Idulfitri Kembali Ke Fitrah
Ilustrasi sungkeman saat Idulfitri. (Ils: Dribbble/@masrurk)

Suaramuslim.net – Allah swt berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Fitrah di ayat tersebut adalah sifat dasar ketuhanan yang keberadaannya pada diri manusia adalah sebuah kepastian. Dan bagaimana hubungannya dengan ‘fitri’ pada kalimat Idulfitri?

Ini penjelasannya:

1. Idulfitri, terdiri dari 2 kalimat; ‘id dan al fithri.

a. Kalimat “Id” derivasi dari ‘aada, ya’uudu, audan yang memiliki arti “kembali kepada keadaan semula” berbeda dengan ‘raja’a’ yang berarti kembali (tidak harus kepada keadaan semula).

So… ‘Id itu artinya kembali kepada keadaan yang semula. Orang yang mudik, bisa dikategorikan kembali kepada daerah asalnya, itu ada dalam makna ‘Id. Dan biasanya kembali kepada keadaan yang semula, pasti menyenangkan.

b. Al-Fithri. Ini kalimatnya agak unik, bisa memiliki banyak makna karena berderivasi dari “fathoro, yafthuru, fathron” yang memiliki makna asal membelah dan terbit. Kemudian bermakna turunan sbb;
Ifthor, menunda makan sampe sore (berbuka)
Futhur, mengawali makan (sarapan)
Fithri, membatalkan puasa (pagi hari, sarapan pagi atau breakfeast, break itu batal, feast itu puasa)
Fithrah, sifat bawaan dasar yang ada sejak lahir.

Dalam kaitan dengan Idulfitri, makna yang saya pilih adalah;

1. Kembali kepada kondisi awal yang sebelumnya bisa sarapan, maka idulfitri memiliki arti kembali bisa sarapan pagi, hal yang sangat menyenangkan bagi semua orang. Itulah kenapa Nabi saw meminta kita sebelum berangkat salat id untuk sarapan kurma dulu.

2. Idulfitri, bisa juga berarti kembali normal kepada kondisi awal keadaan sebelum berpuasa, namun ada tambahan perubahan setelah puasa inilah yang dimaksud “New Normal.” Kembali keadaan awal yang jauh lebih baik. Karena memang di antara makna fitrah adalah penciptaan awal yaitu masa anak anak.

So Idulfitri seolah kembali kepada sifat anak yang patut diterapkan orang dewasa, sehingga ada ungkapan seorang ulama besar Imam As Suyuthi yang kami rangkum dan tambahi sebagai berikut.

Beliau berkata; ada sifat-sifat anak kecil kalau dimiliki orang dewasa maka mereka akan menjadi kekasih-kekasih Allah. Di antara sifat anak kecil yang patut dicontoh kalangan dewasa adalah;

a. Anak kecil itu menyenangkan, kalau bisa orang dewasa pun memiliki sifat yang menyenangkan. Sehingga hidupnya banyak memberi manfaat dan kedamaian bagi lainnya.

Nabi Muhammad pernah bersabda; Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Di antara kemanfaatan yang saat ini dimunculkan adalah kedamaian. Bukankah Nabi Muhammad pernah bersabda;

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (Al-Bukhari dan Muslim).

b. Anak kecil jika bertengkar tidak ada dendam. Yang ada adalah saling memberi maaf, melupakan kesalahan masing-masing sambil bermain bareng lagi.

Coba kalau orang dewasa memiliki sifat itu, sungguh hidup akan menjadi lebih tenang. Minta maaf itu mudah, yang sulit itu adalah memberi maaf, inilah kemudian menjadi ciri puasa yang diterima, karena sudah memiliki ciri pribadi takwa.

Ada kisah menarik yang patut disimak terkait memberi maaf itu mulia.

