Gerhana Sebagai Pemantik Kesadaran Umat

105
foto: engadget.com

Suaramuslim.net - Bila banyak kalangan dan sebagian besar media massa membahas
fenomena gerhana hanya dari sisi iptek, justru dalam Al-Quran, Hadits, dan
sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, peristiwa ini
mengandung nilai-nilai luhur yang perlu digali maknanya sebagai pemantik
kesadaran umat akan keagungan Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Dalam Al-Quran misalnya, matahari dan bulan adalah bagian
dari tanda-tanda besar kekuasaan Allah (QS. Fushshilat [41]: 37).
Tanda-tanda ini –betapapun luar biasanya- harus mengingatkan orang kepada
kuasa Allah. Pada waktu bersamaan, Allah juga meluruskan akidah menyimpang
dengan melarang ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya) tersebut dijadikan
sebagai tuhan oleh. Jangan sampai tanda-tanda besar ini
malah memalingkan manusia dari Allah subhanahu wata’ala.

Di sisi lain, sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Qiyamah [75]
ayat 8 dan At-Takwir [81] ayat 1, peristiwa gerhana juga memantik kesadaran
orang mengenai peristiwa kiamat, yaitu ketika cahaya bulan hilang dan
matahari digulung, sehingga sinarnya tidak berfungsi lagi. Dengan mengingat
kiamat, orang akan terlecut kesadarannya untuk menyiapkan diri menghadapi
dahsyatnya hari besar yang begitu membuat semua manusia gempar.

Menariknya, dalam hadits nabi pun, hal itu juga diingatkan oleh
Nabi saw. Sebagai contoh, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi saw.
mengingatkan bahwa matahari dan bulan, di samping termasuk tanda-tanda
besar kekuasaan Allah, beliau juga mengoreksi akidah yang menyimpang.
Adanya gerhana bulan atau matahari, kata beliau, tidak terkait kematian dan
kehidupan seseorang. Maka, ketika umat Islam melihat peristiwa ini, nabi
memerintahkan mereka segera shalat gerhana, dalam riwayat lain disebut:
lekas mengingat Allah.

Sementara itu, di hadits lain –masih Riwayat Bukhari Muslim-
yang diperintahkan Nabi saw. bukan hanya shalat, tapi juga berdzikir, berdoa,
istighfar, bertakbir, bersedekah dan berkhutbah. Perintah-perintah ini, di
samping menunjukkan pentingnya mengingat Allah ketika terjadi gerhana, juga
mengandung persiapan bekal menuju akhirat. Bila shalat, dzikir, berdoa,
bertakbir, istighfar adalah menyangkut hubungan dengan Allah, maka
perintah sedekah berkaitan dengan hubungan keshalihan sosial. Semuanya masuk
dalam kategori persiapan bekal menghadapi hari kiamat.

Fenomena gerhana, dalam hadits nabi pun juga mengingatkan tanda
terjadinya kiamat. Dalam riwayat Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari –yang
termaktub dalam Shahih Muslim- disebutkan bahwa di antara sepuluh tanda
besar kiamat yang besar adalah terjadi tiga gerhana di timur, barat dan
jazirah Arab. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan, peristiwa gerhana
mengingatkan umat tentang hari kiamat yang pada gilirannya membuat mereka
sadar untuk menyiapkan diri dengan iman dan amal shalih, bukan malah
berlomba-lomba menumpuk harta dunia yang tidak akan dibawa mati.

Sedangkan dalam sejarah nabi muhammad (sirah nabawiyah)
–sebagaimana yang dicatat Muhammad Ash-Shalihi dalam buku ‘Subulu al-Huda
wa al-Rasyad fi Sirah Khairi al-‘Ibad’ (1993: XI/24)- pada tanggal 13
Rabi’ul Awal tahun ke-10 Hijriah, buah hati beliau bernama Ibrahim wafat
bertepatan dengan gerhana matahari. Peristiwa ini sontak melahirkan
pemahaman keliru di sebagian kalangan sahabat, bahwa adanya gerhana karena
matinya orang besar. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam,* beliau segera menasihati, meluruskan pemahaman keliru,
serta memusatkan perhatian mereka kepada Allah.

Jadi, ketika terjadi gerhana, setidaknya ada tiga poin (makna)
yang bisa digali: Pertama, mengingat Allah (bahwa segala tanda besar
kekuasaan-Nya tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya). Kedua, membersihkan
akidah dan pemhaman keliru seputarnya. Ketiga, mengingat kiamat,
berorientasi akhirat, sekaligus menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Semoga, gerhana bulan total –sebagaimana yang telah  diprediksi
BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) malam ini
(31/01/2018)- bisa membuat umat kepada Allah semakin dekat, berakidah kuat
sekaligus berpaham tepat dan berorientasi akhirat. Wallahu a’lam.

Oleh Mahmud Budi Setiawan
Alumnus Universitas Al Azhar Mesir, tinggal di Jakarta
Editor: Oki Aryono

SHARE
Suara Muslim adalah jejaring media, menyajikan ragam materi yang mencerahkan, menyejukkan dan menyatukan secara on air, off air dan online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here