Griya Al Qur'an Ajarkan Mudah Mengaji Dengan Metode Sandi di Hijrah Fest 2019
GM Griya Al Qur'an Area Jakarta, Ustaz Alfa Rois Alghani saat mengisi Klinik Al Qur'an di Hijrah Fest Ramadhan, Ahad (26/5/19). (Foto: Wirawan/Suaramuslim.net)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Hijrah Fest Ramadhan 2019, pagelaran hijrah terbesar di Indonesia baru saja selesai dilaksanakan. Agenda yang bertema Unforgettable Hijrah ini digagas oleh para artis dikomandoi Arie Untung.

Selama tiga hari dari tanggal 24-26 Mei 2019, Hijrah Fest menghadirkan sajian komplit untuk muslim ibu kota dan Indonesia.

Selain ada kajian dan pameran, acara yang dihelat di JCC Senayan ini juga menyediakan berbagai klinik keislaman yang salah satunya adalah Klinik Al Qur’an bersama Griya Al Qur’an, Ahad (26/5).

Ustaz Alfa Rois Alghani selaku GM Griya Al Qur’an Area Jakarta menyebutkan Griya Al Qur’an bermula dari satu cabang di Surabaya pada 2008 lalu.

“Alhamdulillah Allah mudahkan menyebarkan Al Qur’an ke seluruh Indonesia. Sampai hari ini ada 19 cabang di seluruh Indonesia. Kami beriktikad baik dan berazam ingin membuka cabang sebanyak mungkin di seluruh Indonesia karena kebutuhan membaca Al Qur’an sangat banyak.” Jelas ustaz Alfa saat menerangkan sekilas tentang Griya Al Qur’an.

Baca Juga :  Habib Novel Alaydrus di Hijrah Fest: Dakwah Model Begini Harus Dikembangkan

Griya Al Qur’an mengkhususkan untuk tempat belajar orang dewasa, imbuhnya, karena mereka perlu fasilitas membaca Al Qur’an juga seperti anak-anak. Meski begitu, lanjutnya, metode pembelajaran yang diterapkan tidak kaku, menyenangkan dan pembelajarannya terstruktur.

“Orang dewasa datang mengaji bukan karena disuruh orang tua sebagaimana lazimnya anak-anak mengaji. Mereka sudah memiliki kesadaran dan jika datang ke tempat mengaji biasanya didasari keinginan dan nurani mereka sendiri,” lanjutnya.

Ustaz Alfa berterima kasih kepada Hijrah Fest yang memberikan kesempatan berpartisipasi. Ia pun berdoa semoga Allah memudahkan jalan peserta yang hadir dengan Al Qur’an

Dalam mengajarkan Al Qur’an, Griya Al Qur’an mengambil standar Mushaf Madinah. Hal ini menurut ustaz Alfa, karena Mushaf Madinah memiliki standar tertentu dari segi penulisan dan harakat.

“Mushaf Madinah sudah tersebar luas dan memiliki kode-kode unik yang dibikin oleh pakar Al Qur’an dan tidak ada di mushaf lain,” tuturnya.

Kode-kode atau sandi unik itulah yang kemudian diteliti satu persatu oleh tim Griya Al Qur’an untuk diterapkan kepada orang dewasa sehingga disebut metode sandi.

Baca Juga :  Para Pengajar Al Quran Harus Terus Luruskan Niat

“Dalam pembelajaran Griya Al Qur’an berusaha menghilangkan kerumitan-kerumitan tapi fokus membaca Al Qur’an tanpa disibukkan dengan kaidah-kaidan dan istilah-istilah tajwid yang cukup membingungkan bagi pemula,” tuturnya kepada para peserta klinik.

Biasanya, kata ustaz Alfa, orang dewasa sudah sibuk mengurus berbagai hal, dari suami, anak, rumah, dan pekerjaan. Nah, baru belajar sudah disodorkan hukum tajwid, malah tambah pusing mau belajarnya.

Ustaz alumni LIPIA Jakarta ini pun kemudian mulai mengenalkan metode sandi yang diambil dari kode-kode Mushaf Madinah kepada peserta. Selama kurang lebih satu jam, ada beberapa sandi yang diajarkan, di antaranya sandi mim jelas dan mim dengung, sandi nun jelas dan nun dengung, serta pengecualian dari dua sandi tersebut.

“Dengan mengetahui sandi ini, walaupun tidak tahu hukum bacaan dan namanya, insya Allah sudah bisa membaca Al Qur’an. Buktinya sudah dirasakan santri-santri Griya Al Qur’an,” tambah ustaz Alfa.

Menurutnya, belajar dengan metode sandi ini sangat mudah bagi pemula, karena kalau disuguhi teori tajwid di awal, kebanyakan akan mundur dan belajar ngajinya tidak selesai

Baca Juga :  Dibuka Anies Baswedan, Hijrah Fest 2019 Hadirkan Pesan Islam dalam Nuansa Kekinian

Di ahir klinik ditampilkan profil santri Griya Al Qur’an yang menghafal di usia pensiun, Sri Lestari, dan sekarang sudah hafal 18 juz. Para peserta antusias menyaksikan bahkan ada yang berminat untuk mendaftar belajar di Griya Al Qur’an.

Fajar, 24 tahun asal Tangerang Selatan mengatakan, ia tertarik mengikuti klinik Al Qur’an di Hijrah Fest karena lebih private dengan peserta terbatas sehingga lebih fokus. Ia juga ingin membetulkan bacaan Al Qur’annya yang masih banyak salah.

“Karena kesadaran juga, sudah besar tapi belum lancar baca Al Qur’an, jadi saya ingin bergabung daftar di Griya Al Qur’an nanti agar lebih lancar dan lebih enak membacanya,” tuturnya kepada Suaramuslim.net setelah klinik selesai.

Reporter: Abdullah Ahmad
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.