Hidup Bukan Tragedi

Hidup Bukan Tragedi

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (Q.S. Al-Hijr: 56)

Sepanjang 2017, segala rupa media mengabarkan kepada masyarakat Indonesia peristiwa-peristiwa memilukan, seperti banjir di Sumbawa, longsor di Ponorogo, meletusnya Gunung Sinabung di Sumatera Utara lalu Gunung Agung di Bali, cuaca ekstrem di akhir tahun yang megakibatkan banjir di Pacitan, ada juga berbagai ragam kebakaran dan kecelakaan seperti kebakaran pabrik petasan di Tangerang. Berkat kecanggihan teknologi, kita bisa dengan cepat menyaksikan semua itu ketika sarapan atau makan siang; wajah-wajah nestapa di pengungsian, kendaraan-kendaraan yang ringsek tak karuan menggaungkan kalap atau doa penumpang sesaat sebelum kejadian, anak kecil menangis di antara mereka, tak lupa musik-musik bernada duka oleh tim produksi di studio melatari itu semua.

Beberapa pihak, seperti kalangan media dan tokoh masyarakat yang dimintai pendapatnya di media, menamakan peristiwa-peristiwa ini sebagai tragedi. Masyarakat pada umumnya sepakat atas pemilihan istilah “tragedi”, padahal jika kita telusuri muatan nilai serta perkembangan penggunaan istilah tragedi dalam upaya menjelaskan sisi paling mendasar bagi keberadaan manusia, yakni makna hidup, kita –umat Islam- mestinya menghindari penggunaan istilah tersebut dan menggantikannya dengan istilah yang ada dalam perbendaharaan Islam, seperti musibah.

Tulisan ini akan membahas sedikit tentang tragedi yang muncul dan berkembang di negeri Barat.

Panggung Yunani, Jeritan Prancis

Ada satu kalimat Soe Hok Gie yang menjadi kegemaran anak muda, terutama mahasiswa yang menonton film buatan Mira Lesmana tentang mahasiswa Ilmu Sejarah UI itu: “Seorang filsuf pernah menulis bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”

Tulisan tersebut terdapat dalam karya Hesiodos berjudul Theogony, saat ia menceritakan tiga Moirai yang merupakan puteri dari Nyx. Tiga Moirai, dalam satu versi mitologi Yunani yang dirujuk Hesiodos, merupakan penguasa nasib manusia dan para dewa. Ketiganya menjalankan peran masing-masing. Tiga Moirai itu mendampingkan manusia dengan kebaikan dan keburukan, sejak ia lahir sampai mati. Hal inilah yang menurut Hesiodos sebagai kesialan, dan lebih baik manusia tidak pernah lahir saja.

Ada pula mitos tentang Promotheus. Promotheus mencuri api dari para dewa untuk manusia, agar manusia dapat menjalankan kehidupan, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban (Plato, 2007: 239). Akibat dari ulah nekadnya, ia menerima hukuman dalam bentuk pasungan dan matanya dipatuki burung, terus-menerus begitu sampai abadi. Mitos ini menggambarkan perlawanan manusia terhadap para dewa, dan awal dari gairah kemandirian mereka untuk hidup tanpa kekuatan adikodrati di atasnya.

Dua mitos di atas bisa dikatakan sebagai penjelasan mengenai makna kehidupan yang memenuhi alam pikiran Yunani, bahkan sampai pada masa para filsuf. Filsuf seperti Aristoteles berupaya menafsirkan mitos-mitos itu secara spekulatif. Saat membahas tentang karya seni (terutama seni pertunjukan) yang diperlihatkan kepada khalayak, Aristoteles melalui kitab Poetics (2007: 2419) berpendapat bahwa salah satu genre dari karya tersebut adalah tragedi, yakni yang menunjukkan tentang kehidupan manusia di dunia nyata agar penyimak (atau penonton) karya tersebut mengalami pemurnian jiwa (katarsis).

Dalam kaitannya dengan tafsir atas mitos-mitos di atas, tragedi adalah penggambaran kehidupan manusia dalam keadaan yang penuh kesialan, namun tetap menjalani kehidupan berbekal pengetahuan, sekalipun harus menentang kuasa dewa. Manusia bisa hidup bermakna dengan mencintai kebijaksanaan akal pikiran (logos) dan meninggalkan mitos. Akan tetapi, apakah itu dapat memberi kebahagiaan? Setelah Aristoteles wafat, justru para filsuf masih belum mendapatkan kepastian akan kebahagiaan hidup. Sebagian dari mereka mendalami mistisisme Yahudi, sebagian lain mengunggulkan hedonisme, bahkan ada golongan yang hidup menggelandang hanya di dalam tong besi; semuanya mengira akan bahagia.

