Cerita Dibalik Tradisi Bubur ‘Suro’ tuk Sambut Tahun Baru Islam

96
Cerita Dibalik Tradisi Bubur ‘Suro’ tuk Sambut Tahun Baru Islam

Suaramuslim.net – Muharram merupakan bulan mulia bagi umat Islam. Salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Puasa sunnah yang dilakukan pada bulan Muharram ini dipercaya bisa menghapus dosa selama setahun yang lalu serta memberi syafaat di hari kiamat nanti.

Sebagian negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam menyajikan bubur khas untuk menu buka puasa 10 Muharram. Dialah bubur Asyura atau oleh masyarakat Jawa disebut bubur suro. Bubur Asyura sendiri merupakan bubur yang dimasak dengan campuran berbagai bahan dan ramuan yang disajikan khusus untuk buka puasa sunnah Asyuro.

-Advertisement-

Dilansir dari sumber di internet, sejarah tentang tradisi selametan (tasyakuran) bubur Asyura ini adalah untuk memperingati hari dimana Nabu Nuh a.s. berhasil selamat setelah 40 hari mengaruhi bah (banjir) besar yang melanda dunia saat itu. Ini sebagaimana tertera dalam kitab kuno, diantaranya Nihayatuz Zain (Syeikh Nawawi Banten), Nuzhatul Majalis (Syeikh Abdul Rahman Al-Usfuri), dan Jam’ul Fawaid ( Syeikh Daud al-Fatani).

Konon ceritanya, kapal Nabi Nuh as. berlabuh di sebuah bukit bernama ‘Juudi’ pada hari Asyura. Sesampainya di daratan, Nabi Nuh as. bertanya kepada umatnya adakah sisa bekal yang masih tersisa dan bisa dimakan? Lalu mereka menjawab, “Ada ya Nabi”. Setelah itu, sang baginda menyuruh kaumnya untuk mengumpulkan barang makanan yang tersisa.

Baca Juga :  Hadits Ini Membahas Keutamaan Bulan Muharram

Diantaranya ada kacang baqila (kacang poi), kacang adas, ba’ruz , tepung , kacang hinthoh dan sebagainya yang kesemuanya berjumlah tujuh jenis biji-bijian. Semua bahan lalu lalu dimasak bersamaan. Nabi Nuh pun berkata, “Masaklah semuanya kerana kamu sudah mendapat kesenangan sekarang”. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal santapan lezat nan bergizi yang kita sebut bubur Asyura.

Versi lain yang dilansir dari laman Kompas (10/09), menyebutkan tradisi masak bubur Asyura di Banjarmasin merujuk pada kisah Nabi Muhammad saw. Usai perang Badar, jumlah pasukan Muslim bertambah banyak. Saat itu seorang sahabat Nabi sedang memasak bubur. Sayangnya, makanan yang dimasak tak sebanding dengan jumlah prajurit. Akhirnya, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya mengumpulkan bahan makanan apa saja yang ada untuk dicampurkan ke bubur. Sehingga jumlahnya bertambah banyak dan cukup dimakan oleh semua prajurit. Peristiwa itu terjadi pada 10 Muharram, bertepatan dengan sejarah berdarah di padang Karbala dimana cucu Nabi Muhammad saw., Husain, terbunuh secara mengenaskan.

Dalam syair Imam Ibnu Hajar Al Asqalani tertulis, “Pada Hari ‘Asyura ada 7 yang dimakan yaitu gandum (tepung), beras, kemudian kacang mash (kacang kuda), dan kacang adas (kacang dal). Dan kacang himmash (kacang putih), dan kacang lubia (sejenis kacang panjang) dan kacang ful”.

Bubur Asyura melambangkan rasa syukur kepada Allah swt. atas keselamatan. Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia memasaknya secara bersama-sama, lalu menghidangkannya untuk berbuka puasa bersama di surau (musholla) atau masjid. Dari sini kita bisa melihat semangat gotong-royong dan kerukunan umat Islam.

Baca Juga :  Perayaan Muharram dan Ritual Malam Satu Suro, Benarkah Saling Berkaitan?

Tiap daerah menyajikan bubur Asyura dengan bentuk dan tambahan bahan berbeda. Misalnya di Banjarmasin, bentuk bubur Asyura berwarna kuning, dan rasanya gurih. Konon, bahan campuran yang digunakan jumlahnya harus mencapai 41 jenis, berupa sayuran dan kacang-kacangan. Bahan yang dipergunakan pun boleh apa saja, disesuaikan dengan kondisi perekonomian warga setempat, yang terpenting hidangannya cukup untuk dikonsumsi warga sekampung.

Sementara di Nanggroe Aceh Darussalam, rasa bubur Asyura lebih manis karena terbuat umbi-umbian. Diantaranya ada santan, pisang, nangka, beureune (sejenis sagu namun butirannya agak keras) kacang hijau, labu kuning, ubi dan lain-lain.

Berbeda dengan wilayah lain, masyarakat Jawa menyebutnya dengan bubur Suro. Ini karena bagi orang Jawa, Muharram bertepatan juga dengan bulan Suro. Keduanya merupakan bulan baru yang sekaligus sarat akan makna. Hidangan lezat nan bergizi itu melambangkan harapan baru ketika memasuki tahun baru. Namun itu bukan berarti bahwa bubur suro termasuk sesaji yang berbau mistis. Bahan dan proses memasaknya lebih sederhana, simak ulasannya berikut:

Bahan-bahan

250 gr beras yang sudah dicuci bersih
1L santan cair (secukupnya)
3 sdt garam
5 lembar daun salam
5 buah kunyit
1 batang serai

Baca Juga :  Amalan Sunah di Bulan Muharram Ini Rugi Kalau Terlewat
Cara membuat
  1. Masak santan cair hingga mendidih, kemudian masukkan beras yang sudah dicuci bersih sebelumnya.
  2. Tambahkan daun salam, garam, kunyit, dan batang serai yang sudah dimemarkan. Gunakan api sedang agar bubur tidak cepat hangus.
  3. Aduk terus hingga bubur mengental, lalu sisihkan
  4. Tuang bubur suro ke dalam mangkuk yang sudah disiapkan. Lalu tambahkan bahan pelengkapnya diatas bubur.
  5. Semangkuk bubur suro siap dinikmati

Untuk bahan pelengkap bubur suro ini bervariasi. Umumnya terdiri dari lauk pauk khas Jawa. Seperti sambal goreng kentang atau sambal goreng ati ayam, perkedel, telur rebus, telur dadar, kering tempe. Sementara untuk taburannya ada bawang goreng, daun seledri, dan cabai merah untuk hiasan.

Ada juga versi yang menambahkan pelengkap kacang. Dilansir dari laman Kompas (8/9), ada 7 jenis kacang yang biasa disajikan dalam bubur suro. Diantaranya kacang mede, kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai, kacang merah, kacang tholo, dan kacang bogor. Ketujuh jenis kacang-kacangan itu bisa direbus atau digoreng dulu. Selain menambahkan tujuh jenis kacang, sajian bubur suro juga ditaburi dengan serpihan jeruk bali dan bulir buah delima untuk menambah cita rasa asam pada bubur.

Kontributor: Siti Aisah
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here