Satu Dekade Suara Muslim, Menghilangkan Sekat Umat

Satu Dekade Suara Muslim, Menghilangkan Sekat Umat

Suasana siaran program Jelajah Al-Qur'an Radio Suara Muslim Surabaya. Foto: suaramuslim.net.
Suasana siaran program Jelajah Al-Qur'an Radio Suara Muslim Surabaya. Foto: suaramuslim.net.

Suaramuslim.net – Banyak orang sangat terkesan dengan siaran Radio Suara Muslim Surabaya 93,8 FM. Sebut saja misalnya Ajun Inspektur Polisi Satu (AIPTU) Marsudi, anggota Unit Binmas Polsek Taman Sidoarjo ini menyebut 99 persen isi siaran Suara Muslim sangat bermanfaat. Katanya, isi programnya sebagian besar bagus untuk bekal kehidupan. Saking cintanya, polisi yang juga mubalig itu sering mampir ke studio Suara Muslim sambil membawakan oleh-oleh untuk kru.

Itu pula yang dirasakan Bu Sulianah, warga Sawahan Baru, Surabaya. Lansia kelahiran 1941 ini hingga akhir hayatnya (wafat 16 Maret 2020) terus menyimak radio kesayangannya itu. Menurut Lilik Prastijanti, salah satu putri Bu Sulianah, radio di rumahnya tak pernah dimatikan. Bahkan radio itu masih menyiarkan Suara Muslim di hari terakhir sang ibunda.

Pengurus Aisyiyah Kecamatan Sawahan ini seakan menemukan wadah yang pas untuk menyuarakan aspirasinya dalam banyak diskusi di radio. Sebelum wafat, ibu sembilan anak ini adalah Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Aisyiyah Sawahan.

Ia sering menelepon radio untuk ikut menyampaikan gagasannya. Misalnya ketika ada rencana penutupan kompleks pelacuran di gang Dolly. Lokalisasi itu masih dalam jangkauan kepengurusan Aisyiyah Sawahan. Dan alhamdulillah, pada akhirnya Pemkot Surabaya menuntaskan penutupan kompleks maksiat itu.

Kemanfaatan program siaran Suara Muslim sangat dirasakan oleh kalangan tunanetra. Ada sejumlah tunanetra menjadikan Radio Suara Muslim ini sebagai satu-satunya media di rumahnya.

Tak hanya itu, media ini mereka jadikan guru untuk belajar Al-Qur’an. Bahkan pendengar bernama Tria, warga Lawang Malang rutin mengikuti Program Jelajah Al-Qur’an tiap harinya untuk menambah hafalan Al-Qur’annya. Sampai laporan ini ditulis, Tria sudah melakoni hafalan dua juz.

Ada pula pendengar di Banyuwangi memeluk Islam tersebab program siaran Radio Suara Muslim. Tidak hanya satu orang, namun sekeluarga. Tentu ini kado terindah bagi Suara Muslim yang saat ini genap 10 tahun.

Satu dekade perjalanan

Satu dekade bukanlah waktu yang singkat, meski juga bukan waktu yang terlalu lama. Kemanfaatan media ini tentu atas rahmat dari Allah kepada seluruh kru dan pengelolanya. Setelah melalui perjuangan dan doa, banyak yang merasakan nilai kebaikan di media ini.

Ustaz Ahmad Mudzoffar Jufri, Lc., MA, Dewan Syariah Radio Suara Muslim yang juga salah satu pendiri, menceritakan sekelumit bagaimana dramatisnya menyiapkan dan membangun media ini.

“Sejak awal, radio ini memang dirancang untuk menjadi radio Islam. Dengan menyandang nama Islam, tentu ada rasa bangga sekaligus tantangan,” ungkap lulusan Universitas Imam Ibnu Saud Madinah ini.

Tantangannya, masih kata Ustaz Mudzoffar, adalah bagaimana menerjemahkan konsep Islam yang sangat luas ini menjadi mudah diterima semua lapisan umat Islam.

“Sebuah media Islam, umumnya didirikan dengan segmen terbatas, yaitu terbatas pada gaya berislam sang pengelolanya. Dengan kata lain ‘gaya’ ormas pengelolanya atau corak jamaah pendiri media itu,” jelas Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar Rahmah Surabaya periode 2014-2020 ini.

Umumnya seperti itu, imbuhnya, maka kami tidak ingin seperti itu. Karena umat Islam itu umat yang besar. Terlalu besar untuk dikotak-kotak.

Di sinilah tantangannya. Karena memang spektrum pendengar itu juga sangat lebar, selebar umat Islam itu sendiri.

“Misalnya kami menyiarkan Savana, program yang memutar beberapa lagu reliji. Nah, pendengar yang tergolong sangat ketat kemudian menyatakan protes mengapa radio Islam menyiarkan musik. Mereka yang protes ini biasanya pendengar yang sangat aktif ikut kajian Islam,” papar pengasuh Program Dialog Akidah ini.

