Bunda Kurnia Laila: Fitrah Based Education

Bunda Kurnia Laila Fitrah Based Education

Suaramuslim.net – Assalamualaykum, salam kenal dari saya, mungkin kalau di udara anda sering mengenal di closing Host kami, “produser dan Gatekeeper Elsa Khairunnisa”. Kali ini saya mengemban amanah untuk mengulas program yang telah onair di Suara Muslim Surabaya. Kali ini saya review program mozaik, edisi 23 oktober 2017 bersama Bunda Kurnia Laila, Pemerhati dan pemberdayaan Perempuan dan Anak – Bidang Pendidikan dan Dakwah Salimah Persaudaraan Muslimah Kota Surabaya.

*********

Tema yang diangkat di edisi ini, tentang Fitrah Based Education.

Dalam Islam, pendidikan dikenal ada dua. Sebelum dan sesudah aqil baligh. Baligh adalah kedewasaan biologis. Aqil adalah kedewasaan psikologis. Dan kerusakan generasi kita terjadi pada masa remaja yang disebabkan karena balighnya kecepetan, sementara aqilnya mengalami keterlambatan, kelamaan.

Ketika kesenjangan antara aqil dan baligh ini dialami seseorang, maka di sinilah letak potensi penyimpangan itu begitu mudah terjadi. Betapa banyak sarjana yang tidak dewasa. Pemuda yang fitrah bakatnya tidak tumbuh pun berpotensi mengalami kegoncangan.

Masyaa Allah Tabarakallah semoga bermanfaat dan menginspirasi.

Yang patut kita syukuri, Allah sudah memberikan modal kepada kita berupa potensi fitrah,

  1. Fitrah keimanan
  2. Fitrah belajar
  3. Fitrah bakat
  4. Fitrah Seksualitas
  5. Fitrah estetika

Orangtualah yang harus mengoptimalkan fitrah itu untuk kebaikan masa depan anak-anak. Kenapa banyak perilaku penyimpangan, kenapa banyak hilangnya potensi anak-anak kita yang sesungguhnya, karena orangtua belum paham dan belum bisa mengoptimalkan.

Fenomena yang sekarang terjadi, memahami fitrah anak, belum dipahami sempurna oleh instansi pendidikan, dan para orangtua.

Bunda Laila mulai membahas satu persatu tentang kelima fitrah,

Yang Pertama Fitrah Keimanan, jika diibaratkan, Fitrah ini adalah benih, dan orangtua adalah tanahnya. Lalu bisa tumbuh dengan subur manakala ada tanah dan sinar matahari, sebagai stimulus penumbuh. Kualitas tanah mempengaruhi kualitas tumbuhnya benih. Kepahaman orangtua tentang pola pendidikan anak mempengaruhi tumbuh kembang anak, begitu juga lingkungan. Apakah akan tumbuh berkembang atau terpendam.

Apa yang harus disiapkan orangtua agar fitrah dasar anak berkembang ?

Jika anak adalah tumbuhan, maka yang vital adalah akar, fitrah keimanan, diatur dalam surat al a’raaf ayat 172

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”

Mungkin kita bisa bilang, kok lupa ya saat kita dalam rahim terjadi dialog ini ? ya ini sudah skenario Allah, sebagai awal pondasi dalam hidup, kita mengakui adanya Tuhan. Adanya Rabb. Dan ini harus terus dipupuk, karena jika akar kuat maka tumbuh kembangnya bagus. Ini menjadi Peran orangtua di usia anak 0 sampai 11 tahun. Mengenalkan Allah dalam hidup dan mengenalkan fitrah keimanan.

Baca Juga :  10 Dampak Kecanduan Internet pada Remaja
Apa saja yang harus kita kenalkan pada anak tentang Allah ?
  1. Allahu kholikon, Allah yang ciptakan kita, manusia dan alam semesta. Sehingga kita harus mensyukurinya
  2. Allahu roziqon, Allah yang memberi kita rezeki, gunakan sarana yang ada di sekitar kita untuk mengajarkan pada anak.. semisal, betapa Allah memberi sinar matahari untuk tanaman agar bisa ber foto sintesis. Ajarkan anak untuk berdoa saat ingin memiliki apa yang ingin dimiliki. Hadirkan peran Allah. Karena Allah pemberi Rezeki
  3. Allahu Malikan, Allah adalah Raja, yang mengatur dan menguasai segala sesuatu. Sebagai hamba ikhlas dan mudah untuk ibadah, karena kita adalah bagian dari makhluk Allah

Mbak Dina bercerita satu pengalaman uniknya, saat mengajak putri putrinya bersilaturahim ke rumah saudara, ada saudara yang tiba tiba menyapa putrinya “aduh nak kasihan sekali kamu, masih kecil sudah disuruh pakai hijab”…

ya masih banyak sebagian dari kita yang beranggapan, “masih kecil ini belum baligh ini nggak apa-apa lah belum memakai kerudung dulu ”

Padahal dalam alquran, surat al syams ayat 8 dan 9,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams 91:8)

«فألهمها فجورها وتقواها» بيَّن لها طريق الخير والشر وأخر التقوى رعاية لرؤوس الآي وجواب القسم:

(Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya) maksudnya Allah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan. Lafal At-Taqwaa letaknya diakhirkan karena demi memelihara keserasian bunyi akhir ayat, sedangkan sebagai Jawab dari Qasam di atas ialah: (Tafsir Al-Jalalain, Asy-Syams 91:8)

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (Asy-Syams 91:9)

«قد أفلح» حذفت منه اللام لطول الكلام «مَنْ زكَّاها» طهرها من الذنوب.

(Sesungguhnya beruntunglah) pada lafal Qad Aflaha ini sengaja tidak disebutkan huruf Lam Taukidnya karena mengingat panjangnya pembicaraan (orang yang menyucikannya) yakni menyucikan jiwanya dari dosa-dosa. (Tafsir Al-Jalalain, Asy-Syams 91:9)

Manusia mempunyai 2 potensi, jalan kebaikan dan jalan keburukan, tinggal mana yang kuat yang orangtua dan lingkungan tumbuhkan. Saat anak melakukan kesalahan, saat yang tepat kita mengajarkan, mana yang baik dan harus dipertahankan, mana yang kurang baik dan harus diperbaiki.

================================================

Yang kedua Fitrah Belajar. Setiap anak anak kita itu pembelajar tangguh dan hebat, juga sejati. Ketika usia 9 bulan sampai 1,5 tahun, belajar merangkak dan berdiri. Itu dari Allah. Fitrah belajar dari Allah. Ketika putra-putri kita bertanya, maka berusahalah menyampaikan sebaik mungkin, karena anak kita akan menyimpan dalam ingatan dan memahami, bahkan saat usia dia memasuki kritis, usia 10 dan 11 keatas, ketika orangtua mungkin belum tepat menjawab, dia bia mengkoreksi.

Baca Juga :  Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, Haruskah?

Para Bunda, berusalah dalam kemampuan membaca, membaca umum dan alquran sebisa mungkin dari orangtuanya, karena anak memiliki fitrah belajar tinggal kita sempatkan waktu untuk membersamai. Kalau kita hanya menyerahkan pada sekolah atau TPQ, sayang sekali, kita hanya mendapatkan sedikit investasi pahala.

Selama orangtua bisa menjawab, maka berusahalah, baru google adalah alternatif terakhir. Maka kita harus memiliki referensi ilmu pengetahuan. Anak anak pun akan terinspirasi dan bangga pada orangtuanya ketika orangtuanya bisa menjawab apa yang menjadi pertanyaan mereka.

Anak-anak generasi masa kini, adalah generasi connecting, lebih cepat memahami. Mereka juga generasi community, memiliki komunitas dan baginya sangat enjoy mengembangkan diri, mereka juga generasi communiting, leluasa menyampaikan pendapatnya pada orangtua. Ini adalah kondisi zaman. Lalu bagaimana memunculkan potensi ? ikuti eranya, ikuti zamannya… jangan terlalu menganggap internet bisa merusak anak-anak kita. Ada nilai plus minus, dan dampingi saja… yang terpenting, membangun kedekatan sebagai kunci di era modern yang dunia socmed luar biasa, maka dengan dekat orangtua bisa bertanya apa minat anak.

ketiga Fitrah Bakat. Setiap manusia lahir unik, memiliki karakter dan kecenderungan unik. Masing orang tidak bisa disamakan. Begitu juga putra-putri kita lahir dari ayah yang suka A, maka tak bisa diopaksakan juga dia akan mengikuti suka A, dan fitrah bakat sudah Allah anugerahi, Orangtua dan insittuis sebisa mungkin menjadi arsitek yang merancang dan mengambngkan potensi anak-anaknya lalu memfasilitasi untuk meningkatkan, untuk mengetahui bakat, berikan tantangan dan kesempatan, kepercayaan dan pilihan untuk beraktivitas di bidang itu, kita lihat bagaimana potensinya… ketiak ada kesalahan maka arahkan pelan pelan. Terkadang orangtua harus berani mengambil resiko.