Konon Abu Bakar as-Shiddiq pernah sangat marah dan mau memutuskan pemberian bantuan kepada sepupunya, yang bernama Misthah bin Utsatsah. Sebelumnya, sudah menjadi kebiasaan Abu Bakar memberi nafkah kepada Misthah yang miskin. Namun, suatu ketika pada saat tersebar gosip dusta (fitnah) tentang ‘Aisyah, putri beliau, Misthah punya andil dalam menukil kabar dusta tersebut. Ketika Abu Bakar sempat bersumpah untuk tidak akan memberi bantuan lagi kepada Misthah tersebut, turun firman Allah:

“Janganlah seseorang yang memiliki kelebihan dan kelapangan rezeki bersumpah untuk tidak memberi karib kerabat dan orang miskin serta muhajirin di jalan Allah.” (An-Nur: 22).

“Hendaknya kalian memaafkan dan melupakan kesalahannya. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 22).

Ketika dibacakan ayat itu Abu Bakar as-Shiddiq langsung berkata: Demi Allah aku sangat memilih Allah mengampuniku. Karena itu, Abu Bakar memaafkan Misthah dan terus melanjutkan pemberian bantuan kepada sepupunya yang miskin itu.

c. Anak kecil selalu semangat berusaha bisa mencapai harapan. Memiliki semangat kerja keras yang tanpa putus asa.

Seharusnya pasca puasa ini, punya semangat baru untuk bekerja. Dan itu terwujud dengan;

Kerja itu harus berkesinambungan. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Orientasi kepada Spritual. “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Profesionalitas, ini yang diungkap oleh Nabi Muhammad, sesungguhnya Allah mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka ia itqon (profesional) dalam pekerjaannya.” (Al-Baihaqi).

d. Anak kecil suka makan bersama. Artinya mereka selalu suka berbagi. Kalau kalangan dewasa sekarang ini seperti mereka yang selalu berbagi, itu akan mendatangkan pertolongan Tuhan Allah.

Apalagi dalam kondisi Covid-19 ini, kita butuh pertolongan-Nya, dan itu dengan berbagi kepada sesamanya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang meringankan kesusahan orang Mukmin dalam urusan dunia maka Allah akan meringankan kesusahan akhirat bagi dirinya. Barangsiapa menutupi aib orang lain, maka akan ditutupi aibnya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang sedang dilanda kesusahan maka akan dimudahkan urusannya di akhirat. Dan pertolongan Allah akan selalu turun selagi seorang hamba menolong saudaranya.”

e. Anak kecil tidak berharap rezeki, karena mereka sudah yakin ada yang memberinya.

Kalau kalangan dewasa seperti itu di masa sulit ini, hidup akan bertahan karena keyakinan akan pemberian Allah.

Allah berfirman dalam surat Al Mulk 21:

“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?

“Sesungguhnya rezeki akan mencari seorang hamba sebagaimana ajal yang akan mencarinya.” (Ibnu Hibban).

f. Anak kecil tidak mengeluh kalau sakit.

Kita kalangan dewasa sering mengeluhnya meski tidak sakit sekalipun.

g. Anak kecil kalau takut suka menangis.

Andai kita yang dewasa ini selalu menangis jika mengingat azab-Nya atas dosa-dosa kita, tentulah kita akan selalui memperbaiki diri.

3. Fitri bisa juga berarti fitrah yang berarti suci sebagai sifat dasar manusia yang dilahirkan. Dan fitrah dalam arti ini ada dua, pertama; fitrah sebagai sifat dasar kemanusiaan yaitu naluri berketuhanan dan kedua; fitrah sebagai kesucian dari dosa.

Artinya beridulfitri adalah kembali memantapkan keyakinan dasar manusia untuk selalu berketuhanan Yang Maha Esa. Dengan selalu meningkatkan terus menerus ibadah kepada-Nya, tidak boleh lemah. Terlebih di masa Covid-19 ini, saat manusia membutuhkan sandaran dalam menghadapi kehidupan ke depan, yaitu Allah. Hanya dengan kekuatan spritual ketuhanan kepada Allah lah, hidup ini bisa lebih semangat lagi.

Wallahu A’lam

Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya pada Kamis 28 Mei 2020 dalam program talkshow Dialog Motivasi Al-Qur’an.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.