusia# Dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Ilahi seluruhnya”.
Istighfar Nabi Muhammad untuk umatnya menjadi penyempurna istighfar dan taubat umatnya kepada Allah
Allah berfirman dalam surat An Nisa 64;
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Ini ada kisah yang luar biasa hebatnya.
Sekelumit kisah cinta yang dituturkan oleh Al ‘Utbi. Kisah ini dinukil oleh Prof Dr As Sayyid Muhammad dalam kitabnya Mafahim. Kisah ini juga tersebar di kitab-kitab yang terkenal; Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurthubi, Al Idhoh Imam An Nawawi, Ibnu Asakir dalam Tarikh, Taqiyuddin As Subky dalam Syifa As Saqom Fi Ziyarah Khairil Anam, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dll).
Inilah kisah cinta itu. Bertuturlah Al ‘Utbi.
“Saya tengah duduk di samping kubur Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian, datanglah seorang badui dan mengatakan, “Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Rasulullah!
Saya telah mendengar Allah berfirman (yang artinya), Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (An Nisaa: 64).
Sungguh saya telah datang kepadamu seraya memohon ampun atas dosaku dan meminta syafa’at dengan perantaraanmu kepada Rabb-ku.”
Dia pun bersenandung, Wahai pribadi terbaik yang jasadnya disemayamkan di permukaan bumi ini
Sehingga semerbaklah tanah dan bukit karena jasadmu
Jiwaku sebagai penebus bagi tanah tempat bersemayammu
Yang di sanalah terdapat kesucian, kemurahan, dan kemuliaan
Badui itu pun pergi dan kantuk pun menyerangku. Di dalam mimpi, saya bertemu Nabi. Beliau berkata, “Wahai ‘Utbi, kejarlah Badui tadi dan berilah kabar gembira kepadanya bahwa Allah telah mengampuninya.”
Begitu cintanya Allah kepada Nabi Muhammad, Allah mengambil janji kepada para Nabi supaya mereka mengimani Nabi Muhammad
Allah berfirman dalam Surat Ali Imron 81.
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.
Begitu cintanya Allah kepada Al Musthafa, Allah menjadikan cinta kepada Nabi Muhammad sebagai sarat mendapatkan cinta Allah
Bahkan taat kepada Nabi disejajarkan dengan taat kepada Allah.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian,” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran 31-32).
Wallahu A’lam
M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
24 Agustus 2026/11 Rabiul Awwal 1448

