Fikih yang Sesekali Membuat Kita Tersenyum

99
Fikih Yang Sesekali Membuat Kita Tersenyum

Buku                : Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih
Penulis             : Khaeron Sirin
Penerbit           : Pustaka Iman (Cetakan ke I, 2016)
Jumlah hlm      : 368 halaman

Suaramuslim.net – Akhir bulan januari 2018, bapak Fadh Ahmad Arifan, Guru Fikih jebolan UIN Malang tersebut memberi saya dan teman-teman tugas meresensi buku fikih. Pilihan saya jatuh kepada buku “Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih”. Bagi pembaca pemula, memahami isi buku bisa dengan tiga tahap. Pertama, membaca kata pengantar, Kedua, profil penulis dan terakhir memilih bab yang dianggap menarik.

Habiburrahman El-Shirazy memberi kata pengantar yang pertama. Menurut Habiburrahman, isi buku ini bisa membuat pembacanya sesekali tersenyum. Sementara itu kata pengantar berikutnya KH. Masdar F. Masudi. Jika saya cermati, beliau berdua bukanlah pakar Fikih. Contohnya KH Masdar dalam situs milik Jaringan Islam Liberal (JIL) pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial. Beliau berpendapat sebaiknya jadwal haji atau tanggal ketetapan untuk berhaji perlu dikaji ulang atau direvisi lantaran sudah tidak relevan.

Baca Juga :  Ibnu Aqil: Ahli Fikih yang Cerdas dalam Memahami Hadis

Setelah mengetahui siapa saja pemberi kata pengantar, pembaca perlu mengetahui biografi penulis buku. Sayangnya di buku ini tidak disertakan biografi lengkap sang penulis. Di situs google dijelaskan Khaeron sirin adalah dosen Fikih di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Penulis buku ini berafiliasi ke Nahdlatul ulama (NU). Pasalnya beliau memasukkan kisah-kisah Kyai, karamah dan Tawassul dengan Al Quran. Sebuah istilah khas milik Jami’iyyah NU.

Dalam buku setebal 368 halaman ini saya temukan kisah menarik “Ruku’ dan Sujud tidak Perlu dalam Sholat”. Kisahnya tentang Harun al-Rasyid yang mendengar dari pelayannya bahwa Abu Nawas kalau sholat tidak ruku’ dan sujud. Karena terjadi kesalahpahaman, Abu Nawas menjelaskan ke Sultan Harun bahwa ruku’ dan sujud tak perlu dilakukan ketika sholat jenazah.

Sebatas yang saya ketahui, Abu Nawas bukanlah ahli Fikih, melainkan penyair jenaka asal Persia. Inilah kelemahan buku ini yang mana penulis memasukkan tokoh-tokoh yang bukan pakar Fikih. Selain itu, dibeberapa bagian buku ini ada kisah-kisah yang tidak disertai referensi yang jelas. Contohnya kisah Hasan al-Banna pada halaman 198-201.

Baca Juga :  Smart Parent : Menyayangi Anak Sepenuh Hati

Jika dibandingkan dengan buku-buku Fikih yang beredar, buku karangan Khaeron sirin punya format yang berbeda. Formatnya narasi ala cerpen. Sementara buku-buku fikih pada umumnya berformat tanya jawab disertai kutipan teks dari kitab kuning. Oleh karena itu, menurut pandangan saya buku ini tidak terasa membosankan jika dibaca di sekolah, rumah maupun tempat wisata. Saran saya kepada penerbit bila akan dicetak ulang, segera dilengkapi sumber referensi yang jelas dan hilangkan kisah-kisah yang tidak ada kaitannya dengan Fikih. Wallahu’allam.

Oleh : Nur Maylatul Chabibah*
Editor: Muhammad Nashir

*Penulis adalah siswi kelas XI di MA Muhammadiyah 2 Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here