Sejatinya soal pilihan siaran musik, kami sudah menyeleksi sangat ketat. Misalnya musik jenis apa saja yang cocok untuk diputar, musisi yang mana yang layak dan diputar di program apa saja.

Di sisi lain, pedoman dari Komisi Penyiaran Indonesia, media seperti radio itu harus ada unsur hiburan yang mendidik dan program budaya. Selain itu, banyak pula pendengar yang minta ada siaran lagu, agar lebih menghibur.

“Inilah di antara tantangan kami sebagai media. Harus bisa menyeimbangkan kebutuhan besar umat Islam yang besar ini,” jelasnya.

Menyandang nama radio muslim atau media Islam juga membawa konsekuensi yang tak mudah.

Umumnya radio Islam itu kan diperbanyak menyiarkan ceramah, misalnya kajian Al-Qur’an atau hadis. Sedangkan Suara Muslim ini memang didesain tidak hanya menyiarkan kajian saja, tidak hanya membahas ritual ibadah seperti zikir dan mengaji saja.

Bahwa bekerja itu juga ibadah, bakti sosial juga ibadah dan bahkan oleh raga juga ibadah. Semua bidang kehidupan umat ini adalah kebutuhan umat juga yang harus dijalankan dalam bingkai Islam. Sekalipun politik, itu pun juga urusan umat Islam.

“Maka, di situlah kami ikut ambil peran memberi edukasi dan informasi yang mencerahkan,” jelas ustaz kelahiran Tuban ini.

“Jadi meskipun membawa nama Radio Islam, tidak sekadar pengajian saja. Semua aspek kehidupan harus mendapat edukasi dan pencerahan dalam bingkai Islam,” tegasnya.

“Di sisi lain, membuat program siaran kajian keislaman juga tidak mudah. Karena, ada banyak tema dan bahasan yang masih sangat sensitif di kalangan umat Indonesia. Kami sangat selektif memilih tema kajian ini. Jika tidak, maka bisa terjadi perdebatan sengit dan polemik tak berujung,” ujarnya.

Ustaz Mudzoffar dan Dewan Syariah lainnya menyadari betapa lebar lapisan umat Islam di Indonesia ini.

Di awal berdiri, tiga anggota dewan syariah (Ustaz Agung Cahyadi MA & Ustaz Muhammad Sholeh Drehem, Lc) bergantian mengisi siaran radio. Dalam perjalanannya, kemudian ada pengembangan pengasuh kajian keislaman. Nah di sinilah dewan syariah ini harus selektif. Karena, jangan sampai terlalu masuk membahas tema yang bisa memperuncing perdebatan.

“Tidak hanya menyeleksi siapa narasumbernya, kami ikut menyeleksi temanya, menyeleksi kitab yang digunakan, dan bahkan menyeleksi contoh-contoh yang disebutkan. Apalagi juga membahas tema akidah dan tema fikih. Semua demi menjaga kesatuan umat,” bebernya.

Dari banyak pertimbangan itulah, masih kata Ustaz Mudzoffar, kemudian lahirlah moto: mencerahkan, menyejukkan, dan menyatukan. Dengan tiga semangat inilah, program radio itu dirancang dan diudarakan.

Dalam perjalanannya kemudian alhamdulillah lapisan-lapisan umat itu menggemari media kita ini. Anda akan paham jika hadir dalam acara yang digelar di luar radio. Misalnya di acara kajian akbar di Masjid Baiturrozaq Rungkut Industri atau Masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel beberapa tahun lalu.

Ribuan orang hadir di sana. Ada yang datang berkelompok dengan corak ormas A, B, dan C. Secara lapisan ekonomi juga sangat beragam. Ada yang rombongan nyewa angkot, ada pakai sepeda motor dan juga ada yang bawa Toyota Alphard.

“Alhamdulillah sangat lebar spektrumnya. Maka untuk menjaga ini semua, harus penuh perjuangan dan kreativitas, dengan mengharap taufik dari Allah tentunya,” pungkasnya.

Dengan membawa tiga misi ini, Radio Suara Muslim ingin terus memberi manfaat seluas mungkin. Kini, sudah ada dua radio cabang: Radio Suara Muslim Tuban 88,7 FM dan Suara Muslim Lumajang 89.9 FM.

Selain itu, Suara Muslim Surabaya bisa disimak melalui radio streaming (www.suaramuslim.net/streaming) sehingga bisa didengarkan di luar Surabaya bahkan luar negeri.

Mitra muslim, kami mengajak Anda menjadi pendukung eksistensi syiar dakwah Suara Muslim ini.

Sampaikan kontribusi dakwah Anda melalui Bank Syariah Indonesia, kode bank 451, nomor rekening 71-99-19-19-71 atas nama Peduli Media Dakwah.

Konfirmasi kontribusi Anda melalui nomor WhatsApp Suara Muslim 081 336 777 938.

Mari ambil peluang amal jariyah ini demi kelangsungan syiar Suara Muslim, agar terus bisa hadir menerangi berbagai daerah di seluruh penjuru negeri dengan hidayah Islam, karena dakwah ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment