Bayi laki-laki. Foto: Pixabay.com

Suaramuslim.net – Ketika sudah menikah dan menjadi pasangan suami istri tentu akan ada rasa ingin mempunyai momongan sesuai harapan yang diinginkan, semisal sang istri ingin anak perempuan dan sang suami malah sebaliknya.

Gender disappointment alias rasa kecewa yang muncul karena si kecil memiliki jenis kelamin yang tidak sesuai harapan adalah salah satu topik kotroversial yang cukup sering dialami oleh orang tua. Terkadang kekecewaan tersebut dikaitkan pula dengan depresi pasca kehamilan (Post Natal Depression). 

Meski begitu, jarang ada orang tua yang berani mengungkapkan kekecewaannya baik pada pasangan, kerabat, maupun teman terdekat. Alasannya jelas, mulai dari takut dicap “kurang bersyukur” sampai takut menyakiti hati orang terkasih.

Tak perlu bersedih jika kelak yang dilahirkan bukan anak dengan jenis kelamin yang diharapkan. Anak itu titipan bisa jadi sewaktu-waktu akan diambil kembali. Banyak pula di luar sana yang menanti diamanahi buah hati sudah bertahun-tahun bahkan hingga belasan tahun namun belum pula dikaruniai.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis anak laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya). Dan Dia menjadikan tidak memiliki keturunan (mandul), siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy-Syuura: 49-50).

Bersyukur apapun pemberian dari Allah, Dia Maha Mengetahui

Di antara para Nabi alaihis salam, ada yang hanya memiliki anak perempuan, yaitu Nabi Luth. Ada yang hanya memiliki anak laki-laki, semisal Nabi Ibrahim. Ada pula yang memiliki anak laki-laki dan perempuan seperti Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ada pula yang tidak memiliki keturunan, semisal Nabi Yahya.

Kita pun tidak mengetahui, manakah yang lebih baik di antara keduanya, anak laki-laki atau anak perempuan?

Allah Ta’ala berfirman:

“(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 11).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui,” (Al-Baqarah: 215)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.