Home Headline Ilmu Dulu Baru Dakwah atau Dakwah Sambil Cari Ilmu

Ilmu Dulu Baru Dakwah atau Dakwah Sambil Cari Ilmu

0
Ilmu Dulu Baru Dakwah atau Dakwah Sambil Cari Ilmu
Ilustrasi muslim mengaji. (Ils: Dribbble/Nugraha Jati Utama)

Suaramuslim.net – Kehidupan bermasyarakat selalu diwarnai orang berperilaku baik dan berperilaku buruk. Karena itu, harus selalu ada orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan di tengah masyarakat. Harus ada yang peduli dan berdakwah di tengah masyarakat demi kebaikan semua orang dan lingkungan. Lalu siapa saja yang harus berdakwah? Apa yang harus disiapkan oleh pejuang kebaikan? Apakah ilmu dulu baru dakwah, atau dakwah sambil cari ilmu?

Sebagaimana melakukan pekerjaan lainnya, maka berdakwah juga harus ada persiapan. Imam Bukhari menulis di Kitab Shahih-nya: Ilmu sebelum berbuat dan berkata (al ilmu qolba amal wal qoul). Rumus hidup ini terilhami dari ayat: “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS Muhammad: 19).

Karena itu, sebelum berdakwah hendaknya para pejuang kebaikan harus berilmu. Harus paham mana tertib ilmu. Bisa memetakan mana ilmu yang fardu ain (ilmu wajib dipahami tiap individu muslim) dan mana yang fardu kifayah (ilmu wajib yang boleh dipahami sebagian muslim saja).

Yang fardu ain itu seperti ilmu tentang rukun iman dan rukun Islam. Ilmu fardu ain ini mutlak dimiliki setiap muslim. Maka para dai atau muslim itu wajib memahami dan mampu menjelaskan kepada orang-orang di sekitarnya nanti.

Sedangkan, ilmu yang fardu kifayah ilmu yang boleh dikuasai salah satu atau beberapa orang muslim saja. Tak harus setiap muslim menguasainya. Misalnya ilmu tentang air, listrik, kesehatan, dll.

Lalu para dai juga harus punya pemahaman yang baik tentang etika berdakwah. Karena etika atau akhlak merupakan ‘modal’ dasar berdakwah. Orang yang berakhlak mulia lebih dapat diterima, bisa perkataannya dan demikian juga perbuatannya.

Maka kesimpulannya, siapa saja yang terpanggil untuk berdakwah hendaknya mempersiapkan diri dengan ilmu. Karena ada pepatah bijak: orang yang tidak memiliki maka tak akan mampu memberi. Maknanya, jika para dai tak punya ilmu dan tidak ada bekal yang memadai maka dia tidak akan bisa memberi apapun kepada masyarakat. Pertanyaan apakah ilmu dulu baru dakwah, atau dakwah sambil cari ilmu? Maka jawabannya ilmu dulu baru dakwah. Ilmu yang sudah kamu amalkan, boleh diajarkan.

Baca Juga :  Hassan Al-Banna dan Revolusi Dakwah Kedai Kopi

Sambil terus menambah ilmu dan kepahaman, kaum muslim tetap bisa berdakwah tentu dengan kemampuan yang ada. Rasulullah saw. bersabda “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR Bukhari no. 3461). Yang dimaksud dengan hadis ini adalah sampaikan kalimat yang bermanfaat, bisa jadi dari ayat Al Quran atau hadis (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 360). Sehingga jangan berhenti menyebarkan kebaikan.

Maka, sambil terus menambah ilmu dan kepahaman, para dai dan penyeru kebaikan harus menyiapkan beberapa hal ini:

  1. Keteladanan

Para dai adalah penerus tugas kenabian. Apa itu tugas nabi? Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak” (HR Al-Baihaqi). Karena itu, para dai adalah teladan bagi akhlak yang mulia.

Allah Swt menjelaskan, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab 21).

Bahkan kemuliaan akhlak dai adalah dakwah itu sendiri. Dengan akhlak yang mulia itu, orang di sekitar dai akan merasakannya semerbak akhlak mulia itu. Dai itu ibarat bunga indah yang harum sehingga banyak lebah menghampirinya dan menghisap sari patinya dan menghasilkan madu. Sebagaimana Allah memuji akhlak Rasululllah, “Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qalam 4).

  1. Kesiapan ilmu dan pemahaman

Siapa yang tidak memiliki, maka dia tak akan mampu memberi. Begitu pepatah bijak. Maka para dai itu harus lebih paham terhadap mana terangnya Islam dan mana gelapnya kejahiliyahan. Mana baik dan mana buruk. Mana halal dan mana haram. Dan para dai harus lebih paham daripada masyarakat sekitarnya. Sehingga dia memberi contoh dan mengajarkan kepada mereka.

Allah memerintahkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An Nahl 125).

Baca Juga :  Dewan Dakwah Kirim 67 Dai ke Pelosok Negeri Selama Bulan Ramadhan

Kata hikmah ini punya beragam makna. Menurut banyak sumber, hikmah bisa berarti adil. Dia bisa menempatkan sesuatu pada porsi dan kadarnya. Dia juga bisa bermakna ilmu. Maka orang yang berilmu itu adalah orang yang mampu memahami hakikat sesuatu. Hikmah juga punya arti nubuwwah. Karena itu Allah berfirman bahwa di antara tugas Rasulullah Muhammad saw itu membacakan Kitabullah serta mengajarkan hikmah (QS Al Baqarah 129). Inilah yang disebut dengan nubuwwah.

  1. Kesiapan kesabaran

Mengapa harus berdakwah? Karena berdakwah adalah perbuatan paling baik di hadapan Allah.  “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fushilat 33).

Dan hanya orang yang bersabar sajalah yang mampu ambil bagian di jalan dakwah itu. Karena yang dihadapi adalah manusia dengan berbagai macam karakternya. Tidak selalu ajakan kebaikan para dai itu diterima baik pula. Banyak pula penolakan dan bahkan permusuhan. Karena memang antara tabiat buruk itu selalu ada dan di situ juga ada bujuk rayu syetan.

Allah memberi penjelasan, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu setan-setan manusia dan jin sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu” (QS Al An’am 112).

  1. Keikhlasan

Para dai itu hanya meminta upah atas dakwahnya kepada Allah. Itulah puncak keikhlasan. Lima nabi mulia berkata kepada kaumnya, “Upahku hanya dari Allah.” Mereka adalah Nuh, Hud, Saleh, Syuaib, dan Luth a.s. “Nuh berkata, ‘Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah,’” (QS Hud ayat 29). Silakan Anda cek isi surat Hud, Asy Syuara, Yunus, Al An’am dan Al Furqon.

Di beberapa surat yang lain, Ibrahim dan Musa a.s. mengungkapkan makna yang sama. Seorang lelaki saleh, Habib al-Najjar mengungkapkan pengertian tersebut dalam surah Yâsîn saat dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para utusan itu. Ikutilah orang yang tidak meminta upah kepada kalian dan mendapat petunjuk.” (QS Yasin 21).

Baca Juga :  Ayo Bantu Berdakwah dengan Cara Kids Jaman Now!

Para dai tidak boleh meminta upah dan tidak boleh menuntut sesuatu. Namun, mereka boleh mengambil secukupnya untuk anak-anak mereka. Dalam hal ini mengacu kepada ayat, “Dan para amil (petugas/pengurus)-nya” (QS At Taubah 60).

Karena itu, tidak ada larangan bagi dai untuk mengambil secukupnya untuk hidup mereka. Namun, pada dasarnya seorang pejuang dakwah tidak boleh menuntut upah, tidak boleh mengulurkan tangan meminta-minta kepada orang, atau mengharapkan sesuatu dari mereka. Ini adalah salah satu sifat penting bagi mereka yang ingin menapaki jalan terbaik di hadapan Allah.

  1. Kuatnya ibadah dan munajat kepada Allah

Jalan dakwah memang jalan yang paling mulia di hadapan Allah. Namun harus dipahami juga, jalan dakwah bukanlah seperti jalan yang mulus. Inilah jalan yang penuh rintangan. Sejak pertama kali Iblis menyatakan permusuhan dengan Adam dan keturunannya, maka sejak itu pula Iblis dan para pengikutnya akan menghadang sembari mengajak manusia tersesat dari jalan Tuhan.

Karena itu, kekuatan para dai itu hanya dari Allah saja. Tak ada yang lain. Karena misi yang diemban adalah kalimat-kalimat dari langit. Maka kedekatan para pelaku dakwah dengan Allah menjadi sumber kekuatan pertama dan utama.

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari walau sebagian, setengahnya, atau kurang sedikit dari itu, atau luangkan lebih dari itu; juga pahamilah Al-Quran secara saksama, sungguh Kami akan menghadirkan perkataan yang berbobot kepadamu. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan (Al Quran) di waktu itu lebih berkesan. Sungguh kamu pada masa siang hari mengurus berbagai kesibukan. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik” (QS Al Muzammil 1-10).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.