Pertanyaan tentang makna hidup ini sempat hilang ketika Kristianitas menyelimuti Barat dengan Zaman Kegelapan-nya. Pada masa itu, kehidupan memang berkait erat dengan Tuhan, tapi secara bersamaan para wakil Tuhan (Gereja) juga bertindak zalim kepada umatnya yang menentang kehendak mereka. Baru pada masa Pencerahan (Renaisans), ketika kuasa Gereja disingkirkan dan otonomi individu diteguhkan, Barat memulai kembali upaya memaknai kehidupan secara mandiri tanpa arahan kitab suci (Bibel). Dalam keadaan sekuler seperti itu, dan secara bersamaan ilmu pengetahuan berkembang pesat merambah segala bidang, ternyata makna kehidupan tak terjangkau juga.

Semangat Pencerahan hanya memandang manusia sebagai postulat-postulat belaka; homo homini lupus (serigala bagi sesamanya), homo oeconomicus (manusia dengan perhitungan untung-rugi), homo faber (pemilik daya cipta), dan yang paling parah adalah homo sapiens (makhluk yang berjalan tegak). Homo sapiens merupakan postulat paling parah sebab ia, sebagai dampak langsung dari penerimaan masyarakat Barat terhadap teori evolusi Darwin dan kemajuan ilmu-ilmu alam (biologi, fisika, kimia), memandang manusia sebagai organisme biologi-fisikal semata akibat evolusi panjang spesies primata (yang juga merupakan evolusi dari spesies dengan jaringan lebih sederhana). Karena Bibel sudah lama mereka tinggalkan dan ilmu pengetahuan sekuler merupakan satu-satunya pegangan untuk menjelaskan segala hal, ruh dan hal-hal metafisika lainnya –termasuk Tuhan- tidak lagi dibicarakan. Apa yang berkaitan dengan perasaan dan pikiran mereka kaitkan dengan gejala-gejala genetika dan kerja-kerja syaraf.

“Dalam keadaan yang sudah sekuler bahkan ateis seperti ini, manusia Barat mengukur kebahagiaan sebatas kesenangan memperoleh manfaat sosial-material dan rasa aman”

Dalam keadaan yang sudah sekuler bahkan ateis seperti ini, manusia Barat mengukur kebahagiaan sebatas kesenangan memperoleh manfaat sosial-material dan rasa aman, sepertimana yang dikemukakan kaum utilitarian. Akan tetapi kebahagiaan yang dimaksud tak juga tercapai, sehingga Albert Camus (meninggal 1960), seorang filsuf dan sastrawan Prancis, menghidupkan kembali mitos Yunani tentang Sisyphus, yakni seorang yang dikutuk dewa untuk mendorong batu ke atas gunung. Sesampainya di puncak, ia jatuhkan batu itu kembali, lalu ia turun melakukan hal yang sama sepanjang waktu. Mitos ini menggambarkan bahwa hidup itu tidak jelas, tidak masuk akal (absurd). Akan tetapi, bagi Camus, yang membuat Sisipus bertahan adalah pemaknaan dirinya atas kutukan itu, sehingga Camus mengajak manusia (Barat yang sekuler dan ateis) untuk berani memaknai hidup dengan cara masing-masing dan menghindari bunuh diri (Kaufmann, 1956: 313-315) sekalipun manusia tersadar bahwa dirinya hanyalah benda biofisikal.

Penutup

Dari pemaparan singkat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tragedi (dari kata tragodia, “lenguhan kambing”) merupakan gang buntu di ujung pencarian masyarakat Barat akan makna keberadaan dirinya. Segala sesuatu, dalam sudut pandang tragedi, adalah kesia-siaan yang dengan susah payah harus tetap dimaknai; putus cinta, pailit yang menyebabkan jatuh miskin, kecelakaan, kematian, bencana alam. Tragedi justru dianggap sebagai unsur nyata dan berpengaruh dalam hakikat manusia Barat (Al-Attas, 2010:174).

Padahal dalam Al-Qur’an -yang tidak ada keraguan di dalamnya- peristiwa-peristiwa itu bermakna musibah, yang seharusnya menyadarkan kita bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya (Q.S. Al-Baqarah: 156).

Hidup menjadi indah dan bermakna yang hakiki jika ia kembali pada alasan penciptaan, yakni beribadah kepada Allah, dengan cara yang diridhai-Nya sesuai ajaran Rasul terakhir yang mulia dan diutus-Nya bagi semesta. Wallahu a’lam.

Rujukan

Al-Attas, Syed Muhammad naquib. 2010. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN.
Aristoteles. 2007. The Complete Aristotle. Adelaide: Feedbooks.
Kaufmann, Walter. 1956. Existensialism From Dostoevsky to Sartre. New York: Meridian Books.
Plato. 2007. The Complete Plato. Adelaide: Feedbooks.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment