Tvri
Gedung TVRI. (Foto: Asumsi.co)

Suaramuslim.net – Helmy Yahya dipecat dari jabatan Dirut TVRI karena menyiarkan Liga Inggris. Narasi itu banyak tersebar di berbagai pemberitaan awal tahun 2020. Tadinya saya tidak terlalu ambil pusing dengan berita itu. Tapi sejak melihat dan mendengar pembelaan Helmy Yahya di salah satu kanal Youtube media nasional, saya jadi tertarik untuk mencermati lebih lanjut.

Sepintas memang ada yang aneh dari pemberhentian itu. Sejak diangkat menjadi Dirut bulan November 2017 lalu, boleh dibilang Helmy Yahya telah berhasil mengangkat derajat televisi plat merah ini.

Di awal masa jabatan dia harus menghadapi berbagai fakta antara lain rating TVRI yang jelek, minimnya iklan (meskipun milik negara, TVRI boleh jualan iklan dan hasilnya dicatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak/PNBP), hilangnya kurang lebih 200 kamera, tidak adanya corporate culture, dan berbagai fakta memprihatinkan lainnya.

Namun Helmy Yahya memang talenta media yang punya tangan dingin. Tak terlalu lama, berbagai prestasi kemudian ia catat. Meningkatnya jumlah penonton, membaiknya rating Nielsen, karyawan memperoleh tunjangan kinerja yang selama ini hampir tidak pernah didapat, serta predikat WTP oleh BPK untuk laporan keuangan tahun 2018 adalah sebagian dari prestasi tersebut.

Sudah berprestasi dan moncer, kok dicopot?

By the way, kewenangan mengangkat dan memberhentikan direksi ada di Dewan Pengawas (Dewas) TVRI, sesuai PP Nomor 13 Tahun 2005. Dewas sendiri ditunjuk oleh Komisi I DPR RI. Dalam sengkarut ini, Dewas menyatakan sudah final dengan keputusannya, meskipun Helmy Yahya sempat akan melakukan perlawanan di jalur hukum.

Kembali ke pertanyaan, kok dicopot?

Well, kadang memang aturan tidak sejalan dengan pemikiran dan harapan. Sebagai representasi pemegang saham yaitu negara, Dewas punya legitimasi mengangkat dan mencopot direksi. Sebagaimana halnya di perusahaan, melalui RUPS maupun RUPSLB para pemegang saham bisa mengotak-atik susunan direksi. Kadang bahkan sering dengan alasan yang sulit dipahami. Tapi ya begitulah. Namanya saja pemegang saham, suka-suka dia.

Saya lebih suka menyoroti dari spektrum yang lebih luas, stabilitas organisasi.

Meskipun terdiri dari banyak karakter dan keinginan manusia, namanya organisasi harus punya common goal alias tujuan bersama yang harus dicapai.

Para pakar macam Stephen P. Robbins, Stoner, Malayu Hasibuan, Sondang Siagian, Thomas Zimmerer kompak seragam dalam hal ini. Tanpa tujuan bersama maka itu bukan organisasi melainkan sekumpulan manusia saja.

Pertanyaannya, bagaimana mencapai tujuan bersama kalau organisasi tidak stabil?

Bagaimana organisasi bisa maju kalau banyak terjadi sengkarut, perseteruan internal, konflik antar personel, bad office politics, SDM tidak kompak?

Ya salah yang mengangkat dan memilih personel, dong. Kalau tahu orang bermasalah, atau minimal tidak tahu background-nya lantas kenapa dipilih? Make sense.

Tapi di internal yang mengangkat itu juga terdiri dari berbagai otak dan pemikiran. Dewas di TVRI, atau pemegang saham di perusahaan, umumnya lebih dari 1 orang. Wajar jika terjadi beda pendapat, perang kepentingan, dan sejenisnya.

Maka di sinilah perlu kita renungkan 4 kata kunci: leadership, followership, culture, dan stabilitas.

Leadership yang baik mendorong pemimpin untuk berbuat adil, mengayomi, satunya kata dengan perbuatan, tegas, bersedia berkorban, dan bisa jadi panutan. Rasanya sudah sangat banyak literatur membahas bagaimana kepemimpinan yang baik. Rasulullah Muhammad SAW ada di ranking tertinggi untuk urusan ini.

Followership pun tak kalah penting. Organisasi tidak cukup dipimpin orang yang baik, namun juga butuh pengikut-pengikut yang loyal dan selalu siap mendukung pemimpinnya. Al Qur’an menyebutnya dengan istilah Hawariyyun.

Pengikut yang baik bukan membebek alias asal ikut, apalagi suka menjilat. Ronald E. Riggio, Ph.D. dari Kravis Leadership Institute di Claremont McKenna College, California menyatakan bahwa pengikut yang baik tidak hanya selalu mendukung saat pemimpinnya melakukan hal yang benar, tapi juga korektif saat pemimpinnya menuju ke arah yang salah. Tentunya bukan karena sentimen pribadi, melainkan kepentingan organisasi yang harus diutamakan. Dan cukuplah Sayyidina Abubakar, Umar, Utsman, Ali serta para sahabat menjadi guru teladan soal followership ini.

Sedangkan culture alias budaya memberikan panduan untuk organisasi dan mereka yang ada di dalamnya, tentang bagaimana harus bertindak dan bersikap agar selalu tercipta harmonisasi positif. Budaya juga menjadi pembeda antara organisasi satu dengan lainnya, dan berperan dalam pencapaian tujuan.

Prof. James L. Heskett dalam bukunya The Culture Cycle menyatakan bahwa budaya organisasi yang efektif berkontribusi 20-30 persen dalam pencapaian kinerja, lebih baik daripada kompetitor yang tidak menerapkannya.

Pandangan lain tentang budaya adalah karena uniknya tiap individu yang bergabung dalam organisasi. Mereka berbeda dalam pola pikir, cara pandang, sistem nilai. Budaya organisasi menuntun mereka menyelaraskan perbedaan itu, tanpa harus membunuh karakter masing-masing individu.

Dengan budaya yang efektif, pemimpin dan yang dipimpin dapat bersama-sama mengendalikan organisasi dengan baik, serta mengarah pada tujuan yang benar tanpa banyak konflik yang meresahkan.

Dahlan Iskan mengingatkan, perusahaan (baca: organisasi) perlu ketenangan, dan tidak bisa maju kalau hebohnya lebih besar dari kerjanya. Inilah kata kunci ke-4: stabilitas.

Memang tidak bisa dipungkiri jika semua ini mengerucut pada satu hal: SDM berkualitas. Tidak jadi persoalan jika banyak orang berprestasi di sekeliling yang dapat kita ajak memajukan organisasi. Karena seperti kata Dahlan Iskan juga, orang berprestasi cenderung sukses ditempatkan di mana pun. Masalahnya, tidak segampang itu. Kalaupun ada sudah tentu jadi rebutan banyak pihak.

PR kita bersama, bukan?

Penutup tulisan ini sekaligus pengingat adalah: mari berhati-hati dengan kekuasaan dan kewenangan. Salah kita memilih orang, terlalu besar pertaruhannya. Prinsip the right man/woman on the right place rasanya tak lapuk dimakan masa.

Tabik.
Kemang, 30 Jumadil Awwal 1441 H.

Irwitono, S.T., M.M.
Founder Griya Al Qur’an | Co-founder Suara Muslim | Cerfitied Professional Coach & Firm Owner at Hijrah Coach

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.