Oh ya, di sessi terakhir talkshow, ada pertanyaan via SMS dari mitra muslim, yang menanyakan tentang putranya yang sangat aktif, bahkan terlampau hiperaktif. Belajar dan makan sambil main, sehingga membuat rumah berantakan, apakah anaknya normal? karena sampai marah-marah jika mainannya tidak ada…

Bunda Laila baik sekali menjawabnya,,,

Anak hiperaktif atau banyak gerak, orangtua perlu mengenali gaya belajar anak. Dan sepertinya gaya belajar anak ini kinestetik, mereka banyak gerak justru harus difalisitasi. Karena motorik kasarnya harus tuntas di saat usia golden age. Karena jika tidak, akan mengganggu belajarnya saat usia 5 tahun keatas atau saat usia SD. Dia tidak akan tenang. Anak kinestetik ini jika belajar, harus dengan cara berdampingan bukan saling berhadapan. Konsentrasinya pendek sekali jika diam, maka dia suka sekali bergerak, dibutuhkan sarana belajar yang bergerak, sambil bermain dengan orangtua. Tidak apa apa berantakan, tapi ajarkan rasa tanggungjawab mengembalikan buku dan mainan di tempatnya. Orangtua harus mengarahkan karena pada dasarnya dia sudah memiliki fitrah.

Baca Juga :  Beraktivitas Asyik Kala Ramadhan

Ada kasus yang Bunda Laila ceritakan, di sebuah sekolah islam terpadu terkenal di Surabaya, ada siswa yang kecil dipaksa untuk anteng dan protektif, maka saat SMP dia seringkali saat belajar di kelas, justru asyik sembunyi dan bermain di bawah meja. Setelah dibawa ke psikolog, ternyata motorik kasarnya belum tuntas.

Terakhir Fitrah Estetik. Masa kini, anak-anak suka ambil foto dan video, biarkan saja mereka berkreasi, dengan fasilitas yang ada di era digital. Ini menunjukkan potensi Fitrah Estetik. Anak-anak menyukai berkarya dan berkreasi yang menghasilkan suatu keindahan dan bernilai seni, dan estetika. Orangtua hanya perlu mengarahkan agar sesuai syariah.

MasyaAllah pembahasan bunda kurnia laila pada edisi ini.. betapa Allah Maha Menyayangi. Membekali hamba-hambaNya dengan fitrah yang sangat bermanfaat bagi dirinya untuk menjadi sebaik-baik manusia di muka bumi. Tapi sepertinya ada satu fitrah yang belum dibahas. Fitrah Seksualitas pada anak. Mungkin dilain kesempatan akan saya sampaikan pada Bunda Laila untuk dibahas diedisi selanjutnya sebagai hutang dalam edisi ini… yang terpenting dalam fitrah seksualitas, mungkin kita tau perasaan saling menyayangi dan mencintai antar lawan jenis pasti ada di setiap orang. Apalagi di masa masa baligh. Dan ini adalah anugerah dari Allah. Yang harus kita lakukan adalah mengelola dengan baik dan mengarahkan pada kegiatan kegiatan positif agar tidak berdampak negatif dan menjurus pada hal hal yang Allah larang, berzina. Allahualam bi shawab.

Sebait kalimat penutup juga konklusi dari Bunda Kurnia Laila, sangat inspiratif.

Bahwa tugas mengoptimalkan fitrah anak ada pada pundak orangtuanya. Maka para orangtua, dekati anak dan kenali apa yang menjadi hasrat dan keinginan mereka. Orangtua harus rendah hati memberi pengakuan juga berani mengambil resiko, dengan membebankan tantangan pada anak. Maka anak in syaa Allah menjadi generasi rabbani yang tangguh dan teguh. memiliki potensi unik masing masing yang sangat bermanfaat untuk umat. Aamin yaa Rabbal alamin…

Sekali lagi semoga bermanfaat dan menginspirasi ya… Sampai jumpa di Review Program berikutnya.

Oleh: Elsa Khairunnisa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.