Belajar Taat Beragama dari Ashabul Kahfi

Suaramuslim.net – Di antara banyak kisah yang diceritakan dalam Al Quran, kisah Ashabul Kahfi salah satu yang paling menarik. Kisah yang bercerita tentang keajaiban Allah kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya.

Dalam Al Quran terdapat banyak sekali kisah-kisah yang dapat dipelajari dan diambil hikmahnya. Kisah yang akan dibahas kali ini ialah kisah ashabul kahfi. Kisah ashabul kahfi diabadikan dalam surat Al Kahfi (gua) mulai dari ayat 9-26, bercerita mengenai tujuh orang pemuda bersama anjing peliharaan mereka yang dikejar-kejar oleh bala tentara dari raja yang dzalim lagi kafir. Kemudian mereka berlindung di dalam gua dan Allah tidurkan mereka tiga ratus sembilan tahun lamanya.

Lokasi mengenai gua ashabul kahfi sendiri masih diperdebatkan. Ada yang mengatakan di Jabal Qassiyyun, Syria, ada yang mengatakan sebuah gua di Ephesus (Tarsus), Turki, ada yang mengatakan terletak di Abu Alanda, kira-kira 7 km dari pusat Bandar Amman, Jordan yang konon lebih menepati ciri-ciri yang dikisahkan di dalam Al Quran.

Dalam versi Kristen (seven sleepers), kisah ini juga dikenal meskipun hanya sekadar mitos, karena tidak terdapat dalam kitab suci mereka (perjanjian lama). Diceritakan mengatakan bahwa sekitar tahun dua ratus lima puluh Masehi, tujuh pemuda dituduh mengikuti agama Kristen. Mereka diberi waktu untuk kembali kepada iman mereka dahulu, namun malah memilih teguh dan kabur ke gua di sebuah gunung untuk berdoa, di mana mereka tertidur. Sang kaisar, melihat bahwa sikap mereka terhadap paganisme belum membaik, memerintahkan mulut gua untuk dikepung. Dalam versi kristen, mereka ditidurkan selama tiga ratus tahun.

Baca Juga :  Al Quran dan Cahaya Kehidupan 

Sedangkan dalam Al Quran surat Al Kahfi diceritakan bahwa terdapat tujuh orang pemuda bersama anjing mereka, lari dari kejaran raja Dikyanus. Raja Dikyanus merupakan seorang raja yang sangat dzalim dan sombong, yang membunuh siapa saja yang tidak sejalan dengannya, termasuk dalam urusan peribadahan. Tujuh orang pemuda ini dengan gagah berani menantang Raja Dikyanus, sampai akhirnya mereka dikejar oleh bala tentara Raja Dikyanus dan bersembunyi di gua.

Di dalam gua mereka berdoa meminta perlindungan Allah subhanahu wa ta’ala, “Ya Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” Doa mereka dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah menidurkan mereka selama tiga ratus sembilan hari, sebagaimana tertera dalam surat Al Kahfi ayat 25 yang artinya, “Dan mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun ditambah sembilan.”

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala melanjutkan kisah ini, “Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka itu tidur. Kami (Allah) bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri sedangkan anjing mereka membentangkan lengannya (kakinya) di depan pintu gua.  Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentu kamu akan berpaling (melarikan diri) dari mereka dan kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.”

Baca Juga :  Merindu Nabi

Masyarakat Berselisih tentang Ashabul Kahfi

Saat mereka terjaga dari tidur mereka, mereka berselisih mengenai berapa lama mereka tertidur. Karena mereka lapar, pergilah salah seorang dari mereka untuk membeli makanan. Pada saat masyarakat sekitar melihat mata uang (koin) mereka, terkejutlah mereka karena mata uang ini tidak lagi digunakan. Mata uang yang digunakan oleh masyarakat telah berganti dengan wajah raja yang baru, sedangkan yang mereka miliki masih bergambar Raja Dikyanus.

Masyarakat pun, sebagaimana tertera di dalam Al Quran berselisih mengenai mereka dan jumlah mereka. “Nanti (orang-orang) mengatakan jumlah mereka tiga orang dan yang keempat anjingnya. Yang lain mengatakan jumlah mereka lima orang dan yang  keenam anjingnya. Yang lain mengatakan jumlah mereka tujuh dan yang kedelapan anjingnya.” Allah subhanahu wa ta’ala pun menutup cerita ini, “Katakanlah, Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal, pemilik semuanya yang tersembunyi di langit dan bumi. Sangatlah jelas penglihatannya, dan tajam pendengarannya. Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia. Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutunya.”

Baca Juga :  Menjadi Muslim Negarawan: Sumbangsih Pemuda Islam dalam Kebangkitan Peradaban Islam pada Era Nation-State (2)

Hikmah yang diambil dari kisah ini adalah, pertama, Allah Maha Mampu dan Maha Kuasa atas semuanya, termasuk melakukan hal yang tidak masuk akal sekalipun. Allah menidurkan mereka selama tiga ratus sembilan tahun di dalam gua, tetapi para pemuda ini tidaklah merasakannya bahkan mereka merasa tidur mereka hanya sekitar satu jam dua jam kurang lebih.

Kedua adalah keteguhan sekelompok pemuda dalam bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ketauhidan sekelompok pemuda itu semakin patut diacungi jempol karena di zaman mereka tidak ada orang alim dan tidak ada wahyu maupun Nabi.

Mereka bertauhid dengan segala konsekuensi yang mereka hadapi seperti dibunuh. Inilah yang dapat kita petik, agar berkonsekuensi beribadah hanya kepada Allah semata, tidak tergiur kepada dunia dan tidak takut dengan konsekuensi apapun.

Kontributor: Abby Fadhilah Yahya